22 November 2009

Pemanggilan Pimpinan Surat Kabar, Protes dan Unjuk Rasa Terus Muncul

Puluhan wartawan, tokoh lembaga swadaya masyarakat, dan wakil rakyat asal Sulawesi Selatan di Makassar, Sabtu (21/11), berunjuk rasa mengecam pemanggilan para pimpinan redaksi dua surat kabar di Jakarta.

Unjuk rasa itu dilakukan di depan Monumen Mandala Pembebasan Irian Barat, Makassar. Para pengunjuk rasa berorasi dengan membawa poster "Tolak Kriminalisasi Pers", "Jangan Bungkam Pers", "Kami Butuh Polisi yang Menghormati HAM", dan lainnya.

Koordinator aksi, Jumadi Mappanganro, menyatakan, aksi itu merupakan wujud keprihatinan mereka terhadap pemanggilan pimpinan redaksi Kompas dan Seputar Indonesia.

Warga Makassar yang juga mantan aktivis pergerakan mahasiswa, Tajuddin Rahman, menyatakan, dirinya mengikuti aksi itu karena pemanggilan pimpinan redaksi Kompas dan Seputar Indonesia adalah intimidasi penguasa pascapemberitaan transkrip dugaan rekayasa kriminalisasi KPK. "Seharusnya Anggodo yang segera diperiksa," kata Tajuddin.

Anggota DPR dari Daerah Pemilihan Sulawesi Selatan II, Akbar Faisal, menyatakan, pers tidak bisa dibawa ke ranah (penyidikan) seperti itu.

Direktur Eksekutif Macasart Intelectual Law, Supriansa menyatakan, pemanggilan itu tidak menghormati Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 tentang Pers. "Wartawan dalam menjalankan profesinya tidak bisa dijadikan sebagai alat bukti. Sumber berita wartawan bisa diperiksa oleh polisi, tetapi wartawan tidak bisa dijadikan saksi, apalagi tersangka," kata Supriansa.

Protes dari Makassar juga disampaikan Direktur Lembaga Bantuan Hukum Makassar Abdul Muthalib. Sementara itu, protes dari Palembang muncul dari kelompok masyarakat yang tergabung dalam Yayasan Puspa Indonesia, LP3HAM, Walhi Sumsel, Yayasan Kuala Merdeka, Komite Komunitas Demokrasi Banyuasin, dan Sekolah Demokrasi Banyuasin.

Di Denpasar, Bali, Ketua Umum Asosiasi Advokat Indonesia Denny Kailimang menegaskan, "Pemanggilan media itu suatu kekeliruan besar yang dilakukan Mabes Polri."

Di Semarang, Wakil Ketua Dewan Pers Sabam Leo Batubara mengatakan, pers harus terus melawan mereka yang berniat membungkam kebebasan pers lewat setiap pemberitaan.

Ia juga menegaskan, meskipun sudah dilindungi oleh UU No 40 Tahun 1999 tentang Pers, beberapa aturan lain justru bertentangan dan dapat digunakan untuk menjerat para jurnalis atau wartawan.(NAR/WAD/ANS/ROW/UTI) --http://cetak.kompas.com/read/xml/2009/11/23/04165487/protes..dan.unjuk.rasa.terus.muncul

21 November 2009

Gemblong "Seksi" Farah Quinn

Budi Suwarna

"Here we go," ucap pembawa acara kuliner Ala Chef di TransTV itu sambil memamerkan kue gemblong buatannya kepada pemirsa. Kue tradisional dari ketan dan gula merah itu tampak memikat. Lapisan gula merahnya meleleh dan menggoda orang untuk menjilatnya.

Ala Chef memang kerap menyajikan masakan tradisional. Ketika dihubungi, Kamis (19/11) siang, Farah sedang siap-siap memasak kue dari bahan tiwul dan tepung hunkue untuk keperluan shooting acara tersebut.

"Saya ingin membuat kue baru dengan cara yang sesimpel mungkin agar bisa diikuti semua pemirsa, termasuk yang baru belajar masak," kata Farah yang pernah bekerja sebagai chef di beberapa hotel berbintang di AS.

Menyaksikan acara Ala Chef, kita sadar bahwa kegiatan memasak sesungguhnya melibatkan proses intelektual. Tanpa pengetahuan bahan yang memadai, Farah tidak mungkin bisa menghasilkan makanan tradisional yang rasanya enak dengan penampilan wah. Kita juga bisa melihat bagaimana Farah secara tidak langsung mengenalkan disiplin dan tata tertib memasak yang baik. Dia, misalnya, selalu mengenakan sarung tangan plastik setiap menguleni bahan makanan dengan tangan.

Hal itu sepertinya sepele. Namun, di dunia kuliner, hal-hal kecil bisa sangat menentukan kualitas makanan yang dihasilkan. Mengapa? Karena makanan tidak lagi melulu soal rasa, melainkan juga terkait dengan kebersihan, citra, atau gaya hidup.

Selain Farah, pakar kuliner William Wongso yang mengasuh acara Ceritarasa William Wongso (CRWW) di MetroTV juga banyak memberikan pengetahuan penting tentang kuliner, mulai dari memilih bahan hingga memasak menu alternatif.

Dia, misalnya, mengajarkan cara memasak rendang dengan kompor gas. "Rasanya mungkin sedikit berbeda dengan rendang otentik yang dimasak dengan kayu bakar. Makanya, saya menyebutnya alternatif. Kalau mau yang otentik, silakan makan di kampung asal rendang," katanya.

Resep dan cara memasak alternatif itu, kata William, dibutuhkan terutama oleh orang- orang yang tidak mau repot-repot dalam memasak.

Farah dan William berhasil mendudukkan kegiatan memasak dalam konteks gaya hidup masyarakat masa kini yang maunya serba instan, cepat, dan sederhana. Barangkali, itulah yang membuat kedua acara ini masih bisa bersaing dengan acara-acara lain. Ala Chef dan CRWW sejauh ini telah diproduksi lebih dari 100 episode. Produser kuliner TransTV, Christine, mengatakan, Ala Chef rata-rata ditonton 15 persen pemirsa televisi.

Program digemari

Acara kuliner termasuk acara yang cukup banyak penggemar. Itu sebabnya, acara baru kuliner terus bermunculan. Awal November, Trans7 meluncurkan dua program baru kuliner sekaligus, yakni Cooking 911 dan Asli Enak. Sebelumnya, Trans7 telah memiliki acara memasak untuk anak-anak, yakni Koki Cilik.

Di Global TV ada Dapur Aisyah. Awalnya, ini acara Ramadhan. Namun, karena prospeknya dianggap bagus, Global membuatnya menjadi program reguler hingga sekarang. Global juga memiliki acara kuliner Resto Sedap.

TVOne tidak mau kalah. Stasiun televisi yang lebih banyak menayangkan berita ini membuat program kuliner bernama Kamus Kuliner yang dipandu pengamat politik Hermawan Sulistiyo. Di TransTV ada juga acara kuliner yang relatif baru, yakni Harmoni Alam. Sebelumnya, Trans telah memiliki Wisata Kuliner, Gula-gula, dan Ala Chef.

MetroTV juga berupaya menggaet penggemar program kuliner. Selain menayangkan CRWW, televisi berita ini juga menyisipkan segmen kuliner di acara bincang-bincang pagi, Healthy Life.

Meski acara kuliner berjibun, sesungguhnya pendekatannya itu-itu saja. Sebagian acara kuliner dikemas sebagai laporan perjalanan dan pengalaman icip-icip, seperti Kamus Kuliner dan Asli Enak.

Ada juga acara kuliner yang dikemas dalam bentuk demo memasak, seperti Dapur Aisyah, Gula-gula, Ala Chef, dan CRWW. Kadang produser membungkusnya dengan wisata alam.

Belakangan, acara kuliner yang dipadu dengan petualangan juga bermunculan, seperti Cooking 911 dan Harmoni Alam. Di acara Cooking 911, pemandu acara berpetualang dengan sepeda motor. Selama dalam petualangannya, dia siap menerima panggilan pertolongan darurat dari siapa saja yang butuh bantuan dalam memasak.

Di acara Harmoni Alam, pembawa acara berpetualang sebagai backpacker, turis pengembara itu. Nah, dia akan memasak bahan makanan yang ditemukan di alam dengan peralatan darurat. Di salah satu episode, pembawa acara mengajarkan cara memasak ikan sapu-sapu menjadi tongseng.

Segmentasi penonton acara kuliner memang kian meluas. Dulu acara kuliner lebih banyak menyasar ibu rumah tangga. Sekarang acara kuliner mengincar semua segmen, mulai dari anak-anak, remaja, anak muda, ibu-ibu, hingga bapak-bapak. Urusan lidah memang penting buat siapa saja.--http://cetak.kompas.com/read/xml/2009/11/22/03115944/gemblong.seksi.farah.quinn

Negeri Tercinta Anggodonesia

Hiruk-pikuk persoalan yang membelit Komisi Pemberantasan Korupsi, yang menjerat dua unsur pimpinan nonaktif Chandra M Hamzah dan Bibit Samad Rianto, menjadi isu terpopuler di sejumlah media massa selama berbulan-bulan.

Berbagai kejadian besar, mulai dari ledakan bom di JW Marriott dan The Ritz-Carlton, penyergapan teroris Ibrohim di Temanggung, Jawa Tengah, penangkapan gembong teroris Noordin M Top, hingga gempa besar di Padang Sumatera Barat, tak mampu mengalihkan perhatian publik dari perkara KPK.

Hingga kini, kepedulian publik juga terasa kental jika mengamati dunia cyber, melalui sejumlah jejaring sosial semacam Facebook dan Twitter. Gerakan dukungan terhadap Chandra dan Bibit pun masih terus menggelembung.

Luapan kekritisan publik tampak nyata, natural, dan otentik di kedua jejaring itu. Sasaran kritik mulai dari Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, Polri, Kejaksaan Agung, dan tentu tak ketinggalan Anggodo. Pengguna Twitter juga tak ragu melemparkan kritiknya terkait masalah KPK itu ke akun Twitter milik Menteri Komunikasi dan Informatika Tifatul Sembiring.

Kekritisan warga Facebook dan Twitter tak hanya tertuang dalam kritik-kritik pedas dan menggelitik, tetapi juga rekaan gambar hingga karikatur.

Di salah satu akun Facebook milik seorang berinisial YPT, misalnya, salah satu gambar rekaan memuat wajah Anggodo menghiasi lembaran uang kertas pecahan Rp 500.000. Di bawah gambar tersebut tertulis keterangan: "Agar proses suap-menyuap lebih mudah pemerintah melalui Bank Indonesia mengeluarkan pecahan baru Rp 500.000,00. Jadi nyuap pejabat pemerintah gak perlu pake koper lagi".

Anggodo tampaknya menjadi salah satu favorit sasaran komentar ataupun sindiran di dunia cyber. Seorang pemilik akun Facebook berinisial AL, misalnya, Sabtu (21/11) malam, menulis dalam statusnya, "Negeri tercinta, Anggodonesia".

Menanggapi serangan berbagai sindiran, pengacara Anggodo, Bonaran Situmeang, mengatakan, pihaknya tidak akan mempermasalahkan hal itu. "Kami biarkan saja karena sebenarnya mereka tidak mengerti apa yang mereka lakukan. Tersinggung sih tersinggung, tapi kami maafkan. Karena seandainya mereka tahu apa yang mereka perbuat, mereka pasti tidak melakukannya," kata Bonaran.

Di kalangan wartawan, suara Anggodo juga cukup diminati. Saat Mahkamah Konstitusi memperdengarkan rekaman sadapan pembicaraan telepon Anggodo, hampir semua wartawan yang meliput ikut merekam. Selain untuk kepentingan berita, rupanya beberapa wartawan menjadikan rekaman suara Anggodo itu sebagai ringtone telepon seluler. Bagian-bagian yang dipilih tentunya yang amat melukai hati nurani bangsa ini. (Sarie Febriane) -- http://megapolitan.kompas.com/read/xml/2009/11/22/05430884/Negeri.Tercinta.Anggodonesia

Pakar Hukum: "Kompas" dan "Sindo" Hanya "Sasaran Antara"

Pakar hukum pidana Universitas Indonesia, Rudi Satrio, melihat pemanggilan dua media, Kompas dan Seputar Indonesia (Sindo), oleh Polri terkait publikasi rekaman penyadapan KPK hanya sebagai sasaran antara.

Pihak Polri, ujar Rudi, sesungguhnya menyasar dan mencari tahu siapa yang mengeluarkan rekaman tersebut pertama kali meskipun kedua media tersebut memuat transkrip rekaman berdasarkan publikasi terbuka di sidang Mahkamah Konstitusi.

"Kompas dan Sindo hanya menjadi tujuan antara untuk cari tahu siapa yang pertama kali membocorkan rekaman itu. Tetapi, dalam konteks penegakan hukum, menurut saya bukan soal apakah ada yang membocorkan rekaman itu atau tidak," kata Rudi, Sabtu (21/11), seusai mengisi sebuah diskusi mingguan di Jakarta.

Polri, lanjutnya, tak bisa berbicara adanya kebocoran rahasia negara dalam konteks ini. "Arahnya memang menjerat siapa yang membocorkan. Karena rekaman penyadapan itu rahasia negara. Tapi, kalau yang dipersoalkan transkrip rekaman yang diputar di MK, justru sudah tidak ada gunanya, karena memang sudah terbuka. Apa yang dibocorkan?" ujarnya.

Mengenai istilah berita acara interview yang digunakan polisi untuk mendokumentasi kesaksian Kompas dan Sindo juga dipertanyakan. Dalam hukum acara pidana tak dikenal istilah tersebut. Rudi mengatakan, lazimnya adalah berita acara pemeriksaan (BAP).

"Keterangan saksi ya saksi saja, biasanya di BAP. Enggak ada itu berita acara interview. Saya juga baru dengar," ujarnya.--http://nasional.kompas.com/read/xml/2009/11/21/13004920/Pakar.Hukum.Kompas.dan.Sindo.Hanya.Sasaran.Antara

Tahun Depan, Iklan Media "Online" Bakal Melonjak

Omzet iklan tahun 2010 diperkirakan bakal meningkat sebesar 15 persen dibandingkan tahun 2009 yang antara Rp 50 triliun dan Rp 53 triliun.

Demikian disampaikan Ketua Umum Persatuan Perusahaan Periklanan Indonesia (PPPI) Harris Thajeb di sela-sela malam Anugerah Citra Pariwara 2009 di Hall Senayan City, Jakarta, Jumat (20/11) malam.

Menurutnya, pertumbuhan omzet iklan pada tahun depan diperkirakan lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan iklan tahun 2009 yang hanya mencapai 12 persen. "Omzet iklan dari tahun 2008 ke 2009 naiknya 12 persen. Tahun depan tampaknya akan bagus. Perkiraan kita, naiknya lebih baik," ujarnya. 

Dia menjelaskan, tahun ini porsi iklan masih dikuasai media televisi sebesar 53 persen, media cetak antara 30 dan 32 persen, serta media online serta radio di bawah 10 persen. Untuk media online, dia meyakini bahwa porsi iklan akan melonjak tinggi pada tahun-tahun mendatang. "Media online memang masih kecil, tetapi akan melonjak tinggi," cetusnya. 

Harris menjelaskan, melonjaknya pertumbuhan omzet iklan pada 2010 disebabkan banyaknya pengiklan komersial yang memasang iklannya tahun depan. Pasalnya, tahun 2009 ini banyak pengiklan komersial yang menahan diri untuk memasang spot iklannya karena tertahan oleh serbuan iklan partai politik saat masa kampanye.

"Tahun 2009 kan pengiklan menahan semua spot iklannya karena semua media dikuasai iklan parpol. Jadi, tahun ini bukan saat yang tepat untuk beriklan komersial. Mereka (pengiklan) baru akan beriklan tahun depan," paparnya.--http://www.kompas.com/read/xml/2009/11/20/21472979/Tahun.Depan..Iklan.Media.Online.Bakal.Melonjak