Tampilkan postingan dengan label ICT. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label ICT. Tampilkan semua postingan

08 Juli 2008

IPTEK - "E-mail"dan Manusia Super

NINOK LEKSONO

"Cara hidup kita sekarang ini mengerosi kemampuan untuk konsentrasi yang dalam, lama, dan perseptif, yang merupakan blok pembangun keintiman, kearifan, dan kemajuan kultural."

(Maggie Jackson, pengarang buku "Distracted: The Erosion of Attention and the Coming Dark Age", WST, 8/7)

Manusia modern dilanda dilema: di satu sisi harus menjadi kompetitif dan dengan itu harus punya banyak keunggulan; tetapi di sisi lain ia juga ingin menjalani hidup secara wajar saja, tanpa harus merasa dikejar-kejar untuk menjadi pintar dan serba tahu.

Kini, mengecek pos elektronik (e-mail) merupakan menu harian yang sulit dilewatkan bagi banyak orang. Ketika jumlah e-mail di kotak surat (inbox) semakin banyak, muncul pertanyaan, harus dimaknai apa aktivitas menyimak dan menjawab e-mail itu? Apakah itu aktivitas yang bermanfaat atau tidak?

E-mail, yang merupakan sampel kecil dari informasi digital yang membanjir setiap hari dalam jumlah yang sangat besar, seolah menjadi salah satu sarana pembentukan kecerdasan manusia super pada masa depan. Inilah hal yang diyakini oleh futuris Vernor Vinge yang juga pengarang fiksi ilmiah laris.

Menurut keyakinan Vinge, yang juga pensiunan profesor sains komputer, mesin (komputer) kini telah menjadi lebih dari sekadar alat. Mesin-mesin tersebut secara fisik akan menyatu dengan kita dan secara tak terasa (seamless) mewariskan kekuatan yang sekarang ini di luar imajinasi kita. Hal itu, oleh Vinge, diyakini akan terjadi pada zaman kita ini. Pikiran manusia akan menjadi sangat kuat dalam mengolah informasi (Discover, 8/08).

"Information overload"

Istilah di atas muncul karena manusia tampaknya semakin kebanjiran informasi, lepas dari soal apakah informasi yang datang itu sepenuhnya berguna atau tidak.

Pada sisi lain, menurut catatan Gordon Crovitz, rata-rata setiap 3 menit pekerja pikiran (knowledge worker) menghentikan aktivitasnya umumnya karena terganggu oleh e-mail atau dering telepon. Lazimnya, diperlukan 30 menit sebelum ia bisa kembali ke pekerjaan semula.

Mengingat urusan kebanjiran informasi ini dilihat semakin menjadi masalah dalam kehidupan modern, kini ada organisasi Information Overload Research Group yang pendirinya antara lain eksekutif dari Microsoft, Google, IBM, dan Intel. Hal ini menarik karena mereka adalah perusahaan yang paling besar peranannya dalam menciptakan alat-alat informasi yang menggerogoti kemampu_an kita untuk memfokuskan pikiran (Wall Street Journal, 8/7).

Crovitz menambahkan, Microsoft mempunyai laboratorium Visualization and Interaction Research Group yang selama bertahun-tahun mencoba mengembangkan perangkat lunak yang bisa membuat prioritas untuk e-mail dan komunikasi lain.

Semua itu dikembangkan karena semakin disadari bahwa teknologi memang bermata dua. Di satu sisi menjadi alat pemacu produktivitas (productivity enhancer), tetapi di lain sisi juga sumber inefisiensi. Yang terakhir ini dikuatkan oleh lembaga penelitian Basex yang menyebutkan bahwa sekitar seperempat hari pekerja informasi disita oleh interupsi, seperti e-mail, instant messaging, Twitter, RSS, dan aliran informasi lain yang tak bisa dikendalikan. Di bawah itu, waktu digunakan untuk menulis e-mail, menghadiri rapat, atau mencari informasi. Para peneliti di lembaga ini menyimpulkan bahwa hanya sepersepuluh hari yang digunakan untuk berpikir dan merenung (berefleksi).

Sampai teknologi bisa menyembuhkan situasi ini, muncul berbagai eksperimen. Intel telah mencoba apa yang dinamai "Zero-e-mail Fridays" atau Jumat Tanpa Email. IBM punya "Think Fridays" yang ditujukan untuk membatasi e-mail dan aneka gangguan lain. Ada juga CEO yang setiap kali memulai rapat meminta para direktur menyerahkan peralatan BlackBerry dan mengumpulkannya di tengah meja rapat.

"Dengan semakin banyak orang masuk ke dalam dunia baru informasi yang tersambung dan terakses tanpa batas, kita berisiko kehilangan sarana dan kemampuan terjun ke bawah permukaan, untuk berpikir mendalam," tambah Jackson.

Memilih santai

Awas dengan potensi buruk kebanjiran informasi ini, kini orang mulai melihat kemungkinan untuk hidup dengan lebih longgar, misalnya saja dengan kepungan e-mail lebih sedikit. Salah satunya adalah Luis Suarez, karyawan IBM yang tinggal di Kepulauan Canary.

Seperti dikisahkan di harian New York Times (29/6), ia lelah dengan ritual pada pagi hari menghabiskan berjam-jam mengurus e-mail, dan kini ia ingin melakukan sesuatu yang drastis untuk mengambil alih kendali produktivitasnya. Untuk itu ia sudah memutuskan tidak lagi menggunakan e-mail di sebagian besar waktunya. Ia menyadari, semakin rajin ia membalas e-mail, semakin banyak balasan dan kiriman yang akan ia dapat. Hal itu lalu menjadi lingkaran setan.

Akhirnya ia berhenti menjawab secara individual dan mulai menggunakan sarana jaringan sosial, seperti blog dan wiki.

Tampaknya, di sini ada dua pendekatan yang sama-sama menjadi pilihan. Pertama adalah kebiasaan mengeksploitasi habis kemajuan teknologi. Bahkan, kalaupun e-mail di inbox semakin banyak, itu dilihat sebagai kemajuan tak terelakkan dan dalam jangka panjang, ia akan menjadi faktor evolusi yang akan menciptakan manusia baru yang tangguh hidup dalam cyberswamp—rawa informasi—yang dalam konteks sekarang mungkin akan membuat orang lumpuh bengong tak tahu apa yang harus dikerjakan karena kebanjiran informasi.

Yang kedua, orang tak memilih jalur ini. Sosok seperti Luis Suarez lebih memilih menyederhanakan hidup, mengurangi informasi yang harus ditangani setiap hari. Pilihan tentu terpulang kepada setiap individu meski arus besar memperlihatkan bahwa manusia suka memilih hidup yang lebih menantang. Kalau ini pilihannya, boleh jadi kelak akan muncul manusia super gemblengan dengan pikiran yang tahan dibanjiri informasi gigabita setiap hari.

http://cetak.kompas.com/read/xml/2008/07/09/00234417/e-maildan.manusia.super

27 Juni 2008

Peradaban Bertemu secara Online

Oleh Faisal Abbas

Saat berkampanye untuk masa jabatan pertamanya sebagai presiden AS, Bill Clinton membuat berita utama ketika muncul sebagai bintang tamu di MTV pada 1992 dalam upaya mendapatkan suara pemuda Amerika. Kemunculan tersebut dianggap sebagai tonggak sejarah dalam hubungan politisi dengan media.

Dengan teknologi masa kini, Clinton mungkin juga akan punya blog sendiri, halaman Facebook dan saluran YouTube. Penerapan yang revolusioner semacam itu membuat internet menjadi media demokrasi utama, memungkinkan para pengunjung untuk secara langsung berkomunikasi dengan para pemimpin tanpa halangan geografis ataupun waktu.

Ratu Rania dari Jordania, tamu kehormatan pada acara Google Zeitgeist Conference pada pertengahan Juni di London, meluncurkan saluran YouTube sendiri (www.youtube.com/queenrania), April lalu.

Upaya YouTube Ratu Rania merupakan usaha sadar untuk meningkatkan dialog dan pemahaman antara dunia Arab dan muslim dengan Barat. ''Arab dan muslim berjuang setiap hari dengan bagaimana cara dunia melihat kita: realitas kita, sejarah, dan cara berpikir kita. Kita harus menghancurkan stereotip ini dan berbicara untuk diri kita sendiri, sehingga setiap orang memahami siapa kita dan nilai-nilai kita,'' jelas Ratu Rania.

''Dialog merupakan cara terbaik untuk mencapai ini, dan YouTube membantu perkembangan percakapan tentang toleransi, rasa kasih sayang, dan pemahaman yang diperlukan. Apa yang saya lihat di YouTube saat ini merupakan bentuk ideal dari dialog yang diinginkan itu, yang dapat menghilangkan kecurigaan lama dengan membentuk komunitas baru,'' ungkapnya.

Sang Ratu akan menerima pertanyaan-pertanyaan dan komentar di salurannya, yang saat ini memiliki 5.000 pelanggan, sampai Hari Pemuda Internasional pada 12 Agustus. Beliau juga menekankan pentingnya berkonsentrasi pada pemuda: ''Generasi YouTube, Facebook, dan Ikbis fasih dalam mengunggah, membuat tag, serta pesan instan. Kita juga harus begitu. Pemuda masa kini merupakan sumber utama energi dan inovasi di wilayah kita. Tidak saja mereka akan menghilangkan stereotip negatif, tapi mereka akan menciptakan perusahaan-perusahaan baru, pekerjaan baru, dan kesempatan baru bagi Jordania dan dunia Arab.''

Berbagai komentator di saluran YouTube sang Ratu telah mengungkapkan bahasa kasar terhadap Islam dan simbol-simbolnya. Namun, yang lain telah berusaha mengoreksi ketidaktepatan itu dan menjembatani, termasuk sang Ratu, yang telah memasang sejumlah video.

Dalam video baru-baru ini, Ratu Rania menjawab komentar seorang pengguna bahwa meski dia tidak terlalu pintar dalam bidang matematika, orang tidak memerlukan keterampilan semacam itu untuk mengetahui persamaan ''Arab = muslim = teror = Perang'', bahwa ''Arab adalah muslim dan muslim = kekerasan'' (dikirim oleh seorang pengguna) tidaklah akurat.

Ratu Rania menyerukan untuk ''mendapatkan fakta yang benar'' sebelum membuat asumsi, menjelaskan bahwa ''Dengan setiap baris tulisan dan video yang dikirimkan, kita berbagi pengalaman dan pengetahuan yang membongkar halangan dan menyatukan kita.''

Yasmina Brihi, marketing manager Google (yang memiliki YouTube) untuk Timur Tengah dan Afrika Utara, mengatakan, ''Kami senang melihat keterlibatan online ini dan sangat ingin mengantisipasi dialog langsung tentang politik serta isu-isu yang penting bagi orang-orang di dunia.''

''Keterlibatan'' ini telah terbukti dalam liputan pemilihan presiden AS baru-baru ini. Debat kandidat CNN/YouTube pertama akan dilangsungkan tahun ini dan menunjukkan potensi signifikan dalam pemanfaatan gabungan televisi dan internet. Perdebatan itu memungkinkan para pemilih potensial mengirimkan pertanyaan mereka dan berkomentar secara langsung kepada kandidat. Banyak pertanyaan yang ditayangkan dan dijawab langsung oleh para kandidat.

Wakil Direktur Senior CNN dan Kepala Biro Washington David Bohrman menyatakan bahwa perdebatan itu ''benar-benar berhasil'' dan ''CNN akan melanjutkan bereksperimen dengan teknologi-teknologi baru untuk konvensi politik dan malam pemilihan 2008 mendatang.''

Brihi menjelaskan bahwa YouTube ''membantu para pemilih menjadi bagian dari perdebatan politik dengan cara-cara yang tidak mungkin sebelum munculnya video online. Orang dapat mengungkapkan pandangan mereka kepada orang-orang yang berkuasa, melontarkan pertanyaan dan didengar, sementara mereka yang di kantor bisa menggunakan video instan untuk menyorot prioritas mereka dan terhubung dengan orang-orang yang terkait dengan isu-isu yang paling penting bagi mereka.''

Faisal Abbas, editor media di Asharq al-Awsat. Artikel ini didistribusikan oleh Common Ground News Service (CGNews), bisa diakses di www.commongroundnews.org. (jawa pos 28 juni 2008)

17 Juni 2008

Media, Teknologi, dan Kekuasaan

"Sekarang politisi tahu bahwa setiap langkah—kata ataupun ekspresi—akan direkam, dikemas, dan dihubungkan ke seluruh dunia, dalam beberapa menit." (Edward Luce, Financial Times, 13/6/2008)

Semula, mata kuliah yang diunggulkan di jurusan komunikasi sejumlah universitas adalah Media, Teknologi, dan Masyarakat (Society). Namun, dari satu sesi di dalam mata kuliah itu, yakni yang terkait dengan kekuasaan, kemudian oleh Program Studi Hubungan Internasional FISIP UI dimunculkan menjadi satu mata kuliah sendiri, yakni Media, Teknologi, dan Kekuasaan (Power).

Mahasiswa dengan itu lalu mendapatkan aktualisasi dari penerapan teknologi baru, khususnya di bidang media, dalam kaitannya dengan praksis politik. Ketika hari-hari ini berlangsung rangkaian proses pemilihan presiden AS, contoh aktual tersebut bertambah nyata.

Pada harian ini, Kamis (12/6), peneliti CSIS, Philips J Vermonte, juga menjelaskan beberapa aspek pemanfaatan media untuk pencapaian tujuan politik. Mengutip majalah The Atlantic Monthly edisi Juni 2008, Vermonte menyebutkan bagaimana cara komunikasi politik mengalami transformasi dari masa ke masa. Andrew Jackson, misalnya, membentuk Partai Demokrat saat teknologi cetak mengalami kemajuan pesat pada awal 1800-an. Jackson mengorganisasi editor dan penerbit untuk membentuk parpol. Lalu Abraham Lincoln menjadi tokoh legendaris setelah transkrip kampanye presidennya disebarluaskan melalui koran yang saat itu berkembang marak di AS.

Pada masa berikutnya, Franklin Roosevelt memimpin AS melalui masa sulit mengampanyekan program New Deal secara efektif lewat pesan radio. Akhirnya, John Kennedy jadi sangat populer setelah debat antarcalon presiden pertama kali disiarkan televisi. Kennedy sejak itu giat memanfaatkan televisi untuk memperkuat citranya.

Media baru

Memang hal yang tak diragukan lagi, media terbukti merupakan alat efektif untuk menjangkau massa pemilih bagi para kandidat, dan corong bagi pemegang kekuasaan.

Meski sejumlah politisi Indonesia telah gencar menghadirkan diri di media, dari iklan Ketua Umum PAN hingga situs web mantan Ketua Umum Partai Golkar, itu masih merupakan pemanfaatan paling basic.

Bandingkan dengan yang dilakukan kandidat dari Partai Demokrat, Barack Obama, dengan internet. Dengan mengeksploitasi sifat Web 2.0 yang menekankan pada komunitas, tim Obama telah menggelar 30.000 acara dalam 15 bulan kampanye pemilihan pendahuluan. Rekaman video kegiatan yang digelar bisa diakses melalui situs YouTube, My-Space, dan Facebook. Pendukung juga dapat menikmati berbagai pesan kampanye melalui iPod.

Kubu Obama juga menyadari, kampanye politik tak bisa sepenuhnya bersifat "putih". Buktinya, Obama diserang dengan berbagai macam isu. Kampanye hitam ini pun ia jawab melalui internet, yaitu dengan meluncurkan situs Fight the Smears (Perangi Cela).

Dengan berbagai kiprah kampanye di internet, Edward Luce menulis, kalau ada medali emas dalam pemanfaatan teknologi baru untuk tujuan politik, maka setiap aficionado akan menyerahkannya kepada Obama (Financial Times, 13/6).

Ide itu masuk akal juga karena kanal Obama di YouTube punya hampir 1.300 video yang dibuat staf kampanyenya, dan itu setiap hari terus bertambah. Dari sisi orang yang melihatnya, video Obama telah ditonton 50 juta orang, sementara kanal YouTube John McCain yang punya 200 video baru ditonton 4 juta orang.

Tiga manfaat

Menurut Direktur Media Baru Obama Joe Rospars, tim kampanye melihat internet sebagai alat yang bisa untuk mencapai tiga sasaran, yakni membantu mengorganisasi pendukung, mengumpulkan dana, dan menyampaikan pesan (telling the campaign's story).

Berkembangnya dukungan terhadap Obama di internet juga disebabkan oleh sikap "silakan saja", laissez-faire, Obama, di mana pendukung dipersilakan ikut membangun konten kampanye dan bahkan membangun situs pendukung masing-masing, seperti juga kita lihat di Indonesia. Ada yang menyebut, kampanye Obama demikian internetfriendly. Sementara kedua calon lain, dalam hal ini Hillary Clinton dan John McCain, lamban dalam memanfaatkan potensinya. Ada kesan, tim kampanye Hillary menerapkan pengawalan terhadap isi situs mereka (gate-keeping). Padahal, semakin enteng video di era YouTube ini, semakin cepat ia menyebar.

Namun, dengan semua kemajuan ini, politisi juga menarik kearifan dari pemanfaatan teknologi baru.

Akan meluas

Apa pun, kini teknologi baru telah tersedia bagi para aspiran politik yang sedang mendambakan kekuasaan. Memang untuk berbagai negara, terkait dengan infrastruktur yang terpasang, masih banyak dianalisis, mana teknologi yang paling efektif dari teknologi tersebut. Salah satu analisis disampaikan pakar komunikasi Ade Armando dalam Seminar Asosiasi Ilmu Politik Indonesia di Banjarmasin pertengahan April silam. Karena internet masih terbatas di kota-kota besar, televisi dan media cetak dipercayai masih pemegang peranan terbesar dalam pemanfaatan teknologi media untuk politik.

Masalahnya, media yang besar pengaruhnya itu juga tidak selamanya bebas nilai. Pada masa lalu, Hitler menjadikan media untuk propaganda besar-besaran bagi cita-cita Nazi-nya (lihat Media and Society in the Twentieth Century, Gorman & McLean, 2003). Orde Baru juga melakukan hal yang sama.

Bahkan, karena besarnya pengaruh media seperti televisi, sosok seperti PM Italia Silvio Berlusconi dan keluarganya mengontrol jaringan penyiaran swasta Mediaset, yang diperkuat dengan tiga kanal terestrial (Financial Times, 13/6).

Selain untuk memengaruhi rakyat pemilih, medium seperti televisi juga besar peranannya dalam penyebaran nilai. Jadi, tidak heran apabila pemilik modal—apalagi yang punya cita-cita politik—tak ragu untuk berinvestasi besar dalam pertelevisian.

Di era pemilihan, politisi akan semakin luas memanfaatkan teknologi baru media.

http://cetak.kompas.com/read/xml/2008/06/18/01335532/media.teknologi.dan.kekuasaan

13 Juni 2008

Agustus, Televisi Bersama Indonesia-Malaysia

(12 Juni 2008) KERJASAMA Pemerintah Indonesia dan Malaysia dalam bidang komunkasi dan informasi yang dilakukan oleh Depkominfo dan Kementerian Penerangan Malaysia, antara lain bakal diwujudkan dalam bentuk pembuatan jaringan televisi bersama khusus untuk news tv channel.

Menkominfo Mohammad Nuh, menjanjikan Agustus 2008 mendatang sudah harus ada realisasinya. "Kita akan mengambil momentum Hari Kemerdekaan baik Indonesia maupun Malaysia di bulan Agustus. Mudah-mudahan pada Agsutus ini sudah ada realisasinya," katanya dalam jumpa pers bersama Menteri Penerangan Malaysia, Dato' Ahmad Shabery, di Jakarta, Kamis (12/6) siang.

Nuh mengungkapkan, sebagai negara serumpun, ada wacana dan keinginan untuk membuat televisi bersama dalam bentuk News TV Channel. Potensi penduduk hampir 300 juta jiwa serta penekanan terhadap berita aktual di kedua negara menjadi salah satu bahan pertimbangan.

Sementara Menteri Penerangan Malaysia, Dato' Ahmad Shabery, mengatakan, pihaknya akan menggunakan saluran yang sudah eksisting. "Penekannnya memang bagaimana kami sebagai negara bertetangga mendapatkan informasi tentang Indonesia dari Indonesia sendiri, demikian sebaliknya. Bukan mendapatkan informasi Malaysia dari negara lain, karena ini dikhawatirkan akan bias," katanya.

Selain kerjasama itu, disinggung pula beberapa bentuk kerjasama spesifik di bidang kewartawanan antar lembaga profesi, PWI dengan Persatuan Wartawan Melayu Malysia (PWMM). (kem)
http://www.depkominfo.go.id/

30 Mei 2008

Kompas.com, Kekuatan Pikiran dalam Koran Digital

KOMPAS/EDDY HASBY / Kompas Images
Pesulap Deddy Corbuzier menghibur tamu undangan pada Grand Launching Kompas.com Reborn di Hotel Mulia, Senayan, Jakarta, Kamis (29/5) malam. Hadir dalam acara itu Menteri Komunikasi dan Informatika M Nuh, Pemimpin Umum Harian Kompas Jakob Oetama, CEO Kompas Gramedia Agung Adiprasetyo, dan Executive Director Kompas.com Taufik H Mihardja
.
PEPIH NUGRAHA

Keduanya sama-sama punya nama panggung yang lebih dikenal. Geller Gyorgy beken dipanggil Uri Geller, sedangkan Deddy Cahyadi Sundjojo lebih dikenal sebagai Deddy Corbuzier. Geller dan Corbuzier sama-sama menyebut diri mereka mentalist ketimbang tukang sulap.

Geller, kelahiran Tel Aviv, 61 tahun lalu, adalah mentalist besar pertama yang menunjukkan kepada dunia bahwa kekuatan pikiran mampu membengkokkan sendok. Corbuzier, kelahiran Jakarta, 32 tahun lalu, tidak hanya mampu membengkokkan sendok, tetapi juga mampu meramal, membaca pikiran orang, dan mentransformasikan pikiran orang itu kepada orang lain.

Itulah yang ditunjukkan Corbuzier, pria dengan penampilan unik yang mengklaim diri sebagai Best Asian Mentalist, saat tampil pada acara Grand Launching Kompas.com bertajuk "Kompas.com Reborn" di Ballroom Hotel Mulia Jakarta, Kamis (29/5). Corbuzier, pesinetron Sandra Dewi, serta penyanyi Bunga Citra Lestari dan Ari Lasso tidak semata-mata selingan pengisi acara, tetapi menyatu dalam satu paket lahirnya kembali Kompas.com.

Apa yang ditunjukkan Corbuzier malam itu kepada hadirin, termasuk Menteri Komunikasi dan Informatika Mohammad Nuh, Chairman Kompas Gramedia Jakob Oetama, CEO Kompas Gramedia Agung Adiprasetyo, dan Direktur Eksekutif Kompas.com Taufik H Mihardja, bukan semata-mata pertunjukan membengkokkan sendok, tetapi bagaimana kekuatan pikiran bisa mentransformasikan kehendak yang masih ada dalam pikiran orang kepada pikiran orang lain. Lebih memesonakan lagi, Corbuzier mampu menebak apa yang sesungguhnya dikehendaki dan dipikirkan orang.

Itulah sesungguhnya puncak dari acara Grand Launching Kompas.com Reborn ini.

Meramal keinginan

Pertunjukan Corbuzier sendiri melibatkan banyak hadirin. Mula-mula ia menunjuk Arif, salah seorang hadirin. Arif kemudian memilih hadirin lain dengan menggunakan pesawat terbang mainan terbuat dari kertas, begitu seterusnya sehingga terkumpul tujuh orang. Lima orang di antaranya diminta harus menjawab pertanyaan yang terkait ramalan satu tahun ke depan nasib Kompas.com, satu orang bertugas menuliskan jawaban, dan satu orang lagi diminta memegang sampul kertas besar yang tidak boleh dibuka sebelum ada perintah.

"Andai tahun depan Kompas.com mendapat untung dan Anda berkesempatan piknik ke luar negeri, ke mana Anda akan pergi?" tanya Corbuzier. Dijawab, "Bangkok." Pertanyaan lain, "Akan berapa lama Anda tinggal di Bangkok?" Dijawab, "Tujuh hari."

Corbuzier mengandaikan semua pesawat terbang Indonesia mogok. "Mau naik apa Anda ke Bangkok?" Yang ditanya menjawab sekenanya, "Kapal selam." Corbuzier melanjutkan, "Di hotel mana menginap." seorang yang ditunjuk menjawab, "Hotel Nyenyak." Berapa dollar AS uang yang dibutuhkan untuk ke Bangkok, dijawab, "15.000 US dollar." Semua jawaban ditulis di atas white board.

Sampai di sini hadirin belum tahu ke mana suasana akan dibawa. Corbuzier masih meminta seorang peserta lainnya memilih satu saja dari ribuan nomor telepon dari dua buku telepon Bandung dan Jakarta.

Dari hasil acak, terpilihlah satu nomor telepon, yakni 8507837. Di atas panggung sudah menggantung kotak yang terkunci rapat. Kunci kotak itu hanya dapat dibuka dengan kode angka empat digit.

Dari kotak itu kemudian keluar kertas pengumuman yang dilipat-lipat. Setiap lipatan berisi satu jawaban yang tadi sudah ditulis di atas white board dan semua jawaban sama. Corbuzier berkata, "Bersama Kompas.com, tahun depan kita akan ke Bangkok selama 7 hari menggunakan kapal selam, menginap di Hotel Nyenyak, dan mendapat bekal masing-masing 15.000 dollar AS. Sebelum ke Bangkok, kita harus menghubungi seseorang di nomor…."

Corbuzier kemudian meminta tujuh orang yang memegang amplop besar itu serentak mengeluarkan isinya dan ditunjukkan kepada hadirin. Ternyata setiap amplop berisi satu angka yang kalau dirangkaikan menjadi 8507837, sesuai dengan nomor telepon pilihan acak tadi!

"Sharing" dan interaktif

Apa yang ditunjukkan Corbuzier dengan kekuatan pikirannya sejalan dengan kekuatan media massa digital seperti Kompas.com yang mampu "meramalkan" kehendak penggunanya (users) mengenai konten yang mereka kehendaki.

Keinginan para pengguna lebih mudah "ditangkap" berkat keunikan media massa digital yang mampu mengonvergensikan semua kekuatan yang ada dalam media massa sebelumnya, yakni menyatukan teks, suara, gambar, grafis, dan video.

Dengan kekuatan yang dimiliki itu, pengguna tidak harus menunggu terbitnya koran besok untuk mengetahui sebuah peristiwa karena Kompas.com, misalnya, menyediakan updating berita selama 24 jam.

Kebiasaan mendengarkan musik di radio atau menonton televisi, yang dulu terikat ruang dan waktu, bisa diambil alih Kompas.com yang menyediakan KompasTV, SelebTV, dan VideokuTV, yang bisa diklik kapan dan di mana saja.

http://cetak.kompas.com/read/xml/2008/05/31/00231149/kekuatan.pikiran.dalam.koran.digital

Menkominfo: Tiap 5 jam Saya akan Akses Kompas.com

Menkominfo, M Nuh (kiri) dipandu Sandra Dewi, menjawab pertanyaan pengunjung online KOMPAS.com pada acara Grand Launch KOMPAS.com Reborn di Hotel Mulia Senayan, Jakarta, Kamis (29/5) malam.
Di tengah kesibukannya sebagai pejabat negara, Menkominfo M Nuh berjanji akan mengakses Kompas.com tak hanya sehari sekali, tapi setiap 5 jam sekali. Hmm... bener, Pak? Tapi ada catatannya. Apa itu?

"Kalo Kompas.com menampilkan sesuatu yang baik, tidak hanya tiap hari, tapi bisa tiap 5 jam saya akan akses Kompas.com," ujar Nuh, yang disambut tepuk tangan para undangan yang menghadiri Grand Launching Kompas.com Reborn, di Ballroom Hotel Mulia, Jakarta, Kamis (29/5) malam. Lontaran itu disampaikan Nuh, saat ditanya apakah ditengah kesibukannya ia masih sempat mengakses internet, khususnya Kompas.com.

Pertanyaan lainnya, dengan fitur baru di Kompas.com yang menghadirkan Videoku, apakah Pak Menteri akan memblokir situs Kompas.com jika ada video yang mengandung unsur SARA? Pertanyaan wajar, mengingat di Videoku, masyarakat bisa mengirimkan video buatannya sendiri.

"Saya justru nggak yakin, akan ada hal seperti itu (di Kompas.com). Karena, pengunjung Kompas.com pasti orang yang baik-baik. Jadi, Kominfo tidak perlu melakukan blocking Kompas.com," ujarnya kembali disambut tepuk tangan.

Ok Pak Menteri...Selamat Datang di Kompas.com! ING

http://tekno.kompas.com/read/xml/2008/05/29/20121922/menkominfo.tiap.5.jam.saya.akan.akses.kompas.com

28 Mei 2008

Kompas.com, Lahir Kembali dengan Wajah Baru

PEPIH NUGRAHA

Kompas.com lahir kembali? Itu pertanyaan yang berlalu lalang lewat surat di berbagai forum diskusi dunia maya. Bagaimana mungkin ia lahir kembali kalau sekarang pun sudah ada? Pertanyaan semacam itu biasanya dijawab sendiri oleh anggota sehingga menjadi diskusi menarik bagi anggota forum itu.

Kamis ini, tanggal 29 Mei 2008 pukul 18.00 hingga 22.00 WIB, di Grand Ballroom Hotel Mulia, Senayan, Jakarta, jawaban dari pertanyaan itu terjawab sudah. Kompas.com memang lahir kembali. Pengertian "reborn" atau terlahir kembali di sini, yang kemudian menjadi tag dari grand launching, adalah Kompas.com hadir dengan wajah baru. Wajah yang lebih bersih, namun dengan rubrik-rubrik yang jauh lebih kaya dan beragam. Semua kebaruan itu hadir untuk memuaskan lebih dari tiga juta pengguna yang berkunjung setiap hari ke www.kompas.com.

Kesadaran bahwa Kompas.com harus lahir kembali itu tidak datang secara tiba-tiba. Persiapannya memakan waktu satu tahun, mulai dari membedah isi Kompas Cyber Media (KCM), yakni nama Kompas.com sebelumnya, merencanakan rubrik-rubrik spesifik, membangun infrastruktur baru berupa penambahan bandwidth yang memungkinkan pengguna lebih cepat berselancar, sampai mengonvergensikan kekuatan sumber daya manusia dalam satu News Room bersama. Hasilnya? Sudah tampak dari pengakuan dua lembaga independen.

Pertama, lima hari sebelum peluncuran Kompas.com "Reborn" ini, Sabtu (24/5), Kompas.com meraih Penghargaan Cakram (Cakram Award) untuk kategori perusahaan pengelola portal berita. Penghargaan ini sekaligus mengukuhkan Kompas.com mengungguli dua situs berita lainnya, Detik.com dan Okezone.com. Kedua, tiga hari kemudian, Kompas.com kembali meraih New Wave Marketing Award dari perusahaan konsultan pemasaran MarkPlus Inc karena dinilai berhasil membangun relasi partisipatif dan kolaboratif dengan penggunanya.

Dua penghargaan yang disabet dalam jarak waktu tiga hari dan lima hari sebelum grand launching Kompas.com "Reborn" bukanlah rekayasa. Sebab, dua institusi pemberi penghargaan itu bersifat independen, yang tidak ada kaitannya dengan Kompas.com. Bahwa tahun depan penghargaan beralih ke situs-situs lain atau bahkan masih milik Kompas.com, itu soal lain.

Menjadi megaportal

Pertanyaan umum dan juga pertanyaan mendasar saat awal pembentukan Kompas.com wajah baru ini adalah apakah kata "megaportal" yang disandang Kompas.com itu akan menjadikan situs ini bermain di ranah yang sudah dikuasai Google dan Yahoo? Atau lebih baik menjadi situs berita semata head to head dengan situs berita lain tanpa harus direpotkan dengan konten lainnya?

Taufik H Mihardja, Direktur Eksekutif Kompas.com, dalam rapat-rapat terbatas persiapan lahirnya situs dengan wajah baru ini meyakinkan bahwa Kompas.com akan menjadi megaportal, suatu tempat maya di mana orang tidak hanya dipuaskan oleh berita semata, tetapi juga oleh kehadiran rubrik-rubrik lain yang beragam. "Bahwa tekanan masih pada berita, itu benar. Tetapi kebutuhan orang tidak semata-mata pada berita," katanya.

Kesadaran lain mengenai perlunya penguatan terhadap Kompas.com bukan karena adanya anggapan semua oplah koran cetak menurun yang diiringi menurunnya penghasilan iklan, tetapi lebih karena keharusan konvergensi dari sekian kekuatan yang dimiliki Kompas Gramedia (KG). Oplah harian Kompas cetak, misalnya, stabil dan bahkan Warta Kota, Surya, dan koran daerah yang menyandang nama Tribun mengalami kenaikan oplah fantastis. Lantas mengapa harus membesarkan Kompas.com?

Jawabannya: menyikapi dan mengantisipasi tuntutan zaman! Ketika harga kertas makin menggila, ketika produsen lebih suka memasang iklan interaktif dan mobile, dan ketika harga laptop dan ponsel berinternet sudah semakin terjangkau dan memassa, media massa digital seperti Kompas.com akan menjadi pilihan paling masuk akal.

Salah satu keberhasilan konvergensi paling nyata adalah dalam konten berita, yang kemudian mendapat Cakram Award itu. Berita yang hadir di Kompas.com merupakan kekuatan dari sumber-sumber berita yang dimiliki KG, mulai dari 200-an wartawan harian Kompas, wartawan dari kelompok majalah, persda, serta Surya dan Warta Kota.

Padahal, Kompas.com "Reborn" masih diperkaya konten Radio Sonora, Kompas Images (foto), KompasTV, SelebTV, sampai VideokuTV, yang mengadopsi situs YouTube, di mana pengguna bisa meng-upload video sendiri.

http://cetak.kompas.com/read/xml/2008/05/29/00493943/kompas.com.lahir.kembali.dengan.wajah.baru

Kompas.com 2.0, Cermin Masa Depan Industri Media dan Jurnalistik

Ninok Leksono

"...(Perkembangan yang terjadi di internet sekarang ini) adalah tentang si banyak yang merebut kuasa dari si sedikit, dan saling bantu satu sama lain tanpa mengharapkan imbalan, dan bagaimana itu semua tidak hanya akan mengubah dunia, tetapi juga mengubah cara dunia berubah." (Lev Grossman, Time, 2006)

Piala atau penghargaan bukan tujuan. Namun, tatkala ia datang pada momen penting, besarlah artinya. Ini pula yang dapat dikatakan tentang dua penghargaan yang diterima oleh situs www.kompas.com dalam sepekan terakhir.

Pekan ini, Kompas.com meraih penghargaan terkait dengan tren pemasaran baru—dikenal sebagai New Wave Marketing—dari MarkPlus. Sebelumnya, Sabtu (24/5), Kompas.com meraih Cakram Award untuk kategori perusahaan pengelola portal berita. Kedua penghargaan diterima sepekan sebelum megaportal Kompas.com diluncurkan Kamis malam ini.

Dua penghargaan itu membawa argumen yang bersemangat sama. Di sana ada elemen "terobosan" yang, menurut Ketua Panitia Cakram Award Adji Dharmoyo, membawa semangat untuk menjadi yang terunggul, ada kreativitas, efektivitas, daya juang, keunikan, kejelian membaca peluang, dan kemampuan mengubah ide menjadi kerja atau produk nyata (Kompas, 25/5).

Sementara itu, MarkPlus menilai Kompas Gramedia melalui megaportal Kompas.com telah memelopori pendekatan pemasaran baru, membangun relasi partisipatif dan kolaboratif dengan penggunanya, hal yang menurut CEO MarkPlus Hermawan Kertajaya "tidak terhindarkan karena tuntutan kreativitas yang didorong perkembangan teknologi digital".

Kompas Online & "beyond"

Oleh pendiri Kompas, dalam hal ini Jakob Oetama, Kompas. com yang terlahir sebagai Kompas Online pada 14 September 1995 divisikan sebagai Kompas masa depan yang senantiasa muda (rejuvenated), segar dalam kemasan teknologi mutakhir. Pandangan tersebut tidak saja visioner, tetapi juga pragmatis mengingat dalam riwayatnya, media cetak—sebagaimana dialami Kompas dalam wujud orisinalnya—terpagar dalam berbagai kendala, bahkan hingga hari ini.

Naiknya harga kertas koran setiap kali juga menyadarkan pengasuh media cetak bahwa ada elemen produksi yang bisa menjadi kuda liar, lebih-lebih ketika ia semakin terkait dengan perekonomian global, dan boleh jadi juga lingkungan.

Bahkan, di kalangan aktivis media baru sering pula tercetus ungkapan yang nuansanya menyindir media cetak bahwa "Zaman Batu berakhir bukan karena orang kehabisan batu, tetapi karena telah ditemukan teknologi baru yang lebih baik".

Kompas Online semula hanya memuat edisi cetak, tetapi secara bertahap kemudian diperkaya oleh konten-konten yang khas dengan medium internet, yang dalam kerangka Web 1.0 masih bertumpu pada pemutakhiran berita (news update).

Media online yang mulai bertumbuh medio 1990-an meminjam pepatah berita adalah "history in the making" dari media televisi global, yang semenjak Perang Teluk, Januari 1991, mempraktikkan jurnalisme ini.

Kompas.com 2.0

Penulisan di atas diharapkan mengingatkan orang pada Web 2.0 yang jadi populer menyusul konferensi yang diselenggarakan oleh O'Reilly Media tahun 2004. Meski masih harus melakukan penyempurnaan, Kompas.com yang sejak Agustus 1998 dikelola oleh PT Kompas Cyber Media telah menjadi praktisioner awal jurnalisme dan bisnis online di Tanah Air.

Namun, ada perkembangan lain yang mau tak mau harus diperhitungkan oleh pengelolanya, bahkan juga oleh perusahaan induk yang memayunginya (Kompas Gramedia). Perkembangan tersebut terkait dengan berubahnya gaya hidup dan pola masyarakat dalam mendapatkan informasi.

Perubahan masyarakat ini ditandai pula dengan lahirnya apa yang disebut Generation C, atau Generasi Digital, untuk menyebut mereka yang lahir di paruh kedua 1980-an atau paruh pertama 1990-an. Mereka inilah digital native yang "dari sononya" memang lebih akrab dengan gadget (peranti), seperti HP, PDA, dan sejenisnya.

Orientasi Kompas.com pun lalu membutuhkan arah baru (redirection). Itu sebabnya, Taufik H Mihardja, yang kini menjadi nakhoda Kompas.com, menghadirkan Kompas.com baru, yang dari sosok fisik maupun semangatnya mengakomodasi perkembangan di atas.

Kalau polesan Taufik dan timnya, yang juga mendapat dorongan penuh dari CEO Agung Adiprasetyo, amat mengedepankan forum dan komunitas, selain berita, itu tak lebih dari respons memenuhi panggilan zaman.

Definisi Web 2.0 menyebut pemanfaatan teknologi www dan desain web dewasa ini ditujukan untuk meningkatkan kreativitas, berbagi informasi, dan— paling nyata dari semuanya— kerja sama di antara pengguna. "Konsumen ingin lebih partisipatif," kata Hermawan.

Memacu jurnalisme

Dalam kerangka Web 2.0, sebetulnya bukan hanya bisnis yang dipacu, tetapi juga jurnalisme. Ini karena dalam aspek komunitas yang didorong oleh Web 2.0 terkandung juga elemen jurnalisme, dalam hal ini yang paling alamiah adalah jurnalisme warga. Kini berbagai informasi, baik yang hard seperti berita maupun yang soft, banyak diperoleh dari blog. Muncul pertanyaan, apakah blog merupakan masa depan jurnalisme?

Sebelum ini, jurnalisme online acap dikritik karena semata mengedepankan kecepatan dan mengorbankan akurasi sehingga sempat dijuluki jurnalisme, "Get it first, then get it right". Namun, dengan semakin dewasa, kini sudah ada mekanisme self-correcting.

Semuanya tampak sebagai bagian dari proses redefinisi jurnalisme.

Dalam konteks inilah kita melihat peluncuran kembali Kompas.com, Kamis malam ini, sekaligus juga sebagai cermin arah besar bisnis media dan jurnalisme, tidak saja di Tanah Air, tetapi juga di dunia. (NIN)

http://cetak.kompas.com/read/xml/2008/05/29/00232812/cermin.masa.depan.industri.media.dan.jurnalistik

27 Mei 2008

BPPT Siapkan Migrasi TV Analog ke Digital

Jakarta (ANTARA News) 27/05/08 - BPPT sedang mempersiapkan migrasi pemancar siaran TV dan perangkat televisi analog ke era digital yang ditargetkan rampung pada tahun 2015 untuk seluruh Indonesia.

"Sekarang ini seluruh dunia arahnya ke sana, bahkan AS sudah seluruhnya digital, tidak ada lagi siaran analog," kata Kabid Sistem Komunikasi Multimedia Pusat Teknologi Informasi dan Komunikasi BPPT Dr Hary Budiarto di Jakarta, Selasa.

Saluran TV analog yang menggunakan gelombang UHF, ujarnya, hanya mampu digunakan oleh maksimal 14 kanal stasiun pemancar TV, yang jika dipaksakan maka terjadi interferensi yang membuat suara dan gambar yang ditampilkan menjadi rusak.

Data saat ini di Indonesia terdapat 11 TV berizin siaran nasional, 97 TV berizin regional, 30 TV berlangganan (60 persen TV kabel, 20 persen satelit dan 20 persen Terestrial) serta ada sekitar 300 izin baru yang tak terlayani karena sudah tak tersedia lagi kanal TV.

Sementara itu, dengan siaran TV digital, setiap satu kanal yang lebarnya 7-8 MHz bisa dipakai oleh enam program siaran TV, sehingga selain terjadi optimasi frekuensi juga optimasi bandwidth.

Siaran TV Digital, katanya, juga memiliki kelebihan lain seperti dimungkinkannya konten aplikasi lebih banyak untuk kemampuan berinteraktif.

"Misalnya untuk acara American Idol, penonton di rumah cukup berinteraksi melalui TV digital, bandingkan dengan di Indonesia yang harus menggunakan SMS," katanya.

Pemilik TV digital juga bisa berinternet dengan menggunakan TV digitalnya, tambahnya.

Untuk menuju era TV digital ini, BPPT akan merampungkan alat yang disebut "set-top-box" pada Juni 2008 sebagai prototipe untuk diproduksi massal. Alat ini dibutuhkan masyarakat untuk menangkap siaran digital tanpa harus membeli TV digital yang mahal.

"Sebenarnya Polytron (pabrik peralatan elektronika dalam negeri -red) sudah memproduksi TV digital dan siap meluncurkannya jika kita sudah migrasi ke siaran TV digital. Sayangnya, era ini masih 10 tahun lagi," katanya.

BPPT, tambahnya, juga sedang mengembangkan pemancar siaran TV digital dengan standar yang sudah ditetapkan secara nasional yakni DVB-T serta menyusun spesifikasi teknis perangkat sistem siaran TV digital untuk standar nasional Indonesia (SNI) bekerjasama dengan Depkominfo.(*)