28 Mei 2008

Kompas.com 2.0, Cermin Masa Depan Industri Media dan Jurnalistik

Ninok Leksono

"...(Perkembangan yang terjadi di internet sekarang ini) adalah tentang si banyak yang merebut kuasa dari si sedikit, dan saling bantu satu sama lain tanpa mengharapkan imbalan, dan bagaimana itu semua tidak hanya akan mengubah dunia, tetapi juga mengubah cara dunia berubah." (Lev Grossman, Time, 2006)

Piala atau penghargaan bukan tujuan. Namun, tatkala ia datang pada momen penting, besarlah artinya. Ini pula yang dapat dikatakan tentang dua penghargaan yang diterima oleh situs www.kompas.com dalam sepekan terakhir.

Pekan ini, Kompas.com meraih penghargaan terkait dengan tren pemasaran baru—dikenal sebagai New Wave Marketing—dari MarkPlus. Sebelumnya, Sabtu (24/5), Kompas.com meraih Cakram Award untuk kategori perusahaan pengelola portal berita. Kedua penghargaan diterima sepekan sebelum megaportal Kompas.com diluncurkan Kamis malam ini.

Dua penghargaan itu membawa argumen yang bersemangat sama. Di sana ada elemen "terobosan" yang, menurut Ketua Panitia Cakram Award Adji Dharmoyo, membawa semangat untuk menjadi yang terunggul, ada kreativitas, efektivitas, daya juang, keunikan, kejelian membaca peluang, dan kemampuan mengubah ide menjadi kerja atau produk nyata (Kompas, 25/5).

Sementara itu, MarkPlus menilai Kompas Gramedia melalui megaportal Kompas.com telah memelopori pendekatan pemasaran baru, membangun relasi partisipatif dan kolaboratif dengan penggunanya, hal yang menurut CEO MarkPlus Hermawan Kertajaya "tidak terhindarkan karena tuntutan kreativitas yang didorong perkembangan teknologi digital".

Kompas Online & "beyond"

Oleh pendiri Kompas, dalam hal ini Jakob Oetama, Kompas. com yang terlahir sebagai Kompas Online pada 14 September 1995 divisikan sebagai Kompas masa depan yang senantiasa muda (rejuvenated), segar dalam kemasan teknologi mutakhir. Pandangan tersebut tidak saja visioner, tetapi juga pragmatis mengingat dalam riwayatnya, media cetak—sebagaimana dialami Kompas dalam wujud orisinalnya—terpagar dalam berbagai kendala, bahkan hingga hari ini.

Naiknya harga kertas koran setiap kali juga menyadarkan pengasuh media cetak bahwa ada elemen produksi yang bisa menjadi kuda liar, lebih-lebih ketika ia semakin terkait dengan perekonomian global, dan boleh jadi juga lingkungan.

Bahkan, di kalangan aktivis media baru sering pula tercetus ungkapan yang nuansanya menyindir media cetak bahwa "Zaman Batu berakhir bukan karena orang kehabisan batu, tetapi karena telah ditemukan teknologi baru yang lebih baik".

Kompas Online semula hanya memuat edisi cetak, tetapi secara bertahap kemudian diperkaya oleh konten-konten yang khas dengan medium internet, yang dalam kerangka Web 1.0 masih bertumpu pada pemutakhiran berita (news update).

Media online yang mulai bertumbuh medio 1990-an meminjam pepatah berita adalah "history in the making" dari media televisi global, yang semenjak Perang Teluk, Januari 1991, mempraktikkan jurnalisme ini.

Kompas.com 2.0

Penulisan di atas diharapkan mengingatkan orang pada Web 2.0 yang jadi populer menyusul konferensi yang diselenggarakan oleh O'Reilly Media tahun 2004. Meski masih harus melakukan penyempurnaan, Kompas.com yang sejak Agustus 1998 dikelola oleh PT Kompas Cyber Media telah menjadi praktisioner awal jurnalisme dan bisnis online di Tanah Air.

Namun, ada perkembangan lain yang mau tak mau harus diperhitungkan oleh pengelolanya, bahkan juga oleh perusahaan induk yang memayunginya (Kompas Gramedia). Perkembangan tersebut terkait dengan berubahnya gaya hidup dan pola masyarakat dalam mendapatkan informasi.

Perubahan masyarakat ini ditandai pula dengan lahirnya apa yang disebut Generation C, atau Generasi Digital, untuk menyebut mereka yang lahir di paruh kedua 1980-an atau paruh pertama 1990-an. Mereka inilah digital native yang "dari sononya" memang lebih akrab dengan gadget (peranti), seperti HP, PDA, dan sejenisnya.

Orientasi Kompas.com pun lalu membutuhkan arah baru (redirection). Itu sebabnya, Taufik H Mihardja, yang kini menjadi nakhoda Kompas.com, menghadirkan Kompas.com baru, yang dari sosok fisik maupun semangatnya mengakomodasi perkembangan di atas.

Kalau polesan Taufik dan timnya, yang juga mendapat dorongan penuh dari CEO Agung Adiprasetyo, amat mengedepankan forum dan komunitas, selain berita, itu tak lebih dari respons memenuhi panggilan zaman.

Definisi Web 2.0 menyebut pemanfaatan teknologi www dan desain web dewasa ini ditujukan untuk meningkatkan kreativitas, berbagi informasi, dan— paling nyata dari semuanya— kerja sama di antara pengguna. "Konsumen ingin lebih partisipatif," kata Hermawan.

Memacu jurnalisme

Dalam kerangka Web 2.0, sebetulnya bukan hanya bisnis yang dipacu, tetapi juga jurnalisme. Ini karena dalam aspek komunitas yang didorong oleh Web 2.0 terkandung juga elemen jurnalisme, dalam hal ini yang paling alamiah adalah jurnalisme warga. Kini berbagai informasi, baik yang hard seperti berita maupun yang soft, banyak diperoleh dari blog. Muncul pertanyaan, apakah blog merupakan masa depan jurnalisme?

Sebelum ini, jurnalisme online acap dikritik karena semata mengedepankan kecepatan dan mengorbankan akurasi sehingga sempat dijuluki jurnalisme, "Get it first, then get it right". Namun, dengan semakin dewasa, kini sudah ada mekanisme self-correcting.

Semuanya tampak sebagai bagian dari proses redefinisi jurnalisme.

Dalam konteks inilah kita melihat peluncuran kembali Kompas.com, Kamis malam ini, sekaligus juga sebagai cermin arah besar bisnis media dan jurnalisme, tidak saja di Tanah Air, tetapi juga di dunia. (NIN)

http://cetak.kompas.com/read/xml/2008/05/29/00232812/cermin.masa.depan.industri.media.dan.jurnalistik

Tidak ada komentar: