25 Desember 2008

Astro Beri Janji, Bukan Bukti (Surat Pembaca Kompas 26 Desember 2008)

T ertarik promosi Astro di Electronic City Mall Artha Gading pada 20 September 2008, saya mendaftar dan telah konfirmasi dengan Saudari Nathalia (telepon 021-94011828) atas transfer lunas biaya berlangganan satu tahun dengan iming-iming diskon satu bulan (Nomor pelanggan: 0602504636).

Pada Oktober 2008 diterima info Astro berhenti siaran dan refund akan dilakukan paling lambat 30 hari sejak data pendukung diterima lengkap. Pada 23 Oktober dan 26 Oktober 2008 saya telah mengirim data persyaratan refund lengkap melalui faksmile dan e-mail dan telah dikonfirmasi oleh Bapak Eka di telepon 021- 57977799 bahwa data telah diterima lengkap dan tinggal menunggu proses refund paling lambat 30 hari. Kenyataannya, hingga saat ini realisasi tersebut hanya janji-janji dengan mengumbar maaf.

Bagaimana tanggung jawab PT Direct Vision, pihak pemerintah selaku pemberi izin, dan lembaga perlindungan konsumen atas kasus tersebut? Memang sudah umum bahwa di negara ini kewajiban warga selalu dituntut lebih besar daripada haknya.
Tindra Yudono Jalan Agung Barat 25 Blok B22 Nomor 11, Sunter, Jakarta

http://cetak.kompas.com/read/xml/2008/12/26/00311840/redaksi.yth

22 Desember 2008

Mulan Jameela Selalu Berbeda

Karakter menjadi alat pencitraan diri yang penting bagi artis agar lebih dikenal masyarakat. Namun, penyanyi Mulan Jameela justru hobi berganti karakter dalam setiap penampilannya.

"Begitulah cara saya meraup penonton dengan tidak terpaku pada satu jenis musik atau gaya berpakaian saja," kata Mulan di Kota Semarang, Jawa Tengah, Sabtu (20/12). Dalam albumnya berjudul Mulan Jameela, berbagai jenis lagu dibawakannya, mulai dari irama pop, rock, hingga dangdut.

Cara berpakaian Mulan juga berwarna-warni. Penyanyi kelahiran Garut, 23 Agustus 1982, ini dalam klip videonya pernah menjadi tokoh Wonder Woman dan perempuan dari Timur Tengah. Kini, ia menjelma menjadi raja rock 'n roll, Elvis Presley, dalam klip video terbarunya, "Jatuh Cinta Lagi".

Mulan mengaku tidak kesulitan berganti gaya atau jenis musik karena ia sudah berpengalaman sebagai penyanyi kafe. Penyanyi yang melejit bersama Maia Estianty dalam Duo Ratu ini pun bersemangat memikirkan keunikan-keunikan selanjutnya.

Setelah jadi Elvis, besok mau jadi apa lagi? "Rasanya tidak pantas saya beri tahu sekarang ha-ha- ha," ujarnya. (DEN)

http://cetak.kompas.com/namaperistiwa  Selasa, 23 Desember 2008

Jangkauan Siaran Televisi Perbatasan Ditingkatkan

Jakarta, Kompas - Untuk menandingi masuknya siaran televisi dari negara tetangga ke wilayah perbatasan, Indonesia akan meningkatkan jangkauan siaran televisi perbatasan dengan menambah daya antena dan secara bertahap akan mengubahnya dari sistem analog ke televisi digital.

Demikian diungkapkan Yani Sofyan, Koordinator Program Televisi Perbatasan Kementerian Negara Riset dan Teknologi (KNRT) di Jakarta, Senin (22/12). Program pembangunan televisi perbatasan sejak tahun 2006 berada di bawah koordinasi KNRT, sebelumnya ditangani Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) sejak tahun 2003.

Menurut Yani yang juga Kepala Divisi Desiminasi Iptek Industri KNRT, ancaman yang nyata terjadi di perbatasan dengan Malaysia. "Stasiun televisi Malaysia di Entikong, Kalimantan, yang berkapasitas 20 kilowatt, siarannya dapat menjangkau wilayah Indonesia," ujarnya. Adapun stasiun televisi perbatasan yang terbangun di Sanggau, Kalimantan Barat—berjarak 90 km dari Entikong—hanya berdaya 1 kilowatt. Karena itu, sesuai kesepakatan KNRT dan pemda setempat, akan dibangun stasiun relai mendekati perbatasan.

Yani mengatakan, pembuatan jaringan relai dapat memanfaatkan menara relai jaringan telepon seluler yang telah ada.

Tiga teknologi

Kementerian Negara Riset dan Teknologi bersama Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi telah membangun pemancar televisi di beberapa wilayah perbatasan dengan Malaysia, Filipina, dan Timor Leste.

Sejak tahun 2003, BPPT dan PT Lembaga Elektronika Nasional (LEN) Industri mengembangkan teknologi televisi perbatasan, yaitu sistem peralatan televisi ultrahigh frequency (UHF). Ada tiga teknologi khusus yang dikembangkan PT LEN bersama BPPT dalam kurun waktu dua tahun, yaitu pengembangan peranti lunak propagasi gelombang, pengembangan akses televisi multikanal, dan teknologi relocatable televisi-studio berbasis broadband wireless.

Taufik Sumpeno, desain dan inovasi produk teknik penyiaran PT LEN Industri, menambahkan, keterlibatan industri elektronika ini mulai dari pembangunan stasiun televisi perbatasan di Sangihe dan Alor (2003), Belu dan Sambas (2004), serta Kefamenanu dan Sanggau (2007). Selain televisi perbatasan, PT LEN juga membangun stasiun televisi analog di 13 distrik atau kabupaten di Timor Leste. (YUN)


21 Desember 2008

Terobosan Teknologi, Antena Wajanbolic dari Bantul

Keterbatasan dana tidak membuat warga Desa Timbulharjo, Sewon, Bantul, DI Yogyakarta, kehilangan akal untuk bisa mengakses internet. Mereka memanfaatkan antena wajanbolic sebagai penangkap jaringan internet. Karena bahannya dari wajan, biaya pun jauh lebih murah.

Berawal dari bantuan internet sebuah lembaga swadaya masyarakat kepada Radio Komunitas Angkringan tahun 2005, para pengelola radio mulai berpikir untuk menyebarkan koneksi tersebut.

"Kami melihat sangat mubazir bila yang mengakses internet hanya pengelola radio. Padahal, masih banyak yang membutuhkan. Banyak pelajar dan mahasiswa yang sering datang ke sekretariat radio hanya untuk mengakses internet," kata Jaswadi, anggota komunitas Angkringan Desa Timbulharjo, awal Desember.

Para pengelola pun berencana menyalurkan internet ke rumah-rumah warga. Awalnya pengelola tidak yakin dengan rencana itu karena biayanya pasti sangat mahal. Untuk membeli antena grid saja dibutuhkan dana Rp 750.000, belum lagi USB wireless dan peralatan pendukung lainnya. Mereka pun patah semangat.

Setelah mendengar informasi seputar teknologi wajanbolic di media cetak dan televisi, niat mereka kembali tergugah. Mereka pun mengumpulkan literatur tentang metode pembuatan wajanbolic. Meski harus melakukan trial and eror berkali-kali, mereka tetap bersemangat.

Pada tahun 2007, akhirnya terciptalah antena wajanbolic pertama dan langsung diujicobakan ke salah satu dusun. Hasilnya sangat memuaskan karena koneksinya sangat lancar.

Antena wajanbolic berfungsi sebagai pengganti antena grid. Artinya, dana bisa ditekan hingga Rp 750.000. Untuk membuat wajanbolic dibutuhkan wajan aluminium atau stainless, pipa pralon diameter sekitar 10 sentimeter, aluminium foil, dan kawat kuningan. Antena tersebut masih harus dilengkapi dengan USB wireless atau radio wireless. "Kalau USB jangkauan koneksi sekitar 15 meter, radio bisa mencapai 100 meter. Harga USB sekitar Rp 450.000, sementara radio Rp 800.000," katanya.

Menurut Jaswadi, sebagian besar yang dipasang di Desa Timbulharjo adalah jenis USB. Dengan teknologi tersebut, rumah-rumah yang letaknya kurang dari 15 meter dari antena tetap bisa memperoleh jaringan internet. Namun, praktik di lapangan, masih jarang rumah di sekitar antena yang memanfaatkan.

Para pengelola berharap antena wajanbolic bisa dimanfaatkan sebanyak mungkin rumah tangga. Pengelola pernah melakukan survei dan diketahui pemilik komputer tiap RT di Timbulharjo sebanyak 2-3 orang. Di desa tersebut ada 150 RT. Jadi, total komputer yang tersedia 300-450 unit.

Untuk tiang penyangga, warga memanfaatkan bambu karena harganya lebih murah. Ketinggian tiang sangat bergantung pada kondisi dusun. Bila lokasinya di daratan rendah, dibutuhkan tiang lebih tinggi. Di desa tersebut panjang tiang rata-rata 10-15 meter.

Dari total 16 dusun di Desa Timbulharjo, kini 13 di antaranya tersambung internet. Sebagian besar pengakses adalah kalangan pelajar, mahasiswa, dan perajin kecil. Pengelola berambisi segera memperluas jaringan internet ke tiga dusun lainnya. Namun karena kendala biaya, ambisi tersebut terpaksa kandas.

Petrus, perajin handicraft yang sudah memanfaatkan koneksi internet wajanbolic, selama setahun mengaku sangat senang dengan kehadiran teknologi tersebut. Awalnya, ia sama sekali tidak memanfaatkan dunia maya untuk membantu usahanya karena kendala biaya.

"Wilayah kami belum terakses Speedy sehingga kalau mau pasang internet terpaksa pakai broadband yang biayanya lebih mahal," katanya.

Setelah ada wajanbolic, Petrus mulai memanfaatkan komunikasi via e-mail untuk menghubungi pembeli. Ia juga menawarkan produk lewat internet. Selain mempermudah pekerjaan, teknologi internet juga menghemat biaya komunikasi. Sebelumnya, Petrus berkomunikasi dengan pembeli menggunakan telepon.

Petrus membayangkan seandainya teknologi wajanbolic tersebut diadopsi untuk desa-desa lain di Kabupaten Bantul, nasib perajin sepertinya pasti akan cukup terbantu. Apalagi di Bantul banyak desa yang menjadi sentra kerajinan, seperti Kasongan, Wukirsari, dan Krebet.

Server internet diletakkan di sekretariat Radio Angkringan di Balai Desa Timbulharjo. Pengelola tak menarik biaya langganan koneksi karena motivasi mereka bukan untuk bisnis, tetapi untuk membantu masyarakat dalam mengakses informasi.

Radio Angkringan dikelola 10 orang pemuda dan pemudi di Desa Timbulharjo. Komunitas tersebut lahir pada tahun 2000 karena latar belakang adanya gejolak sosial di tingkat masyarakat. "Sekitar tahun 1999, di desa kami sering terjadi konflik karena banyak program pemerintah desa yang tidak transparan. Kami pun berusaha menjembatani dengan membentuk komunitas Angkringan," kata Linangkung, anggota komunitas yang juga bekerja sebagai wartawan di salah satu media cetak lokal.

Menurut Linangkung, perhatian pemerintah daerah setempat selama ini sangat minim. Ia berharap ada bantuan peralatan untuk ketiga dusun yang belum tersambung tersebut.

Lewat radio komunitas, komunikasi antarwarga pun terjalin lebih erat. Radio yang mengudara pada frekuensi 107,8 MHz itu siaran pada pukul 19.00-23.00. Waktu siaran sengaja dipilih malam hari karena sebagian besar pengelola adalah pekerja.

"Kalau siang kami semua harus bekerja. Baru malam bisa siaran. Materi siaran biasanya seputar informasi pertanian, pemerintahan desa, dan hiburan," katanya.

Kehadiran teknologi internet seharusnya juga bisa memajukan radio komunitas. Lewat rumah masing-masing, warga bisa mengirimkan informasi via internet. Oleh radio komunitas, informasi itu lalu disebarluaskan saat menyapa pendengarnya. Alangkah mudahnya akses informasi bila hal itu bisa terwujud. (ENY PRIHTIYANI)

http://cetak.kompas.com/read/xml/2008/12/22/02263965/antena.wajanbolic.dari.bantul

FORMAT Industri Kreatif

Senin, 22 Desember 2008 :: Sejak lama industri kreatif berbasis teknologi komunikasi informasi tumbuh dan berkembang tanpa memperoleh perhatian dan dukungan banyak pihak, baik pemerintah, operator telekomunikasi, dan lainnya. Kreativitas di negara kita selama ini dianggap sebagai mediocre yang tidak memiliki perlindungan dan dilecehkan secara intelektual ataupun secara bisnis.

Kehadiran dan pesatnya kemajuan teknologi komunikasi informasi sebenarnya mempunyai peluang yang luas yang bisa menguntungkan tumbuhnya sebuah lingkungan hubungan industri kreativitas menuju kesejahteraan bersama. Bersama artinya industrinya menjadi efisien dan keuntungan pun dijunjung dan disebar secara adil mengikuti prinsip-prinsip keadilan dan kesejahteraan.

Jangankan bersaing dengan negara lain, merebut pasaran luar negeri, untuk dihormati di negeri sendiri sering kali sulit rasanya karena ketidakpedulian lingkungan masyarakat untuk menempatkan industri kreatif dalam konteks yang benar dan adil. Banyak contohnya kalau kita jeli melihat apa yang sebenarnya terjadi di sekeliling kita.

Pembajakan hak cipta atas karya intelektual, apalagi di tengah derasnya perkembangan teknologi komunikasi informasi, selama bertahun-tahun tidak pernah diselesaikan tuntas memberikan kepastian secara hukum dan ekonomi untuk melindungi industri kreativitas kita.

Bagi hasil secara ekonomi dan bisnis di kalangan industri kreatif sendiri pun masih pincang kalau tidak mau dikatakan tidak adil. Lihat hubungan antara para penyedia jasa isi (content provider) dan industri telekomunikasi, misalnya. Kita tidak melihat sama sekali prinsip sama-sama untung dan condong menjadikan perusahaan-perusahaan start-up atau usaha dengan modal kecil dan menengah tidak bisa berkembang akibat dominasi industri telekomunikasi.

Pertanyaannya, bagaimana kita akan bersaing kalau prinsip sama-sama untung dalam mengembangkan industri kreatif di dalam negeri saja sulit untuk ditegakkan, apalagi dilindungi untuk bisa menjadi bagian penting dalam mengejar kemajuan teknologi komunikasi informasi dan persaingan ketat di tengah arus globalisasi sekarang ini.

Kita pun menyimak di tengah pesatnya pemanfaatan dan penggunaan jejaring sosial memanfaatkan kemajuan teknologi komunikasi informasi telah menghadirkan wiraswasta baru dari berbagai kelas dan lapisan masyarakat. Berbagai situs jejaring sosial, blog, dan sejenisnya muncul menjadi sebuah kekuatan baru berkelana mancanegara.

Semuanya dilakukan tanpa dukungan dan perhatian industri lain yang juga ingin meraup keuntungan dari tersublimasinya industri kreatif dan teknologi komunikasi informasi.

http://cetak.kompas.com/read/xml/2008/12/22/02360658/industri.kreatif