
Suara Pembaruan, 21 april 2008 -- Vakum dari dunia musik selama empat tahun, Tia Afi yang bernama lengkap Theodora Melani Setyawati kembali membawa harapan baru. Dia muncul dengan album solo perdananya bertajuk Tulus dengan tiga lagu unggulan yang berjudul Tulus, Sorry Mama, dan Semoga.
Dalam Album terbarunya, Tia tetap mempertahankan kelebihan vokal yang kental dengan ciri khas pop ballad. Suara Tia memiliki karakter rocker bercampur pop, sehingga tidak heran bila dalam album terbaru ini Tia menampilkan kompilasi dari berbagai genre musik, seperti R&B, soul, dan pop rock.
Meskipun hadir dengan berbagai genre musik, bagi Tia pop merupakan warna dasar album terbarunya. Kelebihan album perdana Tia terlihat dari campur tangan orang-orang yang ahli di bidang musik. Di antaranya, DJ Sumantri yang berjasa menjadikan alunan musik di album Tia lebih berwarna. DJ Sumatri tidak hanya berperan sebagai arranger, namun juga sebagai vocal director dan recording director.
Lagu-lagu dalam album Tulus di antaranya Harapanku dikemas pop rock, Sorry Mama dikemas dance R&B. Sementara, Ingin Bersamamu merupakan kompilasi dari pop rock dan R&B soul.
Selain DJ Sumantri, Tia juga berkolaborasi dengan Yovie Widianto (lewat lagu Adilkah Ini), Andi Rianto, Dian HP, dan vokalis grup band Vagetoz, Teguh. Tidak hanya berkolaborasi dengan para ahli musik, Tia juga mengekspresikan karyanya dalam sentuhan lagu Sorry Mama yang diciptakan bersama seorang temannya.
"Saya mencoba menunjukkan totalitas jati diri sebagai penyanyi yang kompeten. Saya berusaha keras untuk sampai ke tingkat ini, sehingga tidak salah jika optimistis muncul dalam album solo perdana ini. Saya yakin karya ini bisa diterima di masyarakat karena genre musiknya yang ringan dan cocok di semua umur," papar Tia saat ditemui SP saat peluncuran album Tulus, Selasa (15/4) di Jakarta.
Bagi dara kelahiran Solo, Jawa Tengah, 7 Mei 1982 ini semua lagu dalam album solonya memiliki kisah yang unik dan tidak terlupakan. Seperti dalam lagu Ingin Bersamamu, kemampuan vokal Tia diuji. Dia harus meniti rangkaian nada-nada tinggi yang meliuk-liuk tanpa henti. Bahkan dalam proses rekaman lagu tersebut, Tia harus menghabiskan waktu tujuh jam selama tiga hari berturut-turut.
"Baru kali ini saya melakukan recording sampai berderai air mata. Ditambah lagi DJ Sumatri termasuk orang yang tegas dalam memberikan arahan dan pengajaran. Namun hasilnya, saya justru puas dengan lagu tersebut. Rasanya sempurna," kata Tia.
Selain Ingin Bersamamu, Tulus juga memiliki cerita yang berarti. Saat pertama kali mendengar lagu itu, Tia merasa lagu itu cocok dengan karakter suara dan dirinya. Untungnya, sang pencipta lagu Teguh Vagetoz tidak keberatan untuk berduet dengan Tia menyanyikan lagu tersebut. Meskipun rekaman lagu Tulus dilakukan terpisah, Tia di Jakarta dan Teguh di Sukabumi hasilnya tetap maksimal. Lagu Tulus memilik karakter yang melankolis. Terbukti lagu ini berhasil menembus angka tiga juta untuk ring back tone di beberapa operator seluler.
Perubahan Hidup
Teguh tidak hanya terlibat dalam mencipta lagu Tulus. Dia juga menciptakan lagu berjudul Tak Mungkin Menduakan Cintanya, yang aransemennya dipercayakan pada Tophati. Lagu balada ini dikemas dengan iringan piano dan gitar. Sebagai lagu penutup, Tia menampilkan Biarkan Aku yang tetap mengedepankan ciri khas suara pop baladanya.
Kebanggaan lain dari album terbaru Tia, yakni dua lagu berjudul Semoga dan Harapanku berhasil menjadi soundtrack film layar lebar berjudul May. Film drama bertema cinta romantis ini berlatar belakang tragedi Mei 1998. Film yang rencananya tayang Mei 2008 disutradarai Viva Westy dibintangi Jenny Chang, Yama Carlos, Ria Irawan, Lukman Sardi, Tio Pakusadewo, dan Jajang C Noer.
Anak pertama dari Bambang Sutopo dan Rini Sudarwati ini mengaku banyak mengalami perubahan dalam hidupnya. Kecintaannya pada musik mulai bergeser, sebelumnya Tia identik dengan gaya ABG atau remaja saat bergabung dengan AFI (Akademi Fantasi Indosiar). Kini, penampilan Tia jauh lebih matang, dewasa, dan lebih berkarakter dalam memilih jenis musik.
Perjalanan karier Tia sendiri layaknya seperti perjalanan seekor kupu-kupu yang bermetamorfosis. Tia mulai bernyanyi sejak duduk di bangku kelas satu SD. Ketika melangkah ke kelas VI SD, Tia pun mulai bernyanyi dengan bayaran yang sesuai. Kemampuan Tia bernyanyi akhirnya dituangkan dalam AFI, hingga kini menjadi se- orang penyanyi solo.
"Saya percaya dengan kemampuan diri sendiri. Rasanya tidak asing lagi untuk berkarya di dunia musik. Hanya perlu kesabaran dan keunikan karakter suara untuk bisa bertahan di kancah musik," kata Tia.
Dalam album perdana ini, Tia juga menanggalkan nama AFI dari namanya. Tia kini berdiri sendiri tanpa embel-embel AFI. Baginya tiga tahun menyandang gelar AFI sudah cukup mematangkan karakter suaranya. Tia juga tidak menutup mata pada peran AFI dalam membesarkan namanya. Dia berhasil menyandang juara pertama dalam ajang menyanyi pertama di Indonesia ini. Atas keberhasilannya itu, Tia mengecap pengalaman panggung di tingkat nasional sampai mancanegara. Dia pernah tampil di Brunei Darussalam, Hong Kong, Eropa, dan Amerika Serikat. [EAS/N-4]
Tidak ada komentar:
Posting Komentar