Tampilkan postingan dengan label rating. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label rating. Tampilkan semua postingan

30 Juni 2008

Tayangan Piala Eropa - Pemirsa Laki-laki Meningkat 128 Persen

Pada musim Piala Eropa 2008, pemirsa laki-laki yang menyaksikan tayangan sepakbola semakin meningkat.

[JAKARTA] Tayangan sepakbola masih menjadi ton- tonan favorit pemirsa laki-laki. Pada musim Piala Eropa 2008, pemirsa laki-laki yang menyaksikan tayangan sepakbola semakin meningkat. Dibanding Piala Eropa 2004, kenaikan penonton laki-laki saat tayangan siaran langsung Piala Eropa 2008 di stasiun RCTI, TPI dan Global TV meningkat hingga 128 persen.

Berdasarkan data AGB Nielsen dengan basis survei di Jakarta dan sekitarnya, Bandung, Surabaya serta Yogyakarta hingga babak final 23 Juni lalu tayangan ini menyedot perhatian laki-laki dengan kategori usia 20 tahun ke atas, kelas menengah yang pengeluaran rutin bulanan rumah tangga di atas Rp 700.000. Sementara remaja laki-laki usia 15-19 tahun memilih menonton siaran ulangnya di pagi, siang ataupun malam hari.

Sementara itu, dibandingkan dengan Piala Eropa 2004, tahun ini menarik banyak pemirsa laki-laki yang ditayangkan pada waktu yang sama, yaitu sekitar pukul 06.00- 07.00 WIB dan 22.00-23.00 WIB. Di dalam kelompok ini, ada total penambahan pemirsa hingga 128 persen atau menjadi 1,2 juta penonton dibandingkan siaran langsung Piala Eropa 2004 yang hanya berjumlah 932.000 penonton.

Target pemirsa ini juga terlihat lebih banyak dibandingkan periode tayangan reguler yang terutama tampak pada saat Piala Eropa 2008 disiarkan secara langsung. Kenaikan penonton laki-laki usia 20-an ini bahkan meningkat tiga kali lipat dari periode tayangan reguler yang biasanya menghadirkan program musik atau film laga sebagai tayangan favorit yang mereka tonton.

Beberapa pertandingan yang paling banyak ditonton oleh laki-laki 20-an ini adalah pertandingan babak penyisihan grup yang terutama ditayangkan antara pukul 23.00 sampai 01.00 dini hari. Di antaranya adalah Italia vs Rumania dengan rating 3,8 dan share 18,8, Kroasia vs Jerman dengan rating 3,6 dan share 20,1 pada 13 Juni 2008 pukul 23.00-01.00 dan Prancis vs Italia pada dengan rating 3,6 dan share 51,3 pada 18 Juni 2008 pukul 01.30 - 04.00 WIB.

Menarik Penonton

Share adalah sebutan untuk presentasi dari besarnya pemirsa potensial (yang sering menonton) yang menonton program tertentu pada periode waktu yang sama.

Rating yang biasanya dikenal orang sebagai peringkat sebenarnya adalah presentase dari suatu populasi atau target populasi yang menonton program tertentu pada periode waktu tertentu.

"Lebih dari 50 persen penonton TV memasang mata untuk Prancis vs Italy yang ditayangkan pada dini hari. Selain karena mereka termasuk tim besar, kompetisi antarprogram sudah berkurang sehingga mampu menarik penonton yang cukup besar," ungkap Associate Director Marketing and Client Service AGBNielsen, Hellen Kathe- rina. [DGT/U-5]

http://www.suarapembaruan.com/News/2008/06/30/index.html

21 Juni 2008

Yang Berkualitas Itu yang Mendidik

Menyajikan informasi, menghibur, dan mendidik adalah tiga hal utama di antara fungsi sosial media televisi. Di antara ketiganya, Survei Kompas menunjukkan, fungsi mendidik menjadi parameter yang utama dalam menilai suatu acara berkualitas atau tidak.

Hasil Survei Kompas ini tidak terlalu berbeda jauh dengan hasil Survei Rating Publik yang dilakukan gabungan beberapa organisasi nonpemerintah beberapa waktu lalu. Acara-acara seperti Kick Andy (Metro TV), program berita seperti Liputan 6 (SCTV) dan Metro Realitas (Metro TV) menduduki peringkat atas sebagai acara yang dianggap bermutu oleh pemirsa televisi.

Adanya perbedaan hasil pemeringkatan oleh Survei Rating Publik—diselenggarakan Yayasan Sains, Estetika, dan Teknologi (SET), didukung Yayasan TIFA, Ikatan Jurnalis Televisi Indonesia (IJTI), The Habibie Center, dan London School of Public Relations—dan Survei Kompas ini disebabkan perbedaan metodologi dan pemilihan responden. Survei Rating Publik menggunakan metode Peer Review Assessment dengan responden yang dipilih secara sengaja (purposive). Sementara Survei Kompas melalui telepon dengan nomor telepon responden yang dipilih secara acak sistematis (systematic random).

Meski demikian, perbedaan tersebut tidaklah menghasilkan gambaran yang berbeda mengenai seperti apa acara yang berkualitas itu. Jika bisa disimpulkan bersama, kedua survei ini menunjukkan bahwa program berita dan acara bincang-bincang (talk show) secara umum adalah acara yang dianggap berkualitas oleh pemirsa televisi.

Lebih jauh, Survei Kompas mengungkap, mendidik, realistis, dan informatif adalah tiga alasan utama responden menilai sebuah acara itu berkualitas atau tidak. Bahkan, hal mendidik ini juga termasuk jadi alasan bagi sebagian responden yang memilih acara berita sebagai yang berkualitas. Artinya, acara-acara berita di televisi kita pun tidak hanya dituntut informatif dan aktual, tetapi juga harus mendidik.

Namun, meski acara berita dan talkshow dianggap acara yang berkualitas, hanya program-program berita saja yang benar-benar menjadi acara yang paling sering ditonton. Pada kenyataannya, responden masih lebih sering menonton acara-acara sinetron dan ajang kontes idola ketimbang menyimak talkshow.

Bisa jadi, karena memang sinetron adalah program acara yang paling sering tayang dan tentu saja paling banyak durasi waktunya. Bisa jadi juga, bagi sebagian orang sinetron itu memang menarik ditonton, tidak peduli pada kualitas baik atau buruknya.

Meski sinetron masih menduduki peringkat tinggi sebagai acara yang paling sering ditonton, namun Survei Kompas kali ini juga mengindikasikan penurunan kualitas sinetron. Dua dari tiga (67,1 persen) responden menilai kualitas sinetron Indonesia saat ini buruk. Sementara pada survei serupa enam bulan yang lalu, mereka yang memberikan apresiasi positif maupun negatif terhadap sinetron Indonesia ini relatif masih seimbang.

Hal ini bisa berarti tidak ada perbaikan kualitas sinetron Indonesia selama enam bulan ini, yang terjadi malah penurunan. Setidaknya ini yang tergambar dari hasil survei. Sementara itu, umumnya harapan responden pada perbaikan kualitas sinetron Indonesia masih tetap sama, yaitu sinetron yang mendidik dan realistis.

Bagi kebanyakan keluarga di negeri ini, tampaknya menonton televisi itu adalah kegiatan kolektif daripada kegiatan yang bersifat individual. Survei menunjukkan, tidak sampai satu dari sepuluh (8,4 persen) responden yang tidak pernah menonton televisi bersama keluarga. Selebihnya punya acara-acara favorit yang selalu ditonton bersama anggota keluarga.

Dan ternyata, acara-acara favorit bersama keluarga itu tidak jauh dari tayangan ajang kontes idola dan sinetron. Maka tidak heran jika hal mendidik ini begitu sentral sebagai parameter menilai acara-acara televisi kita. Sebab, tontonan yang mendidik itulah yang sangat ingin dihadirkan di tengah ruang keluarga. BE Satrio

http://cetak.kompas.com/read/xml/2008/06/22/01005790/yang.berkualitas.itu.yang.mendidik

"StarDut" 2008 Raih Rating Tertinggi

[JAKARTA] Acara musik dangdut mempunyai tempat tersendiri di hati pemirsa Indonesia. Maraknya berbagai macam program-program televisi di Tanah Air, namun ternyata program StarDut 2008 yang tayang di Indosiar mendapat respons positif dari pemirsa dengan perolehan rating tinggi.

Menurut Humas Indosiar Gufrroni Sakaril, data AC Nielsen (week 0824) menunjukkan Stardut 2008 memperoleh rating 4,3 dan share 17,3 persen. Lalu, Super Soulmate Concert memperoleh ranting 4,1. Sebaliknya, acara dengan topik yang sama, Dangdut Mania 3 mendapat peringkat ke-3 dengan menyabet rating 4 dan share 14. Masih dengan reality show bertajuk dangdut, KDI 5 mendapat peringkat ke 6 dengan perolehan rating 3 dan share 10,7. Sementara itu, pada posisi 4 diduduki program Mama Mia 2008 dengan rating 3,7 dan share 14,1. Berikutnya program acara Indonesian Idol berada di peringkat 5 dengan perolehan rating 3,4 dan share 10,6.

Program Stardut 2008 tidak hanya menonjolkan kemampuan vokal dengan suara emasnya saja. Mereka juga akan menampilkan aksi panggung yang atraktif bersama ayah atau bundanya. Selain itu, tayangan ini juga menampilkan ikatan emosi antara ayah/bunda dengan putra-putrinya.

Acara Stardut menampilkan ayah/bunda sebagai pendamping atau calon manajer calon bintang. Selanjutnya, ada juga sosok putra-putri sebagai calon bintang dangdut Indonesia. Musik dangdut saat ini bersifat universal dan disukai masyarakat dari semua golongan. Program Stardut 2008 memulai audisinya pada tanggal 23 dan 24 Februari 2008 di dua kota di Jakarta dan Surabaya. Setelah itu mulai berkompetisi dan tampil dalam acara televisi yang berjudul Stardut Cabut 2 dan Stardut Incer 2, Stardut Pilih 1 (wildcard).

Sebanyak 13 pasang finalis akhirnya terpilih untuk berhak tampil dalam Konser StarDut 2008 yang ditayangkan setiap hari Minggu pukul 18.00 WIB mulai 22 Juni 2008 bertempat di Britama Sportmall, Kelapa Gading, Jakarta Utara. [DGT/U-5]

http://www.suarapembaruan.com/News/2008/06/21/index.html

07 Juni 2008

Matikan Televisi Anda! - Televisi menjadi sekolah kedua bagi anak. Sekolah yang berbahaya.

Laksana tamu tak diundang. Siaran televisi datang dan membikin si buyung atau si upik lekas matang. Ibarat buah mangga yang dikarbit, para bocah ini dipaksa dewasa sebelum waktunya lewat ajaran-ajaran pop khas layar kaca: Kawin cerai, selingkuh para selebritis, atau pacaran di usia dini. Selamat datang di surga anak-anak pedoyan televisi!

Survei termutakhir UNICEF pada 2007 silam bak dering jam weker yang pantas membuat orangtua awas. Kata badan PBB itu, para bocah di Indonesia terpekur rata-rata lima jam sehari di depan layar kaca atau total jenderal 1.560 hingga 1.820 jam setahun. Angka ini, menurut UNICEF, jauh lebih gemuk ketimbang jumlah belajar mereka yang 1.000 jam setahun di sekolah.

Maka jadilah kotak televisi sekolah tandingan bagi anak-anak ini. Naasnya, jika diamsalkan sekolah, maka televisi adalah sekolah yang berbahaya. Yayasan Pengembangan Media Anak (YPMA) mengantongi data, hanya 30 persen acara televisi yang aman dikonsumsi anak pada 2006. ''Angkanya tak berubah banyak pada 2007,'' ujar Boby Guntarto, penggagas Hari Tanpa Televisi dari YPMA, yang siap merilis angka termutakhir bulan depan.

Disebut sekolah berbahaya lantaran, ya itu tadi, kotak televisi sesungguhnya dijubeli materi-materi khusus untuk orang dewasa. Tayangan infotainment menggeruduk di pagi hari tatkala anak tengah sarapan. Tayangan sinetron tumpah ruah di layar kaca bak air bah dari sore hingga menjelang tidur. Walhasil, kata B Guntarto,''Bocah-bocah zaman sekarang sudah terbiasa dengan istilah kawin, cerai, atau selingkuh,'' tutur dia. ''Kata-kata atau perilaku ini semestinya konsumsi orang dewasa.''

Maka, alangkah malangnya anak-anak (zaman sekarang) ini, kata psikolog pendidikan dari Lembaga Pendidikan Optima Solo, Niken Iriani. Keceriaan dan kepolosannya mereka—disadari atau tidak—berpeluang terbang akibat masuknya persoalan orang-orang dewasa ke dalam otak mereka. Lewat televisi.

Dan, bukannya musykil 'peluru' layar kaca ini kelak membetikkan gangguan psikologis dalam diri sang bocah. Gejala emosional itu muncul dan membentang di antara dua titik bandul: Dari peniruan tindak kekerasan hingga—yang kurang ekstrem—pertanyaan-pertanyaan di luar dugaan.

''Pak, bercumbu itu apa?'' tutur Syifa Kamila, bocah usia 5 tahun, kepada sang ayah, Muhamad Julianto (32) warga Puri Cipageran, kota Cimahi, Jawa Barat. Yang ditanya kontan terperanjat tetapi kemudian tersenyum kecut dan bergumam dalam batin: Pasti gara-gara televisi!

Usai mengumpat, Julianto sekaligus bertanya: Apa gerangan yang membikin acara televisi bagaikan tumpukan sampah penebar racun bagi anak-anak? ''Kayak limbah B3 aja,'' seloroh karyawan bank swasta itu.

Dewa itu bernama rating. Ia yang memberi kata putus: Program televisi apa yang mesti diproduksi, diabaikan, bahkan dilenyapkan sama sekali dari layar kaca. Dirilis oleh AGB-Nielsen Media Research, rating menunjukkan seberapa besar penonton sebuah tayangan televisi. Kian tinggi rating, kian besar peluang program tersebut kebagian kue iklan yang nilainya ratusan juta hingga miliaran rupiah itu.

Rating pun mulai menebar sihirnya. Program stasiun televisi yang ditabalkan AGB-Nielsen memiliki rating tinggi, mulai ditiru stasiun televisi lainnya. Terjadi duplikasi di sana sini. Inilah mengapa pelbagai tayangan yang tampak serupa tumplek di banyak stasiun televisi nasional—yang jumlahnya ada 11 saat ini.

Padahal, dan celakanya,''Program dengan rating tinggi belum tentu berkualitas,'' ujar Agus Sudibyo, deputi direktur Yayasan Seni Estetika dan Teknologi (SET). Hal itu dikukuhkan oleh hasil riset yang dihelat yayasan SET bekerjasama dengan 16 lembaga sepanjang Maret hingga April 2008 lalu. Hasil riset diungkap Rabu pekan lalu (28/5) di Jakarta.

Riset, ujar Agus, dilakukan dengan metode Peer Review Assessment, di mana sekelompok orang (220 orang) dengan kapasitas pengetahuan memadai memberi penilaian kualitatif terhadap 15 acara berating tinggi versi AGB-Nielsen. Hasilnya? Sebagian besar acara be-rating tinggi justru berkualitas 'jongkok'.

Acara-acara ini dinilai tidak memberi model perilaku yang baik, bertabur kekerasan dan pornografi, tidak meningkatkan empati sosial, dan tidak ramah anak. (lihat boks). Padahal acara-acara 'sampah' ini bertaburan dan kian mensesaki layar kaca—atas nama rating dan demi misi memburu iklan. Inilah jawaban atas pertanyaan Julianto: Mengapa acara televisi kayak limbah B3?

Tak keliru bahwa televisi telah memberi pemeringkatan usia. Misalnya 'D' untuk tayangan konsumsi dewasa, 'SU' untuk semua umur, dan 'BO' untuk bimbingan orang tua. Tapi bagi Santi Indra Astuti, aktivis Media Literarcy Bandung, pembatas ini bagaikan pagar ilalang yang mudah diterobos anak-anak. Santi tak percaya itu. Sementara televisi adalah teror subtil yang perlu ditangani serius.

Kotak elektronik ini jelas menyumbang saham besar bagi pendangkalan norma-norma di masyarakat. Tren pemakaian rok mini di kalangan remaja, misalnya, muncul setelah diabsahkan lewat media elektronik. Televisi juga berperan dalam mengikis kepekaan masyarakat terhadap banyak hal. "Dahulu anak-anak takut melihat darah. Lantaran sering melihat di televisi lantas menjadi biasa, bahkan menjadi hiburan tersendiri," tutur ibu dua anak ini.

Di layar kaca, lanjut dia, kehidupan seringkali digambarkan penuh konflik. Sekolah adalah tempat menakutkan. Guru digambarkan aneh. Siswa kutu buku dianggap orang aneh. Penggambaran semacam ini berpengaruh kepada pandangan anak-anak terhadap sekolah. ''Anak menjadi sulit membedakan realitas simbolik dan real," ungkapnya.

Salah satu jalan keluar adalah membuat anak menjadi lebih kritis terhadap tayangan yang dikonsumsi. Caranya, ujar Santi, adalah dengan membuka ruang diskusi dengan anak saat menonton. Atau: Matikan televisi Anda!

Agen Perubahan yang Mesti Berubah

Agent of change atau agen perubahan adalah predikat yang kerap ditabalkan kepada media massa, termasuk kotak televisi. Sebelum berharap terlampau jauh, bertanyalah: Bagaimana sih kualitas tayangan televisi di negeri ini, secara umum?

Para responden ini tak memberi acungan jempol. Sebagian besar memberi nilai 'biasa saja' untuk program-program acara yang berseliweran di kotak televisi—sang agen perubahan itu Apa televisi menambah pengetahuan? Biasa saja. Apa meningkatkan empati sosial? Biasa saja. Apa meningkatkan daya kritis? Biasa saja. Apa memberi informasi untuk pengawasan? Biasa saja. Apa memberi model perilaku yang baik? Biasa saja.

Penilaian Kualitas Program Acara Televisi Secara Umum

0,5 persen : sangat baik
27,2 persen : baik
41,9 persen : biasa saja
24,6 persen : buruk
4,2 persen : sangat buruk
1,6 persen : tidak tahu

Hiburan Berbahaya

Acara hiburan adalah tayangan yang paling digandrungi anak-anak dan dinilai paling aman dinikmati si buyung dan si upik. Tetapi riset yang digelar oleh yayasan SET mengungkap paradoks. (lihat angka)

80,1 persen
responden menyatakan bahwa tayangan hiburan di televisi justru tidak ramah anak alias berbahaya jika ditonton oleh anak-anak.
68,6 persen
responden menyatakan tayangan hiburan di televisi buruk dan sangat buruk dalam memberi model perilaku yang baik kepada pemirsanya.
50,8 persen
responden menyatakan bahwa program hiburan di televisi amat buruk/buruk dalam meningkatkan empati sosial, yakni memberi kesadaran untuk peduli terhadap orang lain.
70,7 persen
responden menyebut program hiburan di televisi menunjukkan kualitas buruk dalam mengangkat tema yang relevan dalam kehidupan masyarakat.

Saatnya Menilai Televisi dengan "Rating" Kualitas

DAHONO FITRIANTO & SUSI IVVATY

Prihatin terhadap sistem "rating" kuantitatif sebagai patokan menilai program televisi, beberapa organisasi independen membuat metode survei lain, yakni menilai kualitas acara televisi. Hasil survei menunjukkan, program yang paling banyak ditonton bukanlah yang bermutu terbaik.

Survei bertitel Rating Publik "Menuju Televisi yang Ramah Keluarga" ini dilakukan Yayasan Sains, Estetika, dan Teknologi (SET) didukung Yayasan TIFA, Ikatan Jurnalis Televisi Indonesia (IJTI), The Habibie Center, dan London School of Public Relations.

Koordinator survei Agus Sudibyo menegaskan, meski sama- sama menggunakan kata rating, metode ini bukan dimaksudkan untuk menandingi sistem yang diselenggarakan lembaga riset AGB Nielsen (yang menjadi patokan stasiun TV selama ini). "Metodenya jauh berbeda," ungkap Agus.

Survei rating publik ini dilakukan dengan menyebar kuesioner dan rekaman kepada 220 responden, masing-masing 20 responden di 11 kota, yakni Jakarta, Medan, Bandung, Semarang, Surabaya, Yogyakarta, Makassar, Denpasar, Batam, Pontianak, dan Palembang. Responden dipilih menggunakan metode sampel kuota dan dari kalangan pemerhati televisi di setiap kota.

"Respondennya harus orang- orang yang paham dan bisa menilai secara kritis program acara televisi. Jadi, tidak bisa dipilih secara acak dari para kalangan masyarakat umum. Riset ini tidak berpretensi menggambarkan penilaian seluruh penonton televisi," papar Agus.

Untuk mencari responden yang sesuai dengan kriteria itu, mereka bekerja sama dengan lembaga independen pemerhati televisi di setiap kota, yakni Yayasan Kippas (Medan), LKi&KP (Batam), LPS-AIR (Pontianak), LKM (Surabaya), Silabika dan Pustaka Melayu (Palembang), YPMA KIDIA (Jakarta), LeSPI (Semarang), Jurusan Jurnalistik Fikom Unpad (Bandung), Pusat Studi Audience Program Studi Ilmu Komunikasi STPMD "APMD" (Yogyakarta), Elsim (Makassar), dan IJTI Provinsi Bali (Denpasar).

Selain harus menjawab kuesioner, setiap responden juga harus menonton rekaman 15 acara TV, masing-masing lima acara untuk tiga kategori utama acara TV, yakni hiburan, bincang-bincang (talkshow), dan berita reguler. "Kami kirimi setiap responden rekaman itu agar mereka bisa benar-benar menelaah isinya. Lima acara yang dipilih adalah acara yang memiliki rating tertinggi berdasar riset AGB Nielsen," kata Agus.

Setelah mengolah data dari 191 responden yang mengembalikan kuesioner, terlihat bahwa mayoritas responden (41,9 persen) menilai program televisi di Indonesia secara umum masuk dalam kategori biasa-biasa saja. Hanya 27,2 persen yang berpendapat acara TV sudah baik, sementara 24,6 persen malah memandang isi TV kita masuk dalam kategori buruk.

Riset ini menerapkan enam kriteria penilaian kualitatif sebuah acara TV bisa dikatakan bermutu tinggi, yakni bisa menambah pengetahuan, bersifat pengawasan atau memberi peringatan, membangkitkan empati sosial, meningkatkan daya kritis, memberi model perilaku yang baik, dan menghibur.

"Kick Andy" terbaik

Berdasarkan jawaban dari responden, program Kick Andy yang dipandu host Andy Noya dinilai sebagai program terbaik dari semua program yang ada di televisi. Sebanyak 47,1 persen responden memilih program tersebut. Bandingkan dengan program ber-rating tertinggi versi AGB Nielsen, yakni sinetron Azizah.

Kick Andy juga dinilai sebagai program talkshow terbaik versi riset ini, sedangkan menurut AGB Nielsen, program Empat Mata adalah yang ber-rating tinggi. Namun, bukan berarti Empat Mata juga tidak disukai. Sebab, riset ini menunjukkan bahwa Empat Mata menempati urutan kelima setelah Kick Andy, Today's Dialogue, Oprah Winfrey, dan Dorce Show.

Andy Noya mendukung riset mengenai rating publik ini karena memberi alternatif lain soal rating. Selama ini, AGB Nielsen menjadi semacam "Tuhan"-nya untuk televisi dan periklanan sehingga seolah-olah menjadi satu-satunya kebenaran.

Kekuatan Kick Andy, menurut Andy, adalah pada tema dan content atau isi. Presenter hanyalah unsur kecil yang justru menjadi kelemahan. Itu karena Andy merasa tidak menarik di depan kamera, tidak ganteng, bergaya kaku, dan berambut kribo pula. "Jadi saya tertolong oleh tim yang solid. Kick Andy ini kental dengan unsur jurnalisme. Kami mengandalkan jaringan yang dimiliki Metro TV, yakni reporter yang tersebar di banyak daerah. Merekalah yang banyak memberi informasi," paparnya.

Kekuatan lain Kick Andy adalah, program ini mengasah kepekaan sosial dan selalu menyampaikan pesan moral. Misalnya soal tema kelamin ganda, kaki palsu, atau guruku pemulung. Topik yang diangkat berimbas sangat luas. Soal kaki palsu, misalnya, ternyata banyak sekali orang yang membutuhkan. Karena itu, muncullah gagasan untuk membuat kegiatan "1.000 Kaki Gratis Kick Andy" dan sudah terkumpul dana Rp 1 miliar dari sponsor.

"Kelemahan Kick Andy selain pada host-nya juga unsur hiburannya. Kick Andy juga tidak interaktif, tidak bisa berdialog dengan penonton di rumah karena direkam," terang Andy.

Ada beberapa program yang dinilai bagus oleh responden survei ini, dan juga di rating tinggi oleh AGB Nielsen. Namun, ada pula yang sangat jauh panggang dari api. Bagaimanapun, patokan ini patut menjadi alternatif.

http://cetak.kompas.com/read/xml/2008/06/08/00462811/saatnya.menilai.televisi.dengan.

17 Mei 2008

Televisi, Mimbar Keluarga yang Hilang

Kompas, Sabtu, 17 Mei 2008

Garin Nugroho

"Lihat sepuluh besar American Idol, David, Carly, hingga Syesha. Baju dan tampilannya bersahaja, bahkan pembawa acaranya tidak seronok dan mewah, namun kualitas profesionalnya luar biasa. Mereka paham, siapa yang bintang, siapa pemandu, dan bagaimana menjuri secara efektif serta berkarakter." Demikian komentar seorang guru dalam sebuah diskusi tentang televisi.

Lalu dengar yang ini, ujar seorang produser televisi: "Rating ditanggapi secara instan, melahirkan kompetisi bisnis tidak sehat, memaksa pekerja televisi bekerja lebih banyak, lebih cepat, namun merendahkan profesionalisme. Program televisi tergelincir berlomba menarik perhatian tiap detik tanpa memerhatikan kode etik. Saya menyuruh anak saya untuk tidak menonton televisi."

Komentar-komentar di atas hanyalah beberapa komentar dari deretan gugatan kepada televisi, khususnya berkait dengan keluarga. Jajak pendapat Kompas awal tahun 2008 menunjukkan, menonton televisi adalah kegiatan yang lebih bersifat kekeluargaan daripada individual. Tercatat hanya 4,9 persen responden yang menonton televisi tidak dengan anggota keluarga. Artinya, menonton televisi adalah sebuah perilaku komunal, di mana 47,1 persen tercatat, penguasa remote control adalah sang anak.

Di Eropa-Amerika, semua siaran televisi terencana dan terprogram, hingga mampu memilah waktu bagi anak-anak dan dewasa. Oleh karena itu, sangatlah perlu memberi catatan khusus terhadap televisi dalam perspektif ruang keluarga. Bagaimana sebagai sebuah medium, televisi dapat berperan juga meneguhkan nilai dasar untuk sebuah bangsa dalam bertindak, berpikir, mengadopsi, atau bereaksi terhadap berbagai hal di sekitarnya.

Sejarah ruang keluarga

Sejarah televisi diyakini sebagai penemuan teknologi yang mampu mengumpulkan anggota keluarga di ruang keluarga. Haruslah dicatat, industri televisi bertumbuh pasca-Perang Dunia II, ketika orang-orang tua di Amerika dan Eropa lewat televisi melihat wajah perang dunia dan menunggu anak mereka pulang dari perang.

Oleh karena itu, sejak awalnya televisi lalu menjadi mimbar dunia yang dikonsumsi oleh keluarga. Persaingan Obama dan Hillary Clinton juga memanfaatkan media televisi. Demikian juga, presiden-presiden Indonesia dikenal lewat televisi dan bukan lewat buku-buku. Juga lihat, munculnya "kiai televisi", yakni para pemimpin agama yang terkenal lewat televisi, bukan lewat pelayanan umat secara langsung.

Televisi menjadi buku bergambar dan bersuara terpopuler, refleksi orientasi budaya lisan, ketika budaya baca belum begitu berakar kuat.

Televisi juga menjadi bagian dari sejarah barang-barang konsumsi yang masuk ke ruang keluarga.

Catatan di atas menyimpulkan, abad ini adalah abad generasi televisi. Ketika televisi menjadi mimbar terbesar urbanisasi nilai-nilai. Sebuah kebudayaan massa yang digerakkan dengan kultur teknokapitalis, yang tiap detik programnya dibiayai untuk mendapatkan pameran perhatian dari anggota-anggota keluarga di depan televisi. Televisi sesungguhnya mimbar pameran perhatian terbesar abad ini.

Genius vs etika

Sejak kelahirannya, televisi dipenuhi sebutan yang berbeda. Sebutlah, jendela dunia, tabung kekerasan, padang pasir kebodohan, hingga sahabat keluarga. Hal terakhir membuat televisi tidak bisa dilepaskan dari etika komunikasi, juga etika jurnalistik, etika perlindungan anak, etika perlindungan konsumen, etika periklanan, etika bercerita, hingga etika bincang-bincang.

Tetapi, tuntutan-tuntutan itu senantiasa dihadapkan dengan pertanyaan umum dalam berbagai diskusi televisi: "Bagaimana bisa menjadi industri kreatif yang menguntungkan kalau sedikit-sedikit bicara etika?" Di sementara lain, sejarah memperlihatkan bagaimana program televisi mampu tumbuh menjadi bisnis dunia, justru karena gabungan kegeniusan industri kreatif dengan etika komunikasi. Dengan modal tersebut, program televisi pun menjadi mimbar yang dibutuhkan seluruh keluarga. Bukan sebaliknya: digelisahkan dan dihujat keluarga.

Yang harus dicatat, beberapa program popular cenderung semakin vulgar dan seronok alias kecerdasan kreatifnya menipis. Lihat, misalnya, program penuh olok-olok dengan laki-laki berpakaian wanita yang seronok.

Simak berbagai berita penuh kekerasan. Banyak yang ditampilkan jauh dari nilai jurnalisme damai, bahkan tak peduli dampaknya pada anak-anak.

Wajah paradoks

Industri kreatif televisi kini telanjur berada dalam kompetisi yang tidak sehat. Pertama, karena industri yang tumbuh karbitan dengan nilai investasi yang besar—setahun saja sebuah stasiun mengeluarkan dua-tiga ratus miliar untuk belanja program—melahirkan etos kerja "modal cepat balik".

Kedua, jumlah stasiun televisi berskala nasional yang belasan jumlahnya, melebihi kebutuhan masyarakat. Ketiga, jumlah sumber daya yang terampil sangatlah sedikit.

Keempat, tekanan rating ditanggapi dengan jalan pintas, yakni menjual kemasan bersifat fisik, vulgar, dangkal, kekerasan, dan materialistik. Akibatnya, kesuksesan industri televisi bukan lagi berdasar penghormatan pada profesionalisme.

Akibat lebih jauh, kemewahan televisi berbanding terbalik dengan realitas masyarakatnya.

Pada galibnya, televisi sesungguhnya menjadi cermin bagi bangsa dan wajah keluarga yang ada di dalamnya. Namun, yang ada kini adalah wajah yang paradoks. Di satu sisi ia penuh simbol religius, di sisi lain ia mewah, vulgar, materialistik, dan penuh kekerasan. Di satu sisi terbuka dan demokratis, namun di sisi lain kehilangan etika bahkan esensi demokrasi itu sendiri. Di satu sisi memiliki lompatan kemajuan yang cerdas, tetapi isinya banyak yang dangkal.

Bila paradoks dan kompetisi tidak sehat di atas terus berlanjut, televisi tampaknya akan kehilangan peran terbesarnya sebagai mimbar keluarga. Pada akhirnya, televisi pun kehilangan perannya sebagai agen pembentukan karakter bangsa, yang antara lain kosmopolit sebagaimana karakter wahana itu sendiri. Tentu hal ini tidak kita inginkan.

Garin Nugroho Direktur Yayasan Sains Estetika Teknologi; Sutradara; dan Pengamat Komunikasi Budaya

30 April 2008

Rating Alternatif Perlu Dimaksimalkan

kpi.go.id 30/4/08  -  Koordinator Bidang Pengawasan Isi Siaran KPID Jawa Tengah, Ahmad Rofiq, menyatakan pentingnya KPI membuat rating alternatif sebagai pembanding bagi rating acara yang ada sekarang, "Upaya mewujudkan rating alternatif telah disampaikan oleh Ketua KPI Pusat dan sudah sepatutnya seluruh KPID menyambut baik ide ini," tegasnya.

Menurut Rofiq, selama ini rating hanya dimaksudkan untuk memenuhi kebutuhan industri dalam meraup iklan. Selain itu, rating tersebut dihitung berdasar selera remote control. "Hasil rating yang demikian kurang mengenai substansi mutu dan kualitas siaran" tambah anggota KPID yang juga Sekretaris MUI Jawa Tengah.
 
"Mereka tidak pernah berpikir apakah program tersebut layak ditonton atau sesuai dengan budaya bangsa atau tidak," jelas Rofiq. Akibatnya, menurutnya, seringkali ditemukan kejanggalan pada acara yang ratingnya tinggi, namun isinya ternyata melanggar norma dan budaya bangsa.

Untuk mewujudkan rating alternatif, Rofiq mengemukakan tiga hal penting. Pertama, perubahan paradigma penilaian dari jumlah penonton terbanyak menjadi penilaian isi, mutu, dan kualitas siaran sesuai amanat UU Penyiaran. Kedua, secara teknis perlu sosialisasi dan pengkondisian terhadap lembaga penyiaran. Ketiga, perlu instrumen atau peralatan yang lebih canggih guna menunjang alat pemantau dan penilaian yang difokuskan pada kualitas isi siaran.

"KPI bersama masyarakat harus siap mewujudkannya agar penyiaran Indonesia benar-benar bermartabat" tegas Guru Besar Ilmu Hukum Islam ini. Red

21 April 2008

Seputar Rating Versi AGB Nielsen Media Research

1. Apakah publik dibodohi oleh rating?

Hasil dari pengukuran kepemirsaan TV dimaksudkan untuk menjawab kebutuhan industri (pengiklan, biro iklan dan stasiun TV),
bukan untuk digunakan oleh publik. Hasil dari survei ini hanya bisa diinterpretasikan dengan tepat oleh mereka yang kompeten.

2. Apakah program TV sebaiknya dievaluasi secara kuantitatif atau kualitatif?

Akan lebih baik jika pengguna data memperkaya analisis mereka dengan data-data kualitatif, selain data kuantitatif karena kedua
metode tersebut bersifat saling melengkapi. Rating TV adalah murni pengukuran kuantitatif yang tidak mengukur faktor-faktor
kualitatif, seperti opini pemirsa terhadap kualitas program, suka/ tidak suka, dll.

3. Apakah rating menjadi satu-satunya penentu untuk performa program TV?

Bahkan industri pun tidak memandang rating sebagai penentu. Sebelum memutuskan setiap pendekatan atau strategi programming,
banyak faktor lain yang dipertimbangkan selain rating, misalnya kesesuaian jam tayang, kecocokan program dengan pemirsa,
indeks penonton, loyalitas penonton, dll. Marketing dan sales (harga iklan, paket penjualan, dll), hal-hal teknis (kualitas transmisi,
frekuensi gangguan, dll.) atau keuangan (cost & revenue) juga menjadi pertimbangan.*

07 April 2008

Banyak Tayangan Sinetron Tidak Mendidik

Setelah mengamati alur cerita beberapa sinetron yang ditayangkan oleh stasion televisi, sebagai contoh sinetron Cahaya, Namaku Mentari, dan banyak yang lain, hampir semua menonjolkan karakter peran yang tidak mendidik.

Secara tidak langsung, sinetron itu mengajarkan kepada pemirsa yang sebagian besar adalah anak-anak, inspirasi menjadi orang jahat dan licik.


Kalau hal seperti ini kita diamkan dan tidak dikritisi, seperti apa nantinya moral generasi mendatang. Dalam hal ini, yang paling diuntungkan adalah stasiun televisi, produser, dan sutradara. Yang paling dirugikan secara tidak langsung adalah kita semua, apalagi kalau anak - anak kita selalu mengikuti alur ceritanya.

Kami mohon kepada pengelola televisi lebih selektif dalam menayangkan sinetron, jangan berorientasi pada bisnis semata tapi harus disertai pendidikan dan ada unsur pesan moral/ibadah. Saya yakin sekali dengan adanya unsur pendidikan, pesan moral/ibadah dalam alur cerita justru akan menaikkan rating. Kepada produser dan sutradara, alangkah mulianya jika dalam berkarya disertai ibadah (menyampaikan karya-karya yang mendidik).

Hary

Jakarta
http://www.suarapembaruan.com/News/2008/04/05/index.html

27 Maret 2008

Laporan Kualitas TV Diterbitkan April

TEMPO Interaktif, 28/3/2008: Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) akan mengeluarkan laporan kajian siaran televisi bulan depan. "Sebetulnya kami janji ke DPR bulan Maret tapi karena ada masalah teknis baru bisa diterbitkan April," kata Ketua KPI, DR Sasa Djuarsa Sendjaja dalam diskusi "Konsentrasi Kepemilikan TV dan Dampaknya Terhadap Pemberitaan," yang diadakan Dewan Pers di Hotel Menara Peninsula, Jakarta.


Ia menjelaskan, untuk menyusun laporan dikerahkan 20 tenaga ahli, yang umumnya dari akademisi. Kajian para pakar ini, komprehensif dan bersandarkan pada Standar Program Siaran dan Pedoman Perilaku Program yang secara berkala dikeluarkan KPI.

"Jadi untuk mengimbangi rating." Dengan kajian ini, Sasa meneruskan, diharapkan para pengelola televisi dapat masukkan apakah siarannya mendapat 'lampu hijau', 'lampu kuning', dan 'lampu merah.' Bambang Harymurti

Tayangan untuk Anak Bertambah

TEMPO Interaktif, 27/3/2008: Jam tayang program televisi untuk anak-anak usia 4-15 tahun rata-rata meningkat dua jam sehari pada triwulan pertama 2008. "Peningkatan jam tayang ini cukup menggembirakan," kata Associate Director Marketing & Client Service AGB Nielsen Media Research Hellen Katherina dalam siaran persnya.


Ia menuturkan, jumlah pemirsa anak-anak cukup besar yakni 21 persen dari total pemirsa televisi. Bahkan, jumlahnya bisa mencapai 1,4 juta anak pada jam tayang utama (prime-time). Status sosial juga mempengaruhi pola menonton anak.

Hasil survei menunjukkan, anak-anak dari keluarga berstatus sosial menengah ke bawah lebih lama menghabiskan waktu untuk menonton televisi, ketimbang sebaya mereka dari keluarga menengah atas. Anak keluarga menengah atas lebih menyukai menonton program yang informatif. "Sedangkan tontonan anak-anak menengah ke bawah masih didominasi sinetron," ujarnya. Agoeng Wijaya

27 Februari 2008

KPI Siap Tandingi Lembaga Rating AGB Nielsen

Langkah nyata dilakukan Komisi Penyiaran Indonesia (KPI). Lembaga independen itu bakal menandingi monopoli AGB Nielsen—lembaga pemeringkat (rating) televisi—di Indonesia. Bentuknya, akan segera dibuat pengelompokan atas sejumlah tayangan televisi yang dinilai baik untuk masyarakat dan juga sebaliknya.
Demikian diungkapkan Ketua KPI Prof Sasa Djuarsa Sendjaja kepada wartawan. Ia mengatakan hal itu usai menandatangani Nota Kesepahaman Kerja Sama (Memorandum of Understanding/MoU) antara KPI dengan Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) di Kantor PBNU, Jalan Kramat Raya, Jakarta, Selasa (26/2).
Sasa menjelaskan, program baru yang penilaiannya akan dilakukan KPI bersama sejumlah pakar pendidikan dan tokoh agama itu akan diluncurkan pada awal Maret mendatang. Hasilnya akan segera diumumkan di sejumlah media massa pada Maret pekan kedua.
“Jadi, kita akan membuat klasifikasi, mana tayangan yang layak ditonton pemirsa, mana tayangan yang tidak layak. Nantinya, itu akan dilakukan secara rutin seminggu sekali. Hasil klasifikasi itu akan diumumkan di media massa, baik cetak maupun elektronik. Untuk televisi, sudah ada stasiun yang menyetujui,” terang Sasa.
Acuannya, kata Sasa, akan menggunakan Pedoman Perilaku Penyiaran dan Standar Program Siaran (P3SPS). “Kalau ada stasiun televisi yang masih nakal, akan dikenai sanksi tegas atau denda,” pungkasnya.
Ia mengakui, langkah tersebut dilakukan karena selama ini ada monopoli oleh AGB Nielsen melalui pemeringkatan sejumlah tayangan televisi.
Menurutnya, lembaga survei kepemirsaan televisi itu seolah-olah menjadi penentu mana tayangan yang seharusnya ditonton oleh masyarakat.“Padahal, tayangan yang rating-nya (peringkat atau jumlah penonton) tinggi, adalah tayangan yang buruk. Tidak mendidik masyarakat: sarat kekerasan, pornografi, dan sebagainya,” ungkap Sasa.
Direktur Kamelia TV, Teguh Imawan, yang juga hadir pada acara tersebut menyambut baik langkah kerja sama yang dilakukan NU dan KPI. Menurutnya, sebagai organisasi kemasyarakatan Islam terbesar di Indonesia, NU dapat membantu memberikan penyadaran kepada masyarakat agar bersikap kritis terhadap tayangan televisi.
“Kalau masyarakat atau penontonnya kritis, otomatis akan ada perubahan pada tayangan televisi. Stasiun televisi tidak akan lagi menampilkan tayangan yang tidak mendidik bagi masyarakat,” ujar Teguh. (rif)

15 Februari 2008

Mengapa TV Tak Bisa Kritis? (1)

Ketika logika kapitalisme bermain dalam sebuah industri media, maka produk yang dihasilkannya hanyalah berita-berita sensasional atau pun soal-soal rutinitas kerja yang netral gender atas nama produktivitas. Namun, gaya berita semacam itu malah menguatkan stereotipe perempuan sebagai komoditas media massa: baik yang 'dijual' ataupun sebagai 'pembeli'.

Demikian lontaran-lontaran pernyataan dalam dialog terbuka "Perempuan, Media dan Kekuasaan" untuk menyambut Hari Pers Ke-62 yang diselenggarakan oleh Kementerian Pemberdayaan Perempuan di Hotel Nikko (13/2/2008). Diskusi itu diawali dengan sambutan Menteri Negara Pemberdayaan Perempuan Republik Indonesia Dr. Meutia Hatta Swasono yang dibacakan oleh Debra Yatim.

Perempuan dalam stereotipe tersebut sebagai sosok yang lemah, mudah dieksploitasi, dan gampang tersubordinasi. Selain itu, beberapa media massa semacam Femina, Eve, dan Cosmopolitan (media majalah) dan FeMale (media radio) terlihat menjadikan perempuan sebagai sekedar partner atau pembeli program yang mereka produksi, singkatnya bagi media-media di atas perempuan hanyalah dilihat sebagai segmen pasar.

Sedangkan di beberapa media televisi seperti SCTV, Metro TV dan ANTV yang jelas-jelas penanggungjawab editorial adalah para perempuan namun memberlakukan sistem pemberitaan yang netral gender dan "obyektif".

Lantas, di manakah ruang media bagi perempuan untuk bisa memahami secara kritis kondisi perempuan Indonesia yang kerapkali dirugikan dalam wilayah publik? Misalnya diskriminasi oleh peraturan daerah yang berbau syariah, diperjualbelikan dalam praktik tindak pidana perdagangan orang, menjadi korban bermacam-macam kekerasan berbasis gender, dibatasi hak politiknya bahkan hak penguasaan terhadap tubuhnya sendiri.

Jurnal Perempuan tampak menjawab tantangan tersebut. Demikian yang disampaikan oleh Mariana Amiruddin sebagai Direktur Eksekutif Yayasan Jurnal Perempuan. "Yayasan Jurnal Perempuan melalui media-media seperti jurnal, radio, website, ingin menciptakan dunia yang baru dan dunia yang ramah terhadap perempuan," katanya.

Mariana mencontohkan Jurnal Perempuan sebagai media "nonmainstream" secara khusus menyorot dominasi atau ketidakadilan yang menimpa perempuan dan menginginkan adanya perubahan ruang yang terbuka dan menciptakan audiens yang kritis. Melalui proses kapitalisasi, maka bagi Mariana, media massa mengabdi pada logika waktu dan nurani yang sangat pendek, "logika komersial yang tidak lagi kritis terhadap persoalan perempuan", ujarnya. Logika waktu dan nurani yang pendek itu terpatri pada yang soal-soal yang spektakuler dan superfisial saja.

Di poin inilah Mariana Amiruddin mengajak para jurnalis untuk menulis berita secara kritis. Wartawan seharusnya tak hanya menulis berita-berita yang sudah umum diketahui, penulisan yang tak memiliki tantangan, namun menulis dengan membuka sejarah pembungkaman, dan mendobrak stereotipe. …. (bersambung ke-2)

Mengapa TV Tak Bisa Kritis? (2-Habis)

Kecendrungan sekarang media sangat berpihak pada penguasa (baik itu agensi iklan, dewan komisaris, pemerintah, dan pemodal) dan tidak terlalu aktif memberitakan nilai-nilai hak asasi manusia. Padahal dengan kode etik jurnalisme yang ada, diharapkan semua media mengkampanyekan hak-hak asasi manusia termasuk isu-isu perempuan. Media sekarang menurut Rosiana Silalahi sebagai Editor in Chief Liputan6 SCTV, "media yang sangat tergantung pada modal."

Kendati demikian, bagi Rosiana Silalahi, idealisme harus tetap ada. Wajah keseimbangan media massa harus tetap dijaga. Idealisme inilah yang akan dilahirkan dengan disokong kemapanan dari sisi finansial sebuah perusahaan media.

"Kita tidak boleh melupakan idealisme, namun kita juga tidak dapat memproduksi pemikiran-pemikiran sosial yang kritis jika kita tidak sukses secara komersial," katanya

Soal rating juga menjadi perhatian dalam diskusi tersebut karena bisa menjadi pemicu kerja keras sebuah industri media massa. Sayangnya cara apapun dihalalkan untuk menguasai iklan komersial. Celakanya lagi selama ini survei-survei tentang rating hanya dimonopoli oleh satu lembaga survei saja.

Media massa yang tidak perduli pada perempuan bagi Meutia Hatta disebut industri lanang. Kapitalisme dan patriarki seakan menjadi dua sisi mata uang yang tak terpisahkan. Meskipun jumlah perempuan diakui oleh Desi Anwar sebagai Executive Producer Metro TV sebagai jumlah terbesar yang ada baik di belakang atau di depan layar televisi, namun media massa tetaplah dunia laki-laki. Namun realitas ini menjadi representasi masyarakat yang masih male-oriented. Demikian juga ditegaskan oleh Uni Lubis sebagai Pemimpin Redaksi ANTV, "media-media umum masih di-drive agendanya, dan setting-nya oleh laki-laki," katanya. Hal ini berbeda dari media massa bersegmen perempuan yang umumnya pegawainya mayoritas perempuan seperti Femina dan Cosmopolitan.

Desi Anwar kembali mengungkapkan, "perempuan belum berevolusi ke arah itu (sebagai pembuat keputusan-red)." Perempuan menurutnya, masih menjadi tim pelaksana dalam produksi berita. Ini juga didukung oleh keunggulan perempuan dalam komunikasi, kerja tim, dan perancangan segala sesuatu secara detail. Namun apabila perempuan akhirnya menjadi pemimpin redaksi, pengalaman pribadi dan emosinya seringkali mempengaruhi pengambilan kebijakan.

Hal ini dapat diatasi, menurut Desy Anwar dengan bersikap profesional dalam pekerjaan. Perempuan harus dapat melihat apa yang dimilikinya menjadi aset bagi dirinya dan bukan untuk dilecehkan atau dieksploitasi orang lain. Hal ini berkaitan dengan emosi perempuan yang labil dan cenderung meledak-ledak serta dapat mengganggu pekerjaan, yang bisa menunjukkan kelemahan dirinya sendiri.

Desy Anwar dan Uni Lubis cenderung berpandangan sama bahwa dalam media massa itu segala penilaian terlepas dari bias gender. Menurut Desy Anwar, alur bekerja dengan sensitivitas gender malahan akan memundurkan produktivitas kerja. Hal ini kontras dengan usaha Yayasan Jurnal Perempuan mengkampanyekan jurnalisme berperspektif gender yang bertujuan memberikan ruang yang lebih luas bagi kaum perempuan untuk berbicara.*

http://www.jurnalperempuan.com/yjp.jpo/?act=berita%7C-954%7CX

10 Februari 2008

Pak Harto Dongkrak Rating



Tayangan berita wafat dan pemakaman Presiden ke-2 Republik Indonesia, Soeharto di sejumlah stasiun televisi nasional, pada hari Minggu (27/1) - Senin (28/1), menaikkan jumlah pemirsa sekitar 1,4 persen - 16,5 persen.



Dari sejumlah program berita wafat dan dimakamkannya Soeharto yang ditayangkan oleh hampir semua stasiun televisi nasional pada hari Minggu - Senin, program berita bertajuk In Memoriam Pak Harto yang ditayangkan stasiun televisi SCTV pada Minggu (27/1), pukul 21:32 WIB - 22:43 WIB memperoleh rating tertinggi (6.5).



Berdasarkan data harian hasil survei elektronik kepemirsaan televisi AGB Nielsen Media Research yang diterima SP, baru-baru ini, jumlah pemirsa di Jakarta, Surabaya, Bandung, dan Yogyakarta, yang menonton tayangan berita wafatnya Soeharto pada hari Minggu mencapai 5.504.000 pemirsa.



Jumlah tersebut meningkat 1,4 persen dibandingkan hari sebelumnya (Sabtu, 26/1) yang mencapai 5.005.000 orang, atau mencapai 15,3 persen dari total populasi individu yang memiliki televisi di empat kota tersebut dan berusia di atas 5 tahun yang berjumlah 36.008.962 orang. Sementara tayangan pemakaman Soeharto pada hari Senin ditonton oleh 5.935.000 pemirsa atau meningkat hingga 16,5 persen dari total populasi di keempat kota tersebut.



Communications Executive, AGB Nielsen Media Research, Andini Wijendaru mengatakan, pada hari wafatnya Soeharto, jumlah pemirsa televisi mulai mengalami lonjakan setelah pukul 13.00 WIB.



"Puncaknya terjadi sekitar pukul 14.00 WIB-14.29 WIB, dengan jumlah pemirsa mencapai 20,7 persen," jelasnya.



Sementara pada hari pemakaman Soeharto, jelas Andini, jumlah pemirsa televisi mulai menanjak pada pukul 05.30 WIB. Puncaknya terjadi antara pukul 12.30 WIB - 12.59 WIB, yang mencapai 8.999.000 pemirsa. Saat itu, seperempat populasi pemirsa televisi (25 persen) yang berada di rumah, menyaksikan layar kaca yang didominasi oleh tayangan pemakaman Soeharto.



"Data ini adalah persentase jumlah pemirsa televisi yang sangat fenomenal di empat kota tersebut," imbuhnya.



Berkat tayangan berita wafat dan pemakaman Soeharto, jelas Andini, selama dua hari sejumlah stasiun televisi nasional berhasil meningkatkan channel sharenya. TVRI Nasional perolehan share pemirsanya meningkat dua kali lipat di hari Minggu, dari 0,6 persen menjadi 1,4 persen.



"Perolehan share pemirsa TVRI Nasional kembali meningkat hingga 1,8 persen pada hari Senin," ungkapnya.



Menurut Andini, hal yang sama juga dialami stasiun televisi Metro TV yang mengalami kenaikan channel share lebih dari dua kali lipat, dari 2 persen menjadi 4,2 persen pada hari Minggu, dan menjadi 5,3 persen pada hari Senin.



"Beberapa stasiun televisi lain juga mengalami kenaikan channel share, tapi tidak sedrastis TVRI dan Metro TV," katanya.



Stasiun televisi SCTV, TPI, dan Indosiar merupakan tiga stasiun televisi yang memperlihatkan kenaikan share pemirsa. SCTV mengalami kenaikan dari 16,5 persen menjadi 20,8 persen pada hari Minggu, dan 22,7 persen pada hari Senin.



"Pada hari Senin, Indosiar mengalami kenaikan dari 10,9 persen menjadi 15,5 persen, dan TPI naik dari 7,7 persen menjadi 8,0 persen," tuturnya.



Andini menjelaskan, tayangan In Memoriam Pak Harto yang ditayangkan SCTV pada Minggu malam, menyedot perhatian pemirsa paling banyak, dengan rating mencapai 6.5 dan share 25.3.



Selanjutnya, kata Andini, disusul oleh tayangan Breaking News yang juga ditayangkan SCTV, sesaat setelah terdengar kabar wafatnya Soeharto, dengan perolehan rating mencapai 5.6 dan share 28.7.



"Begitu juga dengan tayangan bertajuk Selamat Jalan Jenderal Besar yang ditayangkan Indosiar pada Senin pagi selama empat jam, memperoleh rating 4.8 dan share 21.9," tandasnya.



Sementara itu, kepada SP, beberapa waktu lalu, Chief Operating Officer TPI, Nana Putra mengatakan, bahwa tayangan pemberitaan yang berkaitan dengan sakit hingga pemakamannya mantan Presiden Soeharto, tidak ditujukan untuk mendongkrak rating maupun jumlah penonton TPI.



"Karena kami tidak pernah mau memanfaatkan penderitaan orang demi mengeruk keuntungan sendiri," katanya.



Penyajian tayangan mengenai sakit hingga dimakamkannya mantan Presiden Soeharto, lanjut Nana, merupakan upaya TPI untuk dapat memenuhi rasa ingin tahu pemirsa TPI. Sebagai mantan presiden, pemberitaan mengenai Soeharto kala itu sangat menjadi perhatian masyarakat.



"Dan sebagai media massa kami berupaya menyajikan pemberitaan yang seobjektif mungkin, tanpa bermaksud berpihak pada siapa pun. Apa yang kami sajikan adalah merupakan fakta yang sesungguhnya," tandasnya. [Y-6]





Sumber: suarapembaruan.com, 06 februari 2008

09 Februari 2008

Rating Tak Dongkrak Iklan

Pogram televisi dengan rating tertinggi tidak menjamin lebih banyak iklan dibandingkan program berating rendah. Pertumbuhan media yang sangat pesat dengan banyaknya program baru dan genre, fragmentasi media dan pemirsa yang semakin tersegmentasi membuat pengiklan semakin selektif memasang iklan.
"Pada dasarnya, pengiklan mencari efektivitas dari kampanye iklannya, sehingga program dengan rating tinggi dianggap mampu menjangkau lebih banyak khalayak. Namun, program dengan rating tinggi tidak selalu memperoleh iklan yang lebih banyak daripada program dengan rating rendah," kata Associate Director Marketing and Client Service AGB Nielsen Media Research Hellen Katherina pada seminar "Komunikasi dan Edukasi tentang Survei Kepermirsaan TV" di Jakarta, Selasa (29/1).
Hellen mencontohkan, sinetron Olivia yang pada periode Januari-April 2007 masuk dalam jajaran teratas program top rating yang memperoleh rating rata-rata 8,6, namun perolehan porsi iklannya hanya 31 persen dari total durasi program. Jumlah tersebut lebih kecil daripada sinetron Love yang hanya memperoleh rating rata-rata 3,6.
"Hal itu dapat terjadi karena pengiklan tidak melulu memilih program berdasarkan rating semata. Ada faktor-faktor lain yang lebih penting, misalnya kesesuaian antara target produknya dengan target pemirsa suatu program agar kampanye yang dilakukan lebih tepat sasaran," ujar Hellen.
Citra dan isi program menjadi pertimbangan bagi pengiklan dalam berkampanye, sehingga meskipun suatu program memiliki rating kecil, produk tertentu mau beriklan pada program tersebut. Hal itu terkait dengan citra program sesuai dengan citra produk iklan. Misalnya, produk elektronik yang beriklan pada program talk show tentang gaya hidup elektronik akan menarik produk elektronik beriklan dalam program itu.
Hal yang sama juga diungkapkan Managing Director OMD Advertising Wiwiek Siswanti. Menurutnya, iklan berperan meningkatkan penjualan, membangun citra merek produk, memaksimalkan marketing share serta memperluas awareness masyarakat akan produk iklan. Oleh karena itu, dibutuhkan penempatan dengan waktu dan medium yang tepat agar iklan tersebut efektif.

Indikator Indeks
Dikatakan, rating televisi hanya berperan mengukur efisiensi dan efektivitas program pada masyarakat. Semakin tinggi rating suatu program televisi berarti semakin banyak pemirsanya. Namun, rating bukanlah satu-satunya alat ukur efisiensi dan efektivitas pemasangan iklan.
"Perencanaan iklan dalam memilih program untuk penempatan iklan sangat penting untuk mencapai target pemirsa yang diinginkan dan mengoptimalkan penjualan. Kita tidak hanya melihat pada rating saja tetapi juga tarif iklan, dan indeks untuk mengukur efektivitas program terhadap target pemirsa yang ingin dicapai pengiklan," paparnya.
Wiwiek menilai, jika target pemirsa yang ingin dicapai oleh pengiklan bersifat massal maka ukuran yang dipakai adalah rating televisi. Namun, agar target pemirsa lebih efektif dan efisien sesuai dengan target pasar produk yang lebih khusus maka pengiklan menggunakan ukuran indeks. Program televisi yang tersegmentasi biasanya memiliki indeks yang tinggi yaitu di atas seratus.
"Semakin tinggi indeks suatu program maka semakin tinggi efektivitas iklan jika ditempatkan pada program tersebut. Umumnya klien kami yang mempunyai target pemirsa dengan usia 24-44 tahun dengan kelas ekonomi menengah ke atas memilih indeks program di atas seratus," kata Wiwiek.
Lebih jauh dijelaskan, meskipun program tersebut memiliki rating tinggi tetapi indeksnya di bawah seratus, maka pihaknya tidak memasukkan program tersebut dalam perencanaan iklan. Misalnya, program Mama Mia atau StarDut yang memiliki rating tinggi tidak termasuk dalam perencanaan iklan karena tidak mencapai target pemirsa yang diinginkan kliennya (pengiklan).
Hal tersebut juga diakui oleh Head of Research Development Indosiar Imam Khanafi Zain. Dia menyebut, target pemirsa Mama Mia dan StarDut adalah kelas menengah ke bawah, sehingga pengiklan dengan target pemirsa kelas menengah ke atas tidak memasang iklannya dalam kedua program tersebut.
"Segmentasi pemirsa Indosiar pada kelas menengah ke bawah sehingga sektor iklan yang masuk adalah sektor iklan untuk kelas menengah ke bawah seperti peralatan mandi," katanya.
Menurut Wiwiek, kriteria penempatan iklan juga berdasarkan penilaian perusahaan produk iklan dan agen iklan pada suatu program. Jika dahulu televisi terbatas pada lima stasiun besar, maka pemberian spot iklan diberikan pada mereka yang lebih dahulu meminta atau first come first serve. Tetapi, dengan semakin banyaknya pilihan stasiun televisi dan program televisi yang tersegmentasi, pengiklan memiliki banyak spot iklan yang tersedia untuk menjangkau pasar.
"Selama program tersebut sesuai dengan citra dan target pasar produk maka kami bisa mempertanggung jawabkan penempatan iklan tersebut kepada klien," tambahnya. [DLS/N-4]

Sumber: suarapembaruan 30 januari 2008