Tidak Melayani Tanda Tangan saat Dinas di RS
Di atas panggung, Tompi adalah idola baru. Gaya plus suaranya yang khas menjadikan dia unik dan digemari banyak orang. Khususnya, pendengar musik jazz dan pop. Di luar panggung, pria yang berprofesi sebagai dokter itu menjadi idola pasien sekaligus panutan bagi istri dan anaknya.
Sabtu (19/4) pukul 6.00, Tompi sudah rapi. Di kediamannya, apartemen Aston Residence lantai 8, Jakarta, pemilik nama lengkap Teuku Adi Fitrian tersebut bersiap menghadiri acara bakti sosial di Masjid At Tin, Taman Mini Indonesia Indah. "Pukul tujuh tepat, saya sudah harus berangkat," katanya.
Ucapan itu benar-benar terbukti. Ketika jarum jam menunjuk pukul tujuh tepat, Tompi yang mengenakan celana bahan dan kaus berkerah warna hitam -tidak bertopi seperti saat di panggung- tersebut langsung berangkat menaiki mobil van miliknya. "Sudah ya, berangkat dulu," pamit dia kepada sang istri, Arti Indira, dan anak semata wayangnya yang baru berusia lima bulan, Teuku Omar Dakari, sebelum berlalu.
Biasanya, Sabtu dan Minggu adalah hari bagi Tompi di rumah untuk menghabiskan waktu bersama keluarga. Kecuali, ada undangan menyanyi atau acara resmi semacam bakti sosial. "Tapi, kadang, kalau nggak ada kerjaan, tetap ada yang dikerjakan di rumah. Mengerjakan PR (pekerjaan rumah, Red.), biasanya," jelasnya.
Saat ini, Tompi memang masih menyelesaikan program spesialis bedah plastik di Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia sambil praktik sebagai dokter di rumah sakit (RS) itu.
Setiap Senin sampai Jumat, Tompi beraktivitas di RS mulai pukul 6.30 sampai 16.00. "Berangkat dari rumah pukul 6.00. Nanti, pukul 17.00, sudah di rumah lagi. Tapi, kalau kebagian dokter jaga, ya lanjut sampai pagi lagi. Besoknya, langsung kuliah," ungkapnya.
Karena padatnya kesibukan itu, Tompi sering kurang tidur. Ketika jadi dokter jaga, dia mencuri waktu di sela-sela menunggu pasien. Itu pun bukan benar-benar posisi tidur, hanya memejamkan mata sambil duduk di kursi kerja.
"Makan teratur dan makan yang baik. Sejauh ini, tidak pakai suplemen," tutur pria kelahiran Lhokseumawe, Aceh, 22 September 1978, itu membeberkan kiat sehatnya.
Untuk jadwal menyanyi, Tompi lebih sering memanfaatkan waktu di akhir pekan atau saat kegiatan di rumah sakit sedang sepi. Prioritas utama dalam hidupnya adalah keluarga. Selanjutnya, sekolah, baru yang lain-lain. "Itu komitmen. Tapi, semua itu (termasuk menyanyi, Red) bisa saling mendukung, bukan hal yang terkotak-kotak. Toh, orang yang ngejalanin sama," ucap dia.
Meski begitu, Tompi tetap tidak mencampuradukkan satu sama lain. "Saya selalu pisahkan antara entertainer dan dokter. Nggak bisa dicampur," tegasnya. Pemisahan tersebut merupakan cara dia mengantisipasi pasien yang mengenalnya sebagai penyanyi.
Pasalnya, sering ketika mengobati pasien, keluarga pasien, bahkan pasien itu sendiri, memintanya menyanyi atau sekadar foto plus minta tanda tangan. "Kalau sedang jadi dokter, saya nggak bisa berlaku seperti itu. Saya katakan, saya sedang berhadapan dengan keluarga pasien lain. Hiburan kan sifatnya hura-hura. Jadi, nggak baik kalau dilakukan di RS, nggak mau mengganggu sejawat lain," imbuhnya.
Meski begitu, banyak juga pasien yang tidak mengenalinya. Mereka beranggapan, dokter yang dihadapi tersebut sekadar mirip Tompi. Sebab, ketika tidak memakai atribut di atas panggung, dia berbeda. "Pasien sering katakan, 'Dokter mirip Tompi, ya?'," saya jawab saja iya biar cepat," lanjutnya lantas tertawa.
Arti, sang istri, mengatakan mendukung seluruh kegiatan lelaki tercintanya tersebut. Jika Tompi punya tugas atau paper, dia bisa membantu menyelesaikan. Sedangkan Tompi mengerjakan hal lain. "Kalau mau nyanyi, aku siapkan baju, topi, dan semua peralatannya," kata wanita yang merupakan adik kelas Tompi itu. (Sugeng Sulaksono/tia)
Tompi Adalah
" Suka dengar musik. Dalam sehari, 70 persen musik, 30 persen baca buku.
" Gemar perawatan tubuh ke salon bersama istri. Mulai merapikan rambut, facial, sampai spa.
" Suka koleksi topi manggung. Jumlah sekarang 30 buah.
" Tidak suka makan Pare karena pahit.
" Tidak percaya mistis.
" Perfeksionis urusan rumah, tata ruang, dan pakaian.
Berawal dari Singapura
Menjadi penyanyi bukan cita-cita Tompi. Meski sejak kecil senang berolah vokal, dia tidak pernah berniat terjun di dunia tarik suara secara profesional. Namun, pada 2002, setelah sebelumnya berguru vokal pada Bertha dan Pianis, Tjut Nyak Deviana, Tompi semakin mahir menyanyikan lagu gaya funk, r&b, soul, hip hop, nu-jazz, swing, atau bossas.
Perlahan karirnya terus meningkat ketika kelompok band jazz Cherokee pada 2003 mengajaknya menjadi vokalis kelompok tersebut untuk tampil di Singapura. Penampilan perdananya di luar negeri sukses dan dia dijuluki super vocalist atau super sound oleh para pendengarnya.
Pada 2005, Tompi terlibat dalam penggarapan album kelompok band etnis-fusion yang musisinya terdiri atas multinasional, Bali Lounge. Aksi mereka memukau penonton pada Java Jazz Festival 2005.
Tidak lama kemudian, Tompi merilis album solo perdana berjudul T, disusul album Playful dan My Happy Life. "Awalnya, iseng jadi penyanyi. Kok malah serius," ucapnya.
Belum lama ini, Tompi mendapat kesempatan tampil di panggung internasional lain selain Java Jazz Festival. Yaitu, di Sunburst Festival di Kuala Lumpur, Malaysia. Tompi bangga bisa satu panggung dengan musisi besar sekelas John Legend dan Incubus. Niat go international? "Sedang diusahakan ke sana, tahun ini, album My Happy Life akan edar juga di Jepang," terangnya. (gen/tia)
Berseberangan tetapi Melengkapi Hidup
Antara tarik suara dengan kedokteran merupakan bidang yang berarti bagi Tompi. Keduanya memberikan kepuasan dan menyumbangkan uang untuk terus memutar roda hidupnya bersama keluarga.
Bagi Tompi, ketika menjadi dokter, peran sebagai makhluk sosial terwakili. Dia merasa bahwa profesi itu dibutuhkan oleh banyak orang. Menurut dia, membantu mengobati penyakit orang lain adalah tugas mulia. "Walaupun, kesembuhan tersebut datang dari Allah," ujarnya.
Menjadi penyanyi, Tompi merasa puas karena bisa menghibur orang lain, terutama para penggemarnya. "Jadi, dua hal itu sangat penting buat saya. Berbeda, tapi tidak bisa dipisahkan," terangnya.
Lalu, bidang mana yang menghasilkan uang lebih banyak? "Kadang-kadang, kita nggak bisa melihat segala sesuatu dari sisi materi saja. Dua-duanya penting, materi dan bukan materi. Kalau mau cepat dapat duit dalam tanda kutip tanpa risiko, ya nyanyi. Tapi, nggak ada sisi sosialnya. Kecuali, nyanyi di acara sosial. Beda dengan jadi dokter. Walaupun uangnya nggak seberapa untuk level saya, manfaatnya lebih besar," jelasnya.
Sebagai kepala rumah tangga, Tompi menerapkan prinsip Islami dan semikonservatif. Artinya, lanjut dia, dirinya ingin lebih dekat dengan anak dengan saling terbuka. Selain itu, anak boleh membantah asal punya alasan tepat. Berbeda dengan orang tua zaman dulu yang full konservatif alias otoriter. "Tapi, cara orang tua zaman dulu tetap saya pakai untuk menerapkan hal-hal religi, sopan santun, dan adat istiadat," ungkapnya. (gen/tia)
http://www.jawapos.co.id/index.php?act=detail_c&id=337203
Tidak ada komentar:
Posting Komentar