19 April 2008
Para Pelawak Terkenal; Bagaimana Mereka Mengelola Penghasilannya? (2-Habis) * Dulu Royal Bagi-Bagi, Kini Hanya Cukup untuk Makan
Ketika masih jaya, pelawak Timbul mengaku sering membagi-bagikan uang kepada teman-temannya, sehingga jarang menabung. Kini, ketika order tak seramai dulu dan ketika tubuh mulai digerogoti penyakit, dia menyesal.
SUGENG SULAKSONO, Jakarta
Suasana di Gang Anggrek Cenderawasih, kawasan Kemanggisan, Jakarta Barat, tampak tenang Kamis siang (17/4). Sesekali, beberapa bocah berumur 7-10 tahun berlarian di sepanjang gang yang padat penduduk itu.
Sebuah rumah berpagar merah terlihat berbeda dibandingkan rumah-rumah lainnya di gang tersebut. Di bagian depan, terdapat beberapa sangkar burung. Isinya lima ekor perkutut.
Rumah yang luasnya sekitar 80 meter persegi itu berlantai tiga. Selain dilengkapi parabola, ada pula AC. Itulah rumah pelawak Timbul yang dihuni sejak 1987.
Siapa yang tak kenal Timbul? Ketika Grup Lawak Srimulat berkibar, namanya termasuk dalam deretan yang paling dikenal. Nama Timbul juga tenar ketika memotori Ketoprak Humor. Dia juga pernah membintangi sejumlah iklan produk.
Tapi, ibarat roda, kehidupan Timbul sekarang mulai berputar ke bawah. Ketika ditemui Jawa Pos di rumahnya siang itu, pria 66 tahun tersebut baru bangun tidur. Mengenakan batik, bersarung, dan berpeci hitam, dia mempersilakan duduk di ruang tamu yang dihiasi tiga piala Panasonic Awards dan dua fotonya.
Satu foto ketika ibadah haji pada 1995 dan satunya lagi saat diberi gelar Kanjeng Raden Tumenggung (KRT) oleh Keraton Solo pada 2000. "Jelek-jelek begini, nama lengkap saya KRT Timbul Haryodipuro," katanya bangga.
Ketika ngomong seperti itu, gaya Timbul tak berbeda ketika dia melawak di layar kaca. Hanya, suaranya terdengar kurang jelas. "Saya baru sakit. Sudah sejak Agustus (tahun lalu) rawat jalan. Habis, kalau dirawat di rumah sakit itu, takut didiamkan saja, tidak dirawat," ujar pria kelahiran 28 Desember 1942 tersebut.
Timbul menderita penyakit gula. Saat parah-parahnya, separo badan, bagian kanan mulai pinggang sampai bahu termasuk tangan, seperti mati. Tidak berfungsi. "Istilahnya kepleh. Ini masih (kepleh), tapi sudah lebih baik," ungkap Timbul.
Selama sakit, dia mengaku nelangsa. Sebab, tak ada satu pun temannya sesama pelawak yang menjenguk. "Mungkin mereka pas sibuk...," ujarnya berusaha menghibur.
Sekarang, Timbul masih rawat jalan, periksa darah dan sedikit pengobatan alternatif setiap dua minggu sekali di rumah sakit swasta di Jakarta Barat. Sejak sakit, dia sudah tak boleh mengonsumsi daging sapi, gula -kecuali gula rendah kalori-, dan beberapa pantangan lain.
"Saya makan tempe saja sudah enak kok," katanya sambil terus mengisap rokok impor yang tidak bercengkih. "Rokok ini hanya iseng, teman saja. Tidak bahaya. Kata dokternya boleh," jelasnya.
Saat ini, yang terpenting bagi Timbul adalah kesehatan. Dia akan terus berjuang hingga kesehatannya pulih. Setelah pulih, dia ingin kembali mengoptimalkan kemampuannya di dunia seni, memaksimalkan karir dan mencari uang lebih banyak.
Timbul menyatakan, uang yang didapatkan rencananya digunakan sebagai modal usaha. Yakni, membuat kos-kosan atau rumah kontrakan. "Sekarang duitnya belum ada. Duit yang ada hanya cukup untuk makan. Kalau dipakai modal, ya nggak makan," tegasnya.
Kalaupun ada uang lebih, kata dia, itu untuk biaya pengobatan rutin. Sekali berobat menghabiskan Rp 300 ribu hingga Rp 1 juta. Tidakkah punya tabungan? "Sekarang ya sudah nggak ada. Habis semua. Sudah tidak laku, ya sudah. Tabungan ya ada, sedikit lah," ungkapnya.
Dia mengaku, ketika sedang laku-lakunya, tak banyak uang yang ditabung. Uang yang dia peroleh tidak dinikmati sendiri. Dibagi-bagikan kepada teman-teman lain, terutama sesama pelawak. "Dulu, kalau nggak saya buang-buang itu, nggak akan begini jadinya. Karena dibuang-buang, ya begini," kenangnya.
Timbul menuturkan, tujuan dirinya membagi-bagikan uang kepada teman-temannya adalah untuk mempererat persaudaraan. Menurut dia, cari duit ya cari duit, persaudaraan tetap dijaga, bagaimanapun caranya.
Lantas, mengapa baru sekarang Timbul berniat membuka usaha lain di luar kegiatan rutin melawak? "Dulu belum sempat bisnis. Waktu saya saat itu habis di dunia seni. Tari, lawak, apa saja. Ya jadi nggak kepikiran bisnis. Tapi, ini sudah mendekati. Nanti kalau sudah ada uang, ya bikin kos-kosan," papar pria yang mengaku hanya tamatan SMP tersebut.
Beruntung, sang istri, Sukarti, 60, tidak terlalu kaget ketika penghasilan suaminya tidak lagi sebanyak dulu. Sukarti justru menunjang perekonomian keluarga dengan membuka warung, tepat di mulut gang tempat mereka tinggal. Warung kelontong berukuran sekitar 3 x 3 meter tersebut satu-satunya usaha lain milik Timbul. "Tapi, itu dolanan saja kok. Yang mengurus nyonya. Saya tidak ikut campur. Hasilnya buat sogrokan saja, bisa untuk bayar listrik," ungkapnya merendah.
Timbul merasa, pada usianya yang sudah tak lagi muda itu, dirinya perlu merencanakan masa depan yang lebih baik. Meski demikian, dia justru bersyukur mampu menjadikan anak-anaknya sarjana. "Tinggal Oki (bungsu, Red), sebentar lagi lulus. Sudah semester akhir," kata bapak lima anak tersebut.
Selain itu, kata dia, setidaknya meski uang tidak berlebih seperti dulu, dirinya tidak sampai menjual harta. Dua mobil miliknya, Toyota Vios dan minibus Mazda, masih ada dan diparkir di pinggir kali di seberang Gang Anggrek Cenderawasih.
Timbul sebenarnya juga punya satu rumah lagi yang jauh lebih luas di Cipondoh, Tangerang. "Di sana ditempati cucu. Saya di sini saja, dekat tol, dekat ke airport dan ke mana-mana," tegasnya.
Lain Timbul, lain pula dengan keluarga pelawak Basuki (almarhum). Pria yang meninggal pada 12 Desember 2007 karena penyakit jantung itu, tampaknya, sudah menyiapkan segala sesuatunya untuk keluarga.
Hal tersebut diakui sang istri, Ny Sri Mulyani. Basuki tidak hanya mewariskan rumah mewah di Cinere, Depok, dua mobil, dan tabungan, tapi juga lahan bisnis. Yang terkenal adalah Minimarket Basuki di pintu 2 Taman Mini Indonesia Indah dan Restoran Soto Semarang Mas Karyo di Jalan Panjang, Jakarta Barat.
"Restoran yang di Cilandak baru saja ditutup. Ini sedang cari tempat lain," jelas perempuan berkerudung itu saat ditemui di rumahnya di Jl Tapak Siring XI, Graha Cinere, Jumat malam (18/4).
Menurut Sri, usaha yang ada itu sudah sangat cukup untuk menghidupi kebutuhan keluarga, membiayai dua anaknya, Uki dan Wahyu, yang sama-sama masih kuliah di Universitas Al Azhar, Jakarta (Galih, anak pertama, sudah tamat dan menikah). "Alhamdulillah, ketika almarhum (Basuki) pergi, tidak pernah kekurangan. Mungkin sudah disiapkan benar-benar," ujarnya.
Dia juga tidak kaget ketika harus meneruskan bisnis yang dirintis suaminya itu. Selain sering ikut campur kerjaan suaminya, ketika belum benar-benar kaya, Sri rajin berjualan pakaian keliling ke beberapa acara pengajian, menjual batik Mas Karyo dari pintu ke pintu, sampai buka kafe di depan rumah. Hasilnya, tidak hanya stabil berjalan, bisnis itu sudah menghasilkan harta baru. Belum lama ini, Sri membeli mobil Grand Livina. Kini, total dia memiliki tiga mobil. (kum)
http://www.jawapos.co.id/index.php?act=detail&id=10341
SUGENG SULAKSONO, Jakarta
Suasana di Gang Anggrek Cenderawasih, kawasan Kemanggisan, Jakarta Barat, tampak tenang Kamis siang (17/4). Sesekali, beberapa bocah berumur 7-10 tahun berlarian di sepanjang gang yang padat penduduk itu.
Sebuah rumah berpagar merah terlihat berbeda dibandingkan rumah-rumah lainnya di gang tersebut. Di bagian depan, terdapat beberapa sangkar burung. Isinya lima ekor perkutut.
Rumah yang luasnya sekitar 80 meter persegi itu berlantai tiga. Selain dilengkapi parabola, ada pula AC. Itulah rumah pelawak Timbul yang dihuni sejak 1987.
Siapa yang tak kenal Timbul? Ketika Grup Lawak Srimulat berkibar, namanya termasuk dalam deretan yang paling dikenal. Nama Timbul juga tenar ketika memotori Ketoprak Humor. Dia juga pernah membintangi sejumlah iklan produk.
Tapi, ibarat roda, kehidupan Timbul sekarang mulai berputar ke bawah. Ketika ditemui Jawa Pos di rumahnya siang itu, pria 66 tahun tersebut baru bangun tidur. Mengenakan batik, bersarung, dan berpeci hitam, dia mempersilakan duduk di ruang tamu yang dihiasi tiga piala Panasonic Awards dan dua fotonya.
Satu foto ketika ibadah haji pada 1995 dan satunya lagi saat diberi gelar Kanjeng Raden Tumenggung (KRT) oleh Keraton Solo pada 2000. "Jelek-jelek begini, nama lengkap saya KRT Timbul Haryodipuro," katanya bangga.
Ketika ngomong seperti itu, gaya Timbul tak berbeda ketika dia melawak di layar kaca. Hanya, suaranya terdengar kurang jelas. "Saya baru sakit. Sudah sejak Agustus (tahun lalu) rawat jalan. Habis, kalau dirawat di rumah sakit itu, takut didiamkan saja, tidak dirawat," ujar pria kelahiran 28 Desember 1942 tersebut.
Timbul menderita penyakit gula. Saat parah-parahnya, separo badan, bagian kanan mulai pinggang sampai bahu termasuk tangan, seperti mati. Tidak berfungsi. "Istilahnya kepleh. Ini masih (kepleh), tapi sudah lebih baik," ungkap Timbul.
Selama sakit, dia mengaku nelangsa. Sebab, tak ada satu pun temannya sesama pelawak yang menjenguk. "Mungkin mereka pas sibuk...," ujarnya berusaha menghibur.
Sekarang, Timbul masih rawat jalan, periksa darah dan sedikit pengobatan alternatif setiap dua minggu sekali di rumah sakit swasta di Jakarta Barat. Sejak sakit, dia sudah tak boleh mengonsumsi daging sapi, gula -kecuali gula rendah kalori-, dan beberapa pantangan lain.
"Saya makan tempe saja sudah enak kok," katanya sambil terus mengisap rokok impor yang tidak bercengkih. "Rokok ini hanya iseng, teman saja. Tidak bahaya. Kata dokternya boleh," jelasnya.
Saat ini, yang terpenting bagi Timbul adalah kesehatan. Dia akan terus berjuang hingga kesehatannya pulih. Setelah pulih, dia ingin kembali mengoptimalkan kemampuannya di dunia seni, memaksimalkan karir dan mencari uang lebih banyak.
Timbul menyatakan, uang yang didapatkan rencananya digunakan sebagai modal usaha. Yakni, membuat kos-kosan atau rumah kontrakan. "Sekarang duitnya belum ada. Duit yang ada hanya cukup untuk makan. Kalau dipakai modal, ya nggak makan," tegasnya.
Kalaupun ada uang lebih, kata dia, itu untuk biaya pengobatan rutin. Sekali berobat menghabiskan Rp 300 ribu hingga Rp 1 juta. Tidakkah punya tabungan? "Sekarang ya sudah nggak ada. Habis semua. Sudah tidak laku, ya sudah. Tabungan ya ada, sedikit lah," ungkapnya.
Dia mengaku, ketika sedang laku-lakunya, tak banyak uang yang ditabung. Uang yang dia peroleh tidak dinikmati sendiri. Dibagi-bagikan kepada teman-teman lain, terutama sesama pelawak. "Dulu, kalau nggak saya buang-buang itu, nggak akan begini jadinya. Karena dibuang-buang, ya begini," kenangnya.
Timbul menuturkan, tujuan dirinya membagi-bagikan uang kepada teman-temannya adalah untuk mempererat persaudaraan. Menurut dia, cari duit ya cari duit, persaudaraan tetap dijaga, bagaimanapun caranya.
Lantas, mengapa baru sekarang Timbul berniat membuka usaha lain di luar kegiatan rutin melawak? "Dulu belum sempat bisnis. Waktu saya saat itu habis di dunia seni. Tari, lawak, apa saja. Ya jadi nggak kepikiran bisnis. Tapi, ini sudah mendekati. Nanti kalau sudah ada uang, ya bikin kos-kosan," papar pria yang mengaku hanya tamatan SMP tersebut.
Beruntung, sang istri, Sukarti, 60, tidak terlalu kaget ketika penghasilan suaminya tidak lagi sebanyak dulu. Sukarti justru menunjang perekonomian keluarga dengan membuka warung, tepat di mulut gang tempat mereka tinggal. Warung kelontong berukuran sekitar 3 x 3 meter tersebut satu-satunya usaha lain milik Timbul. "Tapi, itu dolanan saja kok. Yang mengurus nyonya. Saya tidak ikut campur. Hasilnya buat sogrokan saja, bisa untuk bayar listrik," ungkapnya merendah.
Timbul merasa, pada usianya yang sudah tak lagi muda itu, dirinya perlu merencanakan masa depan yang lebih baik. Meski demikian, dia justru bersyukur mampu menjadikan anak-anaknya sarjana. "Tinggal Oki (bungsu, Red), sebentar lagi lulus. Sudah semester akhir," kata bapak lima anak tersebut.
Selain itu, kata dia, setidaknya meski uang tidak berlebih seperti dulu, dirinya tidak sampai menjual harta. Dua mobil miliknya, Toyota Vios dan minibus Mazda, masih ada dan diparkir di pinggir kali di seberang Gang Anggrek Cenderawasih.
Timbul sebenarnya juga punya satu rumah lagi yang jauh lebih luas di Cipondoh, Tangerang. "Di sana ditempati cucu. Saya di sini saja, dekat tol, dekat ke airport dan ke mana-mana," tegasnya.
Lain Timbul, lain pula dengan keluarga pelawak Basuki (almarhum). Pria yang meninggal pada 12 Desember 2007 karena penyakit jantung itu, tampaknya, sudah menyiapkan segala sesuatunya untuk keluarga.
Hal tersebut diakui sang istri, Ny Sri Mulyani. Basuki tidak hanya mewariskan rumah mewah di Cinere, Depok, dua mobil, dan tabungan, tapi juga lahan bisnis. Yang terkenal adalah Minimarket Basuki di pintu 2 Taman Mini Indonesia Indah dan Restoran Soto Semarang Mas Karyo di Jalan Panjang, Jakarta Barat.
"Restoran yang di Cilandak baru saja ditutup. Ini sedang cari tempat lain," jelas perempuan berkerudung itu saat ditemui di rumahnya di Jl Tapak Siring XI, Graha Cinere, Jumat malam (18/4).
Menurut Sri, usaha yang ada itu sudah sangat cukup untuk menghidupi kebutuhan keluarga, membiayai dua anaknya, Uki dan Wahyu, yang sama-sama masih kuliah di Universitas Al Azhar, Jakarta (Galih, anak pertama, sudah tamat dan menikah). "Alhamdulillah, ketika almarhum (Basuki) pergi, tidak pernah kekurangan. Mungkin sudah disiapkan benar-benar," ujarnya.
Dia juga tidak kaget ketika harus meneruskan bisnis yang dirintis suaminya itu. Selain sering ikut campur kerjaan suaminya, ketika belum benar-benar kaya, Sri rajin berjualan pakaian keliling ke beberapa acara pengajian, menjual batik Mas Karyo dari pintu ke pintu, sampai buka kafe di depan rumah. Hasilnya, tidak hanya stabil berjalan, bisnis itu sudah menghasilkan harta baru. Belum lama ini, Sri membeli mobil Grand Livina. Kini, total dia memiliki tiga mobil. (kum)
http://www.jawapos.co.id/index.php?act=detail&id=10341
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar