04 April 2008

Saatnya Orangtua Selektif Memilih Acara TV

Dari sisi usia, anak-anak dan remaja banyak menonton TV terutama antara pukul 06-00 hingga 17.00. Sementara, saat jam tayang utama (prime time), anak-anak memimpin kepenontonan TV bersama pemirsa dewasa usia 50 tahun ke atas. Pada jam tayang dengan potensi pemirsa terbesar ini, pemirsa produktif usia 20 sampai 29 tahun adalah yang paling rendah mengkonsumsi TV. Ibu rumah tangga dan pelajar menjadi kelompok yang paling banyak menonton TV hampir sepanjang hari. (Survei AGB Nielsen Media Research)

TONTONAN yang disajikan dalam berbagai program acara TV sangat berpengaruh pada anak. Efeknya anak bisa terkultivasi atau terpengaruh oleh tayangan-tayangan yang ditontonnya. Penelitian mengenai dampak TV terhadap otak anak menyebutkan bahwa menonton TV dapat menghambat perkembangan bicara, kemampuan membaca verbal maupun memahami dan mengekspresikan lewat tulisan, meningkatkan agresivitas dan kekerasan dalam usia 3-10 tahun, tidak bisa membedakan antara yang nyata dan tidak nyata, lebih cepat matang secara seksual serta kegemukan.

Untuk menyelamatkan anak-anak dari pengaruh buruk tayangan TV, sudah saatnya orangtua ikut serta mengarahkan anak dalam memilih tayangan TV yang layak tonton. Orangtua harus tahu dulu jenis acara yang disukai anaknya, lalu ikut menonton. Jika orangtua melihat ada materi-materi yang tidak cocok disaksikan anak-anak, maka dia harus menyampaikan itu kepada anak-anaknya.

Saat ini banyak program acara TV yang telah bergeser dari fungsinya sebagai media informasi dan edukasi karena didominasi acara hiburan yang tidak edukatif. Hampir setiap hari, stasiun TV bersaing menayangkan sinetron maupun film yang isi ceritanya dibumbuhi 'aroma' misteri, mistik, seks dan kekerasan. Bahkan, sinetron remaja yang banyak ditonton anak-anak sekolah pun seakan lepas sensor. Adegan seronok, gaya hidup metropolis dan etika pergaulan anak sekolah yang jauh dari etika ketimuran.

Dengan banyaknya bukti betapa TV bisa memberi beragam dampak buruk, banyak keluarga yang kini sudah mulai membatasi acara TV yang boleh ditonton anak-anaknya. Ibu Ida, tetangga saya mengaku meski di rumah berlangganan TV kabel, tetapi ia tetap selektif memilih program acara. Linda, anak tunggalnya yang masih berusia 4 tahun diarahkan menonton acara TV untuk anak, seperti kartun dan acara-acara yang bersifat edukatif lainnya. Sejak kecil, Ana sudah membatasi waktu menonton TV untuk anak-anaknya yakni tidak lebih dari 30 menit sehari.

"Kalau kita tidak selektif dan membatasi anak nonton TV, mungkin anak saya bisa seharian berada di depan TV. Banyangin aja selama 24 jam non stop berbagai stasiun TV berlomba menayangkan acara yang menarik penonton, khususnya anak-anak," ujar Ibu satu anak ini. Mungkin yang dirasakan Ibu Ida tidak berbeda yang dialami berjuta ibu di Indonesia.

Bukan hal mudah untuk lebih selektif memilih program tayangan televisi yang layak ditonton oleh anak-anak. Selama ini, relatif tidak banyak program televisi untuk anak-anak yang cukup mendidik. Kalaupun ada kemasannya, tidak mampu membuat anak duduk dan menontonnya. Sementara, televisi berlangganan yang menawarkan pilihan-pilihan program yang agak berbeda, masih dianggap terlalu mahal biaya berlangganannya.

Menghentikan kebiasaan menonton televisi pada anak-anak memang perlu keberanian orangtua. Mereka (para orangtua) tidak bisa begitu saja melarang anaknya menonton televisi tanpa memberi contoh, bahwa dia sendiri bersedia menghentikan kebiasaan menonton. Persoalan kecanduan masyarakat terhadap televisi juga merupakan cerminan ketidakmampuan para pengelola pemukiman untuk menyediakan aktivitas di luar rumah bagi warganya.

Ketidakmampuan ini juga karena lingkungan sosial saat ini tidak dapat memberikan jaminan rasa aman ketika berinteraksi di luar rumah. Perasaan tidak aman dari para orangtua yang akhirnya menjerumuskan anak-anak kepada kebiasaan menonton TV.

Komunikasi di antara masyarakat sendiri tidak lagi cair. Kita sekarang lebih bisa berempati pada penderitaan orang-orang yang kita lihat di TV daripada tetangga sebelah rumah sendiri. Karena ruang di mana kita dengan tetangga sekitar rumah bisa bertemu dan berkegiatan bersama semakin tidak ada. Makanya, masyarakat kita sekarang mudah tersinggung karena ruang-ruang yang bisa mencairkan kebekuan komunikasi itu semakin tidak ada. Kondisi ini yang kemudian membuat TV masuk menggantikan kebutuhan.

Persoalan kebiasaan menonton TV, yang telah menjadi gaya hidup ini, ternyata bukan semata-mata membatasi tontonan dan dampaknya terhadap anak-anak, namun keberanian untuk membuka sekat-sekat kebuntuan komunikasi dalam lingkungan keluarga, menjadi persoalan yang tidak kalah penting untuk diselesaikan.

Alihkan ke Aktivitas Lain

Bagi anak-anak tetap perlu bimbingan orangtua saat akan menonton TV, sehingga dia bisa memahami dan mengambil manfaatnya. Pemerhati media, Nina M Armando mengungkapkan, media TV memang sangat berpengaruh pada perkembangan anak-anak. Bahkan menurut dia, media TV banyak yang bermasalah dengan muatannya, yakni mengandung muatan seks, kekerasan, bahasa kasar dan juga konsumtif. Orangtua harus lebih selektif dalam memilih tayangan yang cocok bagi anak-anak. Apalagi sekarang ini sudah tersedia layanan TV kabel yang bisa mengakses puluhan stasiun TV dari dalam maupun luar negeri. TV telah menghapus batas-batas suatu wilayah yang tak mengenal ruang dan waktu.

Meski demikian, melarang anak menonton TV tidak akan efektif jika para orangtua tidak memberikan alternatif kegiatan yang bisa dilakukan. Ada banyak kegiatan yang bisa dilakukan sebagai pengganti waktu menonton TV. Antara lain berjalan-jalan, ke perpustakaan, bersepeda, bermain, berolah raga, membantu ibu di dapur, dan banyak lagi. Jika orangtua tidak bisa terus menerus melakukan pendampingan kepada anak, ada baiknya orangtua juga memberikan informasi dan pelatihan kepada pembantu dan pengasuh anak di rumah tentang jadwal anak boleh menonton TV.

Dengan berkurangnya waktu menonton TV, anak akan mempunyai kesempatan mempelajari dan mengalami kegiatan-kegiatan bermain yang dapat meningkatkan kecerdasan dan kemampuan motoriknya. Untuk menciptakan generasi anak yang lebih sehat, mari kita mulai melakukan seleksi, pengaturan dan pembatasan program TV mana saja yang layak ditonton anak-anak kita. (*)Oleh: Sumarsono 26-11-2007

http://www.tribunkaltim.com/Hotline/Saatnya-Orangtua-Selektif-Memilih-Acara-TV.html

1 komentar:

donnyyonatan mengatakan...

Bimbingan Orang Tua, pengertiannya masih tak jelas. Apa yang harus dibimbing oleh orang tua? Jalan cerita / latar belakang suatu film (misalkan untuk film yang disadur dari karya sastra asing)? Karakter tokoh film ? Ataukah pesan dari film / acara tersebut ?