Tampilkan postingan dengan label porno. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label porno. Tampilkan semua postingan

26 Mei 2008

Kontroversi Komedi Seks: Judul Provokatif Memancing Penonton * Selalu Berhasil Menarik Penonton TV

Komedi seks bukan genre baru dalam sejarah perfilman Indonesia. Sejak trio warkop, genre ini memang ceruk yang subur. Komedi berbumbu seks bisa dikenali dengan mudah lewat judul. Berkonotasi, provokatif, jika perlu menyulut kontroversi.

Fenomena ini mengingatkan orang pada film -film seks era-90-an yang menjual jual paha, dada, dan ranjang. Ulah produser film itu semula diklaim sebagai upaya mengatasi keterpurukan bioskop Indonesia. Tak heran muncul judul-judul seperti, Bebas Bercinta, Gairah Terlarang, Gejolak Nafsu, Ranjang Cinta, atau Permainan Erotik. Namun akhirnya, judul-judul itu tidak mampu menyelamatkan kondisi perfilman dari keterpurukan panjang.

Lantas benarkah judul menjadi kiat andalan merebut penonton, hingga harus provokatif? Malahan belum reda polemik ML, Anda Puas Saya Loyo yang memasang artis Andi Soraya, Komeng, Ruben Onsu malah siap meluncur. Jadi patut diduga, sejumlah rumah produksi boleh jadi menganggap judul provokatif sebagai jurus ampuh. Namun malang buat Indika Entertainment. Alih-alih menanggung untung, mereka malah buntung. Film ML yang diproduseri Shankar RS itu bukan hanya batal tayang, tapi juga menuai protes dan polemik.

"Demo ini bukan hanya untuk film ML saja. Bukan film ML aja yang kami protes, kami kecam. Tapi film-film sebelumnya seperti BCG (Buruan Cium Gue, Red), Virgin, Arisan dan Quickie Express. Film-film itu bukanlah film yang mendidik," ujar Koordinator demo mahasiswa tersebut, Ivan Ahda yang mengaku dari Universitas Indonesia, saat ditemui di Gedung LSF, Jakarta, pertengahan Mei lalu.

Di Padang, film ML pun menuai protes meskipun belum pernah tayang. Protes itu pun akhirnya berimbas pula pada kredibilitas Lembaga Sensor Film (LSF). Tetapi urusan film porno bukan hanya beban LSF. Peredaran film porno yang marak terjual bebas adalah juga tanggung jawab bersama di samping aparat kepolisian.

Ketua LSF Titi Said mengaku telah melakukan penyensoran terhadap film ML. Bahkan, film tersebut sudah mengalami tujuh kali revisi sejak bulan April 2008. Selama proses itu, LSF telah memotong beberapa adegan, dengan durasi sepanjang 15 menit. Penghapusan sejumlah adegan itu didasarkan ketentuan Peraturan Pemerintah Nomor 7/1994 tentang LSF pasal 19.

"Adegan yang tidak sesuai dengan peraturannya dipotong. Adegan ciuman yang sampai melintir-melintir dipotong, yang ciuman biasa tidak. Adegan di atas ranjang yang kurang senonoh sudah dihapus," ujar Titi.

Setelah kisah kocak gigolo dalam Quickie Express memetik sukses, genre komedi seks kian marak. Judul -judul pun kian bervariasi dan makin berani. Sebut saja film XL (Extra Large); Antara Aku, Kau dan Mak Erot atau film Namaku Dick. Kisah film XL sudah dapat ditebak dari judulnya, yakni tidak jauh dari urusan membesarkan alat vital.

Ada juga film Namaku Dick yang dibintangi Tora Sudiro -juga membintangi Quickie Express-, berkisah tentang seorang laki-laki yang bisa bercakap-cakap dengan alat kelaminnya. Dalam bahasa Inggris slang, "dick" adalah sebutan untuk alat kelamin pria. Lalu menyusulkan ML yang tak bisa dipungkiri berkonotasi "Making Love", meskipun di poster-posternya diperjelas sebagai singkatan "Mau Lagi".

"Film ini sebenarnya adalah kampanye bahaya seks bebas yang saat ini menjadi gaya hidup masyarakat kita. Dari film ini, bisa dilihat bahwa kita tidak bisa hidup bebas dan liar karena itu berbahaya," ujar Produser Indika Film, Shankar RS.

Kontroversi film ML, kata Shankar, mulai berkembang sejak adanya kebocoran cuplikan film tersebut di internet. Kebocoran itu memicu munculnya isu negatif terkait film tersebut. ML justru sarat dengan nilai edukasi yang mengampanyekan bahaya seks bebas di kalangan remaja.

Pernyataan Shankar boleh jadi benar. Tetapi Indika Film tak secerdik Multivision Plus Pictures (MVP) dengan film DO (Drop Out) dengan tagline "Asik Terus Sampai Mampus". Sekalipun memasang aktris molek Titi Kamal, DO juga menetralisir dengan sosok Dr Boyke, yang dikenal kalangan medis sebagai pakar seksologi. MVP pun memasang label "sex education" , baik setiap di poster promo.

Boleh jadi, genre komedi seks dilirik produser sebagai lahan menggiurkan setelah horor dan roman. Di Amerika, genre ini pun berkembang dengan film-film seperti American Pie, National Lampoon, dan Dorm Daze. Film komedi seks itu konon cukup laris di Hollywood, tapi tentu tidak bisa tayang di Indonesia.

Sebelum kasus ML muncul, tahun 2004 lalu, film Buruan Cium Gue juga bermasalah karena bersinggungan dengan unsur seks. Sebagian besar ulama, seperti KH Abdullah Gymnastiar, menyebutkan judul film ini seakan-akan persuasi untuk mengajak remaja untuk berzina.

Sebuah judul memang jadi kemasan utama sebuah film, selain cerita, aktor dan sutradara. Judul adalah yang pertama kali dilihat calon penonton. Alhasil satu judul film tidak ditentukan oleh penulis skenario atau sutradara, produser cenderung lebih banyak memiliki porsi yang besar.

Judul dan materi film memang jadi sebuah kesatuan yang tidak terpisahkan. Tetapi di Indonesia, pakem itu tidak selamanya berlaku. Kadang film dengan judul "mengundang" visualnya justru tidak ada apa-apa, sedangkan judul yang biasa saja tetapi isinya sarat dengan visual vulgar. Jadi sulit menerka kualitas film Indonesia hanya dengan membaca judulnya saja.

Sutradara Garin Nugroho menyebutkan menampilkan gambar-gambar yang vulgar bukan sebuah solusi untuk menggiatkan kondisi perfilman tanah air.

"Sejak dulu, (cerita) seks yang dangkal dan agama yang simbolik memang ampuh untuk mengembalikan kondisi perfilman tanah air. Tapi itu bukan solusi. Itu adalah jalan pintas," sebutnya.

Dibanding dengan film-film komedi seks zaman Nya Abbas Akup, Garin menilai film-film saat ini sangat jauh tertinggal kualitasnya. Dahulu, Nya Abbas Akup memiliki sesuatu yang ingin disampaikan, tapi kalau sekarang hanya sekedar jualan seks saja, sebutnya.

"Hal ini menjadi sebuah ironi. Di tengah majunya film Indonesia dan era keterbukaan yang luas, tetapi film-film kita tidak memiliki gaya yang baru," tambah Garin.

Namun trik menarik perhatian dengan menyisipkan unsur seks di dalam sebuah film (judul dan materi) adalah hal yang klasik. Trik ini bisa masuk di semua genre film, baik drama, aksi, petualangan, atau horor. Kecuali saja film anak-anak tentunya.

Dalam genre komedi, unsur seks kadang kala menjadi menu utama. Guyonan yang nyerempet-nyerempet urusan seks menjadi sebuah senjata yang terbukti ampuh. Hal ini pernah dibuktikan dengan keunggulan trio Warkop DKI, Dono Kasino, dan Indro dalam kemasan cerita film-film mereka.

Contoh lain adalah film Inem Pelayan Sexy (1976) yang disutradarai oleh Nya Abbas Akup. Film ini memperoleh Piala Antemas dalam ajang FFI 1978 karena berhasil menjadi film terlaris pada 1977 dengan 371.369 penonton. Bahkan film ini dibuat sekuelnya lebih dari dua kali.

Saat itu, trik untuk menarik perhatian penonton ini pun diakui oleh sutradara Wim Umboh seperti dikutip oleh Majalah Tempo edisi 22 Juni 1989 lalu. "Masuknya seks hanyalah untuk menarik penonton agar suka datang melihat film-film kita," katanya.

Sutradara Nyak Abbas Akub pun menyebutkan film seks dan sadisme digandrungi oleh penonton saat itu. Menurutnya sudah terjadi pergeseran nilai-nilai di masyarakat. "Akan berkembang terus karena setiap kurun waktu akan ada nilai-nilainya sendiri," katanya.

Terlebih, menurut Akup, saat itu Indonesia tengah mendapat serangan film impor yang semakin banyak, sehingga film-film nasional harus mencari jalan agar tetap survive.

Sekilas kondisi yang disebutkan Akup hampir mirip dengan kondisi belakangan ini. Film Indonesia baru saja bangkit dari tidurnya selama lebih satu dekade. Serangan film impor pun tidak kalah sengitnya dengan masa Nya Abbas Akup, apakah solusi yang diambil akan sama dengan zaman itu.

Deddy Mizwar, pemain dan sutradara Nagabonar Jadi 2, pernah menyebutkan bahwa film itu adalah bukti jika film yang sukses di pasaran dan menang di festival bisa dibuat tanpa harus ada adegan cium-ciuman atau buka-bukaan. [SP/ Kurniadi & Unggul Wirawan]



Dari Warung Kopi sampai Anda Puas Saya Loyo

Film-film dengan susupan materi seks memang bukan cerita baru. Sejak lama materi seks jadi senjata unggulan untuk mendongkrak raihan penonton. Dahulu, ada film Antara Bumi dan Langit (1950) karya sutradara Dr Hyung dan penulis skenario Armijn Pane. JB Kristanto dalam Katalog Film Indonesia menyebutkan film ini adalah film Indonesia pertama yang menyisipkan adegan ciuman. Saat itu film ini sempat menuai protes hingga akhirnya judulnya diubah judulnya jadi Frieda.

Pada era '70-an muncul judul-judul seperti Ratu Ular (1972), Tiada Jalan Lain (1972), Bumi Makin Panas (1973), Pengakuan Seorang Perempuan (1974), Rahasia Perawan (1975), Ciuman Beracun (1976), Gadis Panggilan (1976), Ganasnya Nafsu (1976), Tragedi Tante Sex (1976) dan Tinggal Bersama (1977).

Judul-judul itu pun sempat diprotes hingga dilarang diputar di suatu daerah. Seperti film Bumi Makin Panas yang dilarang diputar di bioskop-bioskop di Cianjur, Jawa Barat. Film itu juga ditolak lembaga sensor Malaysia. Ada juga produser-produser mencari jalan tengah dengan mengubah judul dan merevisi beberapa adegan. Seperti film Sex Maniac (1976) berubah judulnya menjadi Ciuman Beracun, film Tante Sex yang berganti Tante Sex dan Semen Leven yang berubah jadi Tinggal Bersama.

Namun catatan JB Kristanto menyebutkan di era '70 an, film Bernafas dalam Lumpur (1970) yang dibintangi oleh Suzanna adalah film Indonesia pertama yang menonjolkan seks dan dialog-dialog kasar "berbau" seks. Film ini cukup heboh hingga dilarang di Bandung, tetapi cukup laris di pasaran hingga dibuat trilogi.

Di era '80 an semarak pameran paha atau dada tidak surut. Era ini pun memunculkan bintang-bintang panas seperti Enny Beatrick, dan Eva Arnaz. Di akhir 1980-an, beredar film yang kontroversial, yakni Pembalasan Ratu Laut Selatan (1989) yang dibintangi Yurike Prastica.

Dekade '90-an adegan seks di layar lebar semakin menggeliat. Hal ini terlihat dari judul-judul film yang digunakan. Pada era itu judul film yang menggunakan kata "gairah" tercatat ada 13 judul, seperti Gairah dan Dosa, Gairah 100%, Gairah Binal, Gairah malam, Gairah Malam Yang kedua, Gairah Malam Yang Ketiga, Gairah Membara, Gairah Perawan dan sebagainya.

Di era ini pun muncul bintang-bintang seperti Inneke Koesherawati, Malvin Shayna, Sally Marcellina, Windy Chindyana, Febby Lawrence, Gitty Srinita, Leila Anggraini, Taffana Dewi. Sementara aktor yang melejit adalah Rhenaldi dan Ibra Azhari. Materi seks di era ini tercatat lebih "berani" dari era-era sebelumnya. Inneke Koesherawati dan Malfin Shayna harus melakukan adegan lesbian di kolam renang dalam film Pergaulan Metropolis (1984).

Film-film itu mungkin memiliki muatan seks yang terlalu vulgar. Ada juga contoh film yang menyisipi seks dengan halus dan berbungkus komedi seperti yang dilakukan trio Warung Kopi (Warkop DKI) dalam film-filmnya. bahkan beberapa judul yang digunakan Warkop juga sering kali berkonotasi "nyerempet", seperti Maju Kena, Mundur Kena, atau Atas Boleh, Bawah Boleh. Menariknya film-film Warkop justru selalu berhasil menarik pemirsa TV pada saat Idul Fitri.

Melihat fenomena seks di layar lebar, memang wajar sekali jika orangtua saat ini sudah patut khawatir menjaga anak-anak mereka dari tontonan yang negatif. [SP/Kurniadi]

http://www.suarapembaruan.com/News/2008/05/25/index.html

17 Mei 2008

Dada, Paha, dan Makian di TV Kita

Budi Suwarna

Adegan seronok, kekerasan, atau makian kasar berseliweran di sejumlah sinetron, infotainment, dan variety show yang ditayangkan beberapa televisi nasional. Inikah wajah televisi kita?

Stasiun televisi kembali menjadi sorotan. Setelah tahun lalu tersandung tayangan SmackDown, kini sejumlah stasiun televisi tersandung adegan seks, kekerasan, atau makian kasar.

Sandungan serius ini datang dari Komisi Penyiaran Indonesia (KPI). KPI baru-baru ini memasalahkan 13 program yang dianggap mengandung kekerasan, seks, atau pelecehan (lihat tabel). Tidak hanya itu. KPI juga melayangkan surat teguran ke tujuh televisi yang menayangkan program-program tersebut.

Koordinator Bidang Isi Siaran KPI Yazirwan Uyun, Rabu (14/5), mengatakan, jika pihak stasiun televisi tidak mengindahkan teguran itu, KPI akan melayangkan surat teguran kedua. "Jika tidak ada perubahan, kami akan meminta tayangan itu dihentikan," ujar Yazirwan.

Yazirwan menjelaskan, dasar yang digunakan untuk memasalahkan ke-13 program itu adalah Undang Undang Nomor 32 Tahun 2002 tentang Penyiaran. Dasar hukum lainnya adalah Pedoman Perilaku Penyiaran dan Standar Program Siaran (P3SPS) yang telah disepakati semua stasiun televisi ketika mereka mendapatkan izin siaran. Aturan di atas antara lain melarang stasiun televisi menayangkan gambar orang telanjang, adegan hubungan intim, ciuman dengan hasrat seksual, kekerasan, atau makian yang merendahkan orang lain.

Sekarang, mari kita lihat adegan seperti apa yang dianggap mengandung kekerasan, seks, atau pelecehan itu. Silet, kata KPI, dipersoalkan karena pada 4 April 2008 pukul 11.00 menayangkan gambar payudara perempuan yang tidak ditutupi. Selain itu, acara infotainment itu menayangkan gambar perempuan dan laki-laki yang tengah berciuman bibir. Insert dan I Gosip Siang juga tersandung gambar-gambar syur.

Sinetron Cinta Bunga dianggap KPI menampilkan makian yang merendahkan pada episode 1 April 2008. Makian tersebut berbunyi, "Gembel gak tau diri, kampungan." Pelanggaran serupa terjadi di sinetron Rubiah pada 11 April 2008. Sinetron itu menampilkan adegan seorang laki-laki memaki perempuan dengan kalimat, "Ke mana lu bawa ibu lu yang gembel itu?" (Rupanya, kedua sinetron ini senang menggunakan kata-kata gembel).

Sinetron anak Si Entong pada episode 4 April 2008 memuat adegan seorang laki-laki mengumpat pada seorang perempuan dengan kalimat yang dianggap KPI merendahkan. Kalimat itu berbunyi, "Sini lu, dasar jande kegatelan."

Sinetron Mister Bego yang ditayangkan pada 4 April 2008 dianggap menampilkan kekerasan fisik berupa adegan menampar dan mencekik secara eksplisit. Sinetron itu juga menampilkan adegan ciuman dan makian kasar seperti, "Otak udang!"

Super Seleb Show, kontes menyanyi yang ditayangkan Indosiar, juga dianggap mengandung olok-olok yang merendahkan. Pada tayangan 1 Mei 2008, misalnya, ada celetukan salah seorang pembawa acara acara yang berbunyi, "Udah jelek, bego lagi."

Bisa menerima

Sejumlah pengelola stasiun televisi secara terpisah mengatakan bisa menerima teguran KPI. Corporate Secretary TPI Wijaya Kusuma Soebroto, Kamis (15/5), mengatakan, pihaknya sangat serius menyikapi teguran KPI. Oleh karena itu, dia berharap KPI memberitahukan secara detail mana saja adegan yang dianggap melanggar. Dengan begitu, pihak TPI mudah memperbaiki. Dia menilai selama ini di antara komisioner KPI sendiri sering kali berbeda dalam menafsir adegan mana yang melanggar dan mana yang tidak.

Zoraya Perucha, Head of Corporate Communication ANTV, Kamis, berjanji pihaknya akan menyaring lebih ketat program-program yang ditayangkan ANTV. Pernyataan senada disampaikan Humas Indosiar Gufroni Sakaril, Jumat (16/5). Direktur Utama Trans TV Ishadi SK, Jumat, mengatakan, pihaknya telah membalas surat teguran KPI. Namun, dia tidak menjelaskan apa isi surat balasan dari Trans TV.

Yazirwan mengatakan, di luar ke-13 program itu, masih ada sejumlah tayangan yang juga berpotensi melanggar aturan. Namun, dia buru-buru menambahkan bahwa secara umum acara yang mendidik masih lebih banyak dari acara yang bermasalah.

Begitulah televisi. "Kotak ajaib" itu dapat menghadirkan apa pun yang terjadi di dunia ke ruang keluarga kita. TV tidak hanya menghadirkan informasi yang mendidik, tetapi juga citra kekerasan dan seks, baik yang eksplisit maupun simbolik. Apa mau dikata.

http://www.kompas.com/kompascetak.php/read/xml/2008/05/18/01261480/dada.paha.dan.makian.di.tv.kita

02 Mei 2008

Dewi Persik Trauma

Kompas.com, Sabtu, 3/5/2008 

Paska cobaan yang menimpanya, Dewi Persik kini terlihat kian berhati - hati dalam bersikap dan mengucapkan kata. Hal tersebut terbukti ketika dijumpai usai mengisi sebuah acara dangdut di salah satu stasiun televisi swasta yang terdapat di kawasan Cibubur, Jakarta Timur.

Dewi yang kala itu masih menggunakan kostum berwarna keemasan beserta aksesoris warna senada, tanpa bermaksud menyinggung tim liputan yang ada, menanyakan wawancara itu seputar hal apa? Dewi tak ingin mengungkit luka lamanya atas pencekalan yang terjadi.

Sambil berjalan menuju ruang kostum dan tertunduk, Dewi pun menolak halus memberikan komentar jika yang ingin ditanyakan adalah kisah lamanya. Seraya tersenyum, ia mengatakan kalau sekarang sudah mulai banyak rezeki. Dewi pun berjanji akan meluangkan waktunya, apabila ia sudah berganti pakaian.(SELEBTV)

19 April 2008

Dewi Persik Anggap Dirinya Penuh Dosa

JAKARTA - Setelah dicekal dan ditelepon Menpora, hati Dewi Persik mulai tergugah. Dia mengakui sebagai iblis dan tempat penuh dosa.

"Saya Dewi Persik tempatnya dosa. Saya mohon maaf sebesar-besarnya kalau saya negatif. Saya tetap terima kritik dari siapa pun. Orang lain mau bilang apa, terserah. Saya berusaha yang terbaik," kata Persik di food court Blok M Plaza, Jakarta Selatan, Selasa (15/4/2008).

Ucapan Persik itu dilontarkan usai menonton film perdananya, Tali Pocong Perawan. Di film tersebut Dewi banyak mengenakan hot pants (celana pendek) dan berbaju dengan belahan dada rendah. Tak hanya itu, film banyak dibumbui adegan ciuman bibir dengan Ibnu Jamil.

"Film sudah dibuat jauh-jauh hari sebelum ada pencekalan. Saya terima peran ini karena penuh tantangan. Bisa tidak, mereka yang pro dan kontra dengan saya kalian wawancara? Anggap saja saya iblis," kata Persik ceplas-ceplos. (ang)

http://celebrity.okezone.com/index.php/ReadStory/2008/04/15/34/100819/dewi-persik-anggap-dirinya-iblis 

Menegpora: Goyang Dewi Persik Kebablasan

YOGYAKARTA, okezone.com - Menteri Negara Pemuda Olahraga (Menegpora) Adhyaksa Dault menegaskan, goyangan pedangdut Dewi Persik sudah kebablasan dan melampaui batas-batas norma kepatutan di masyarakat.

Sehingga, menurutnya wajar jika keberadaannya untuk pentas di berbagai tempat akhir-akhir ini selalu diprotes dan dicekal.

"Kalau lihat aksinya di panggung memang goyangannya sudah melampaui batas norma di masyarakat. Makanya dia diprotes dan dicekal di mana-mana," kata Adhyaksa usai menjadi pembicara Simposium Nasional Kepemimpinan Pemuda 2008 di University Center UGM, Yogyakarta, Sabtu (19/4/2008).

Menurut Adhyaksa, sebenarnya untuk pelarangan-pelarangan seperti dalam kasus Dewi Persik dilakukan secara kaidah kelembagaan, dan bukan kepada subjeknya. Untuk itu, menurut dia, saat ini pemerintah bersama DPR tengah berusaha menyelesaikan RUU Pornografi dan Pornaksi.

"Jangan melarang ke person-nya, tapi kaidah dan secara kelembagaan. Makanya kita tunggu saja pengesahan RUU pornografi itu," katanya.

Ia sendiri mengaku sudah memberikan peringatan kepada Dewi Persik untuk mengurangi goyangan yang kebablasan itu. Adhyaksa yakin, jika Dewi Persik mau berubah dan meninggalkan goyang "gergaji"-nya, maka dia akan terus dipakai masyarakat.

"Pasti akan selalu dipakai masyarakat, asalkan dia mau berubah. Kalau tak mau berubah ya akan ditinggalkan," tegas Adhykasa.

Meutia Hatta: Goyang Dewi Persik Nggak Harus Heboh

Pencekalan Dewi Persik di sejumlah daerah membuat Menteri Negara Pemberdayaan Perempuan Meutia Hatta angkat bicara. "Goyang Persik nggak harus heboh," katanya.

Pedangdut dengan goyang gergaji itu telah dicekal tampil di Tangerang, Bandung, dan Depok. Para pemimpin daerah tersebut melarang Persik bergoyang di wilayahnya.

"Setiap daerah ada ukuran sopan dan tidak sopannya mengenai goyangnya Persik. Ada yang menilai terlalu menonjol. Kenapa Persik tidak menyesuaikan diri? Kalau misalnya dia artis yang baik dan serba bisa, seharusnya bisa menyesuaikan," beber Meutia di Istana Negara, Jalan Medan Merdeka Utara, Jakarta Pusat, Jumat (18/4/2008).

Dari kacamata Meutia, pencekalan serempak tersebut menimpa Persik bukan tanpa sebab.

"Tentu saja, pencekalan di setiap daerah itu ada sebabnya. Mungkin, goyangan dia terlalu heboh. Untuk itu lebih baik goyangnya dikurangi. Goyang kan nggak harus heboh, bisa dilakukan dengan lebih sopan," sarannya.(ang)

Sukabumi Juga Cekal Dewi Perssik


SUKABUMI, JUMAT--Pencekalan terhadap artis dangdut dengan goyangan hebohnya, Dewi Persik kembali terjadi, kini Bupati Sukabumi Sukmawijaya mencekal Dewi Persik untuk manggung atau konser di wilayah Kabupaten Sukabumi guna menghindari kerawanan sosial.

"Saya tidak melarang Dewi Persik untuk datang ke Kabupaten Sukabumi, namun bila manggung di Kabupaten Sukabumi tidak boleh," kata Bupati Sukmawijaya kepada pers di Sukabumi, Jum'at, ketika ditanya terkait rencana Dewi Persik untuk manggung dalam acara HUT KODAM III Siliwangi di Lapangan Yonif 310 Cikembar, Sabtu (19/4) nanti.

Bila ada penyanyi dangdut yang manggung menggunakan pakaian seksi, dapat menimbulkan birahi terutama bagi anak-anak dan remaja, maka akan berbahaya. "Kami ingin menciptakan akhlak yang baik bagi masyarakat Kabupaten Sukabumi," tuturnya.

Ia menyebutkan, pencekalan terhadap goyangan Dewi Persik tidak hanya dari kepala daerah saja, melainkan tokoh ulama dan pemuka masyarakat mencekal Dewi Persik untuk tampil di Kabupaten Sukabumi.

"Majelis Ulama Indonesia (MUI), FPI Kabupaten Sukabumi dan Forum Pesantren Salafi Bersatu (FPSB) Sukabumi serta organisasi Islam lainnya mengirimkan surat kepada saya terkait pencekalan Dewi Persik untuk manggung di Sukabumi," jelasnya.

Sukma menyebutkan pencekalan terhadap Dewi Persik dilakukan semata-mata untuk menjaga situasi Kabupaten Sukabumi tetap aman karena dalam beberapa surat yang disampaikan masyarakat terungkap adanya nada protes yang bisa menimbulkan persoalan.

Ia mengaku pihaknya tidak bisa memastikan Dewi Persik bisa tampil atau tidak di dalam acara HUT KODAM III Siliwangi tersebut karena kewenangan yang bisa melarang kehadiran Dewi Persik berada di tangan pihak kepolisian. "Kami sudah meminta Kapolres untuk membatalkan kehadiran Dewi Persik, tetapi untuk penyelenggaraan acara dipersilahkan berlanjut. Yang diminta masyarakat hanya ingin agar Dewi Persik dibatalkan tampil di Sukabumi," tuturnya.

Menurut dia, pihaknya akan memperbolehkan Dewi Persik untuk manggung lagi di wilayah Kabupaten Sukabumi, bila goyangan gergaji Dewi Persik tidak digunakan lagi. "Dewi Persik boleh manggung lagi, bila goyangannya tidak seperti sekarang ini yang dinilai dapat menimbulkan birahi kaum adam," ujarnya.

Ketua FPSB Sukabumi KH Hasbu Burhanudin melalui surat yang dikirim kepada Bupati Sukabumi, menyebutkan, pihaknya meminta kepada Bupati Sukabumi untuk tidak memberikan izin kepada Dewi Persik untuk manggung di Kabupaten Sukabumi karena goyangannya dinilai erotis yang dapat mengundang nafsu birahi. "Goyangan Dewi Persik dinilai dapat melecehkan kaum Adam," katanya.

Sementara itu, Panitia penyelenggara, Lili membenarkan tentang pembatalan Dewi Persik di Kabupaten Sukabumi dan sebagai gantinya, panitia terpaksa memanggil artis dangdut lainnya, Ira Swara. "Penggantian dilakukan menyusul adanya surat yang disampaikan Bupati kepada panitia," ujarnya.

Dikatakannya, surat pernyataan Bupati mengenai keberatan atas kehadiran Dewi Persik sudah kami terima dfan pihaknya akhirnya mengganti dengan Ira Swara. "Sebenarnya, panitia sudah sepakat dengan Dewi Persik untuk tampil pada acara HUT KODAM III Siliwangi. Saya sendiri tidak tahu apakah sudah ada uang fee yang masuk atau belum. Sebab itu urusan Bos," ucapnya. (ANT)

17 April 2008

Mengatasi Porno Jangan Dengan "Parno"

Apa iya sih kerjaan kalian cuma "browsing" hal porno saat main internet? Apa benar sih kalian sebegitu hebohnya menghabiskan waktu buat ngeliat hal-hal tabu yang enggak diajarkan di kelas?

Belakangan ini, remaja terutama, tengah jadi sorotan. Sebab, sebagian orangtua kabarnya prihatin meneropong masa depan kalian. Penyebabnya, mereka khawatir moral kalian jadi bobrok sebab suka ngeliat hal porno di internet.

"Hmmm pernah sih lihat kayak gituan, awalnya lihatnya pas nyasar ke alamat web yang enggak dikenal." "Ah, siapa bilang kami cuma ngakses situs gituan?" "Kalau gue sih udah muak ngeliat begituan, udah enggak zamannya." "Internet itu tempat belajar favorit, ngerjain pe-er bisa buka Wikipedia. Nyari musik juga di internet."

"Orang emang suka ngakses situs porno di warnet, komputer jadi rawan kena virus sama spyware, makanya saya lagi cari software untuk blokir situs porno di warnet. Setuju aja sih kalau situs porno itu diblokir."

Begitulah komentar orang menanggapi rencana pemblokiran situs porno. Amanat memblokir situs porno makin santer setelah Rancangan Undang-Undang Informasi dan Transaksi Elektronik (RUU ITE) disahkan DPR.

Sebenarnya fokus RUU itu mengatur transaksi elektronik, tapi yang terdengar di masyarakat adalah rencana pemblokiran situs porno. Kedengarannya gampang ya memblokir situs porno.

Kalangan orangtua tak ada yang menolak kalau situs porno ditangkal atau dibasmi. Itu demi masa depan kalian agar cerah. Soalnya, banyak anak muda yang dikabarkan jadi addict karena fantasi seksual dunia maya. Tapi, tuduhan kalau sebagian besar anak muda hanya mengakses situs porno membuat mereka yang biasa nulis di blog dan situs lain merah kuping. Mereka enggak setuju generalisasi seperti itu.

"Kami bukan kumpulan anak muda yang kurang kerjaan sampai mesti ngeliat situs porno. Internet membantu kami tumbuh mengenal teknologi informasi lebih baik," tulis salah satu blogger.

Beda generasi

Tapi, tolong ngerti aja deh kalau para pembuat peraturan dan perancang RUU ITE adalah generasi yang enggak kenal internet sedemikan kentalnya seperti generasi kalian. Sebagian dari mereka di masa mudanya mungkin belum pernah lihat teknologi web yang begitu mengesankan seperti sekarang. Mereka enggak tahu bagaimana situs generasi Web 2.0 yang didominasi social networking begitu asyik dikunjungi untuk mencari teman. Blog, Friendster, Multiply, dan Facebook, enggak ada di masa remaja mereka.

Waktu itu generasi internet baru punya capain untuk e-mail, chatting via IRC. Itu pun sulit ngaksesnya sebab masa itu belum generasi internet 2G apalagi 3G. Pertumbuhan internet mulai sekitar 1995-an, antara lain ditandai hadirnya warnet di berbagai kota besar di Indonesia.

Dengan harga terjangkau, warnet bisa dibilang pelopor melek internet. Memang sih kudu diakui pada masa awal bangkitnya internet di Indonesia, sering dimanfaatkan untuk hal iseng seperti mengakses gambar porno. Kondisi itu terjadi karena euforia dibukanya keran kebebasan.

Apa betul sih anak muda sekarang suka gambar porno? Apa betul yang khawatir diblokirnya situs porno itu anak muda, bukan malah generasi tua? Kompas MuDA sempat bikin "survei" kecil-kecilan berbarengan dengan pembagian tiket nonton gratis, kerja sama dengan Blitz Megaplex.

Mereka yang ikut berkomentar punya basis di Friendster. Jadi, secara umum merekalah pengguna internet aktif yang sering berkomunikasi di internet.

Survei ini dilatarbelakangi pemblokiran sementara situs Youtube (sekarang udah dibuka lagi) karena memuat film Fitna (film yang dibuat politisi Belanda tuh).

"Saya setuju pemblokiran situs porno karena bisa merusak moral orang di seluruh dunia. Kita juga tahu, video porno udah banyak banget, tiap hari ada yang baru. Jadi, harus ada tindakan tegas dari pihak berwenang. Kalau situs kayak Youtube diblokir, yang diblokir video terkait yang dilarang saja. Sebab, tidak semua video di situ jelek, banyak yang memberi ilmu pengetahuan," kata Elwi.

"Aku sih setuju situs porno diblokir. Tapi harus situs yang benar-benar nyediain media porno aja, bukan cuma karena ada sedikit unsur pornonya, kayak Youtube dll," kata Priska.

"Gue sih sangat setuju situs porno diblokir karena sangat membodohkan dan meresahkan masyarakat. Terutama orangtua yang tak ingin anak mereka melihat hal yang belum sepantasnya dilihat. Situs Youtube? gue enggak setuju kalau diblokir karena Youtube bisa diakses untuk melihat video musik atau tayangan ulang suatu acara," kata Vinka.

Secara prinsip, tak ada anak muda pengguna internet aktif yang enggak setuju kalau situs porno diblokir. Mereka juga enggak pengin ada industri seks di dunia maya karena mengganggu kebebasan berinternet. Di saat pipa bandwidth internet di Indonesia mahal, mengakses situs porno hanya menghabiskan uang.

"Menurut gue, pemblokiran situs porno saja tidak efektif untuk mencegah generasi muda Indonesia enggak tercemar pornografi. Youtube itu salah satu situs untuk bertukar informasi. Kita tak usah memblokir media informasi, cukup kritis aja pada isinya," kata Hegar, murid kelas X.

Prioritas

Di saat dunia internet di Indonesia merambat bergairah, pertanyaan soal prioritas penanganan persoalan internet kini mengemuka. Lebih penting mana, ribut soal situs porno, tapi situs instansi publik yang mestinya informatif dan interaktif dibiarkan terbengkalai, enggak ada isinya? Ini bukannya bentuk ketidakpedulian instansi publik terhadap "zaman" dan pentingnya transparansi informasi ya? Rasanya enggak cuma generasi muda aja yang perlu bertanggungjawab terhadap apa yang dilakukan di dunia maya.

Ya udahlah. Mending kita tunjukin langsung kalau generasi muda itu bertanggung jawab dengan kelakuannya di dunia maya. Caranya? Jangan memfitnah orang di internet, jangan melakukan transaksi fiktif, jangan mengirim virus/spyware, jangan membobol kartu kredit, jangan mengusili situs orang lain, dan lindungi diri dari upaya jahat orang untuk memperdaya kalian di dunia maya.

Tetap tenang mengatasi pornografi dan jangan paranoid atau parno! Secara teknis, sulit secara total memblokir situs porno dengan software filter karena banyaknya situs di dunia ini. Walaupun dilakukan di tingkat proxy Internet Service Provider (ISP), situs porno bisa ditembus para pengakses internet jika memang berniat mencari gambar porno.

Google yang jadi teman untuk searching pun bisa menjadi mesin pencari gambar atau video yang andal di tangan orang yang mau mengakses hal porno. Jadi, teknologi akan bermanfaat jika berada di tangan yang tepat.

Memang sih, instalasi software filter seperti K9 Web Protection (bisa didownload di www.k9webprotection.com) wajib dimiliki tiap pengakses internet karena bisa mengurangi dampak pornografi walaupun belum 100 persen. Lebih penting, filter dulu pemikiran kalian soal pornografi. Instalasi software filter internet yang paling efektif itu bukan di komputer, tapi di otakkita. (AMIR SODIKIN) --KOMPAS, Jumat, 18 April 2008

12 April 2008

Dicekal di Banyak Tempat, Dewi Persik Melunak

JAKARTA - Jika biasanya Dewi Persik ceplas-ceplos berbicara di media terkait pencekalan dirinya, tidak kali ini. Persik mulai irit bicara. Tampaknya, Persik mulai melunak.

Seperti diketahui, ketika Wali Kota Tangerang H Wahidin Halim melarang Persik tampil, wanita asal Jember itu langsung bereaksi dengan mengancam akan menuntut Wahidin.

Berbeda halnya saat Wali Kota Bandung Dada Rosada mengikuti jejak Wahidin mencekal Persik. Pedangdut dengan goyang gergaji itu tak banyak tingkah. Dia tak mengumbar kata-kata melalui media massa.

"Terserah saja saya mau difitnah seperti apa. Saya nggak mau komentar," kata Persik ditemui di Studio TPI, Pondok Gede, Jakarta Timur, Jumat (11/4/2008).

Wajah Persik terlihat tak senang dimintai komentar perihal pencekalan tersebut. Bahkan, semula Persik berniat kabur menghindari wartawan melalui pintu belakang. Niat itu keburu ketahuan karena ternyata di pintu depan dan belakang banyak wartawan infotainment menanti.

Apakah Persik mulai takut dengan pencekalan tersebut?

"Saya nggak akan pernah takut! Biarkan saja. Saya nggak gentar, biarkan sajalah," ketusnya.

Pasrahkah Persik dengan kondisi ini?

"Pokoknya, saya nggak akan pernah takut dan gentar," tukasnya.

Sebelum dicecar lebih banyak pertanyaan, Persik langsung diselamatkan oleh manajernya dan dibawa masuk ke dalam mobil Toyota Alphard hitam B 12 DP. (Sabtu, 12 April 2008 14:16 wib, Finalia Kodrati - Okezone)


"Filter Situs Asusila" Sudah Bisa Diunduh di www.depkominfo.go.id

Kompas.com, JAKARTA,JUMAT - Departemen Komunikasi dan Informasi hari ini meluncurkan software yang dapat digunakan untuk menutup akses ke situs-situs porno. Software ini disebut Filter Situs Asusila.

Dalam kesempatan ini juga, Depkominfo melakukan demo download software tersebut. Software dapat diakses secara gratis melalui situs depkominfo di www.depkominfo.go.id. Link download terdapat di sisi kanan situs dalam blok berwarna biru.

"Klik saja folder 'Filter Situs Asusila', di dalamnya ada aplikasi berbentuk zip dan panduan sosialisasi yaitu panduan bagaimana cara menginstall," ujar salah satu staf yang melakukan demo kepada pers tentang penutupan konten film Fitna dan demo software anti pornografi, Jumat (11/4).

Menteri Komunikasi dan Informasi Muh.Nuh mengatakan bahwa Depkominfo akan segera mensosialisasikan akses untuk mendownload software berukuran 5 MB ini. Masyarakat juga akan diajak untuk berpartisipasi dalam pemberantasan situs-situs pornografi dengan melaporkannya melalui email.

"Kita akan lakukan gerakan massal dengan sekolah, Diknas, departemen, dan lembaga sosial keagamaan. Dari situ saya berharap biosis mitosis," ujar Nuh untuk menjelaskan bagaimana upaya kerja sama ini dapat terus berkembang di lingkungan lain seperti pembelahan yang terjadi pada hewan amoeba. Nuh menambahkan, dalam upaya memberantas pornografi di Indonesia, peluncuran software ini ke masyarakat adalah bagian dari upaya tanggung jawab teknis yang bisa dilakukan oleh pemerintah.

Sementara itu jurbicara Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII) , Ismawan, melihat bahwa masyarakat juga harus turut mendukung melalui tanggung jawab moral, seperti yang dijelaskan Menkominfo sebelumnya. "Ini tidak hanya bisa pemerintah saja yang tangani, tapi ini masalah kita bersama," ujar Ismawan. (LIN)

Probolinggo pun Ogah 'Digergaji' Dewi Persik

PROBOLINGGO -Penolakan terhadap penampilan Dewi Persik akhirnya merambah ke Jawa Timur (Jatim), provinsi asal penyanyi dangdut itu sendiri. Setelah Wali Kota Tangerang dan Bandung menolak tampilnya Dewi dengan goyangan gergajinya yang erotis, kemarin giliran kabupaten Probolinggo melakukan hal serupa.

Penolakan itu diungkapkan oleh Bupati Probolinggo Hasan Aminuddin, Jumat (11/4), setelah kalangan organisasi keagamaan di daerah itu menilai bahwa penampilan Dewi di panggung sudah mengumbar syahwat.

"Kiai dan ulama tentu memiliki niat murni membentengi moral masyarakat dari dampak negatif tontotan seperti itu. Ulama itu panutan masyarakat Probolinggo yang agamis. Dan karena saya adalah pelayan masyarakat, maka saya pun mengikuti nasihat ulama," ujar Hasan kepada Surya, Jumat (11/4).

Namun, Hasan tidak menolak mentah-mentah Dewi Persik di kabupaten Probolinggo jika penyanyi asal Jember itu tampil dengan pakaian yang menutupi semua auratnya. "Selain itu, boleh jika Dewi tidak melakukan goyangan dangdut yang berlebihan dan mengundang syahwat," imbuh Hasan yang juga Ketua DPW PKB Jatim.

Hasan tak tahu apakah dalam waktu dekat ada penampilan Dewi di Kab. Probolinggo. Namun, kata dia, penolakan tersebut tak harus terkait dengan apakah Dewi akan tampil atau tidak di sana dalam waktu dekat.

Saat ditanya mengapa penyanyi berusia 22 tahun itu yang dicekal, Hasan menjawab bahwa Dewi adalah figur publik dan salah satu ikon dangdut Indonesia. "Ini untuk mengembalikan kredibilitas dangdut Indonesia dan menyadarkan pedangdut bahwa menjadi penyanyi terkenal, tidak harus dengan mempertontonkan goyangan yang keterlaluan," jelas bupati kelahiran 1965 itu.

Bagaimana dengan pedangdut lokal? Bindereh Hasan (sapaan akrab Hasan Aminuddin) mengatakan bahwa dirinya terus konsisten, dan sudah sejak lama menyerukan imbauan agar artis lokal juga bisa menjaga penampilannya di depan umum.

"Alhamdulillah, di wilayah Kabupaten Probolinggo, goyangan berlebihan bisa diminimalisir. Terutama di tempat-tempat umum," katanya.

Sikap tegas Bindereh Hasan memang didukung organisasi-organisasi besar di Kabupaten Probolinggo yakni Pengurus Cabang (PC) NU Kabupaten Probolinggo, PCNU Kraksaan serta Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kabupaten Probolinggo. Di Kabupaten Probolinggo ada dua PCNU.

Ketua PCNU Kraksaan KH M As'ad Abu Hasan membenarkan, dirinya bersama kiai dan habaib telah menyarankan supaya dilakukan pencekalan bersyarat  terhadap Dewi Persik, termasuk pedangdut lainnya, bila hendak tampil di Kabupaten Probolinggo dengan seronok.

"Artis sering lupa diri di atas panggung," kata KH M As`ad yang juga pengasuh Ponpes Mambaul Ulum Sukodadi, Paiton, itu.

As'ad mencontohkan, sebelum pencekalan ramai dibicarakan orang, sempat beredar isu soal kemben yang dikenakan Dewi Persik melorot ketika tampil.

Pernyataan lebih tegas diungkapkan Sekretaris Umum MUI Kabupaten Probolinggo KH Mahfud Samsul Hadi. Penolakan atas Dewi Persik itu, kata dia, dilakukan untuk mengurangi menjamurnya eksploitasi kemolekan tubuh oleh artis, baik level nasional maupun lokal.

"Goyangan yang mengeksploitasi kemolekan tubuh untuk menaikkan rating atau popularitas, itu sudah tidak benar. Dan goyangan Dewi Persik sudah jelas-jelas mengundang syahwat," ucapnya.

Tenang Saja

Sementara itu, bukannya resah, menanggapi pencekalan demi pencekalan terhadap Dewi, pihak keluarganya justru tenang-tenang saja. Pihak keluarga telah menyarankan Dewi agar tak terpancing untuk berkomentar terhadap berita tentang aksi pencekalan pada dirinya.

Kakak kandung Dewi, H Mas Bin Yon Soeharto mengatakan, Jumat (11/4), kabar pencekalan terakhir terhadap adiknya belum didengarnya. Biasanya, jelas Mas Bin, bila Dewi punya persoalan, dirinya selalu mendapatkan kabar lebih dulu.

"Biasanya, kalau ada sesuatu,  Dewi selalu memberi kabar," jelasnya.
Menurut Mas Bin, sudah wajar jika Dewi terus menuai sorotan. Dia tak akan mempermasalahkan. Termasuk usulan agar Dewi mengubah penampilan, sampai detik ini keluarga belum memutuskan menasehati penyanyi kelahiran 19 Desember 1985 itu untuk melakukannya.

"Santai sajalah, semua ada yang mengatur,"jelas Mas Bin singkat ketika ditemui Surya.

Sementara itu, Dewi Persik melalui sambungan telepon menyatakan  bahwa kabar pencekalan itu sudah biasa baginya. Dewi bertekad tak akan menggubris masalah seperti itu karena diyakininya akan reda dengan sendirinya.

"Buktinya, saya masih bisa tampil di mana-mana. Saya mendoakan agar yang menyebar isu seperti itu diampuni dosanya oleh Allah," tutur penyanyi centil ini.

Melalui komunikasinya di telepon Kamis (10/4) malam lalu, Dewi juga malah memberitahu Surya agar tak lupa melihat aksinya di film terbaru berjudul Tali Pocong Perawan yang disutradarai Arie Azis dan diproduksi Maxima Pictures.

"Ojo lali lihat Tali Pocong Perawan mas….nuwun," kata Dewi di ujung telepon. (SURYA/st4/st17)

http://www.kompas.com/entertainment/read.php?cnt=.xml.2008.04.12.13524554&channel=1&mn=104&idx=104