Tayangan Iklan TV Tak Mendidik
Surat ini saya tujukan kepada lembaga yang berwenang membidangi periklanan. Saya perhatikan banyak Iklan yang menggunakan anak sekolah sebagai subyek atau obyek dalam menawarkan produknya.
Tetapi sangat disayangkan ada beberapa iklan yang TIDAK MENDIDIK. Salah satunya Iklan Minuman, Iklan Seluler dan lain-lain. Mohon perhatian kepada yang berwajib agar menertibkan iklan dipublikasikan melalui media TV, Radio, Majalah, Koran dan lain-lain.
Demikian atas perhatiannya diucapkan terima kasih
Umar Munadji, Jln. Margonda Raya, Gang Ciliwung II No. 29, Kemirimuka RT 02/01, DEPOK 16423, Telp 0816760960
http://news.okezone.com/SP/index.php/ReadStory/2008/03/11/220/90633/tayangan-iklan-di-tv
Tayangan TV Kisruh Rumah Tangga Tak Mendidik
Televisi-televisi kita sering-untuk tidak mengatakan selalu-menampilkan selebriti dan para publik figur. Tapi yang ditampilkan selalu saja kisah menghebohkan dan tidak mendidik, seperti cekcok keluarga, kisruh rumah tangga, atau ribut perceraian.
Tayangan serupa itu seakan menjadi bahan sajian utama bagi program intertainment. Selebritas dan publik figur yang ditampilkan adalah mereka yang sedang "bermasalah". Hebatnya, tayangan semacam itu memenuhi layar kaca dari pagi hari sampai pagi buta.
Saya tidak tahu persis berapa program televisi yang menampilkan cekcok publik figur. Yang jelas, tayangan ini, dari sisi pasar, memang amat diminati. Itu bisa dimengerti, terutama karena aktor-aktor utamanya memang cantik-cantik dan seksi-seksi atau ganteng-ganteng.
Tapi, tahukah Anda, tayangan semacam itu lebih banyak tidak mendidiknya. Pembantu saya ternyata salah satu dari sekian banyak penonton yang tak mau ketinggalan dengan tayangan-tayangan artis tersebut. Dia begitu fasih, mahir, dan lancar mengisahkan kelakuan dan gosip para selebritas.
Dan, tak jarang, pengetahuan itu untuk bahan bergosip dengan pembantu tetangga sehingga dia lebih sering berada di luar rumah.
Saya hanya tak bisa membayangkan, bagaimana nasib anak-anak kita? Apa jadinya jika mereka ikut menyaksikan tontotan semacam itu terus-menerus? Tegakah kita membiarkan anak-anak kita menyerap informasi tentang perselingkuhan, cekcok, cerai dan kisruh rumah tangga secara berulang-ulang? Sampai kapan kita membiarkan anak-anak kita dibiasakan dengan kekisruhan dan hal-hal negatif semacam itu?
Kepada para pemilik televisi, bangsa ini memang tengah memasuki era baru: era televisi. Tapi, kenapa kita harus membangun era baru tersebut dengan sajian kisruh rumah tangga? Acara ini memang tidak untuk anak-anak, tapi yakinlah bahwa sajian atau tayangan semacam itu selalu hadir di depan anak-anak, karena para pembantu, ibu-ibu dan para bapaknya telah tersihir para selebriti cantik di layar kaca.
Saya berharap, acara tontotan semacam itu sebaiknya ditayangkan saat tengah malam saja, ketika anak-anak tidur lelah setelah seharian sekolah dan bermain.
Untuk orangtua, cobalah kenali lingkungan kita, jangan-jangan kita telat menyadari tayangan cekcok itu telah merasuk dan menjadi bagian penting dalam rumah tangga dan anak-anak kita.
Kita bisa saja beralasan, televisi sangat bergantung pada pemiliknya. Jika tak suka acara itu, ya dimatikan. Itu benar sekali. Tapi, sihir televisi juga sangat nyata dan televisi di era baru telah menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan kita.
Semoga para guru dan orangtua tidak telat menyadari arti penting tayangan untuk anak-anak kita. Mari, kita didik anak-anak kita dengan kebiasaan hidup damai, tidak glamour, dan hal-hal positif lain.
Rosiani Silawati, Jalan Moderat III No 17, Jagakarsa, Jakarta Selatan (disalin dari Surat Pembaca, Suara Karya, 15/3/2008)
ACARA KONTES TV & JUDI SMS MENGGILA
Republika, Suarapublika, 19/3/2008
Setiap stasiun televisi di Indonesia mempunyai acara kontes-kontesan. Tengok saja Idola Cilik, API, AFI, Indonesian Idol, KDI, dan sebagainya. Sejatinya, tujuan dari acara ini bukan sekedar mencari bibit penyanyi terbaik. Acara ini juga sebagai bentuk bisnis SMS premium. Bisnis ini sangat menggiurkan, lagi pula aman dari jeratan hukum.
Mari kita hitung. Satu kali kirim SMS biayanya Rp 2000. Dari jumlah ini, sekitar 60% untuk penyelenggara SMS Center (Indosat, Telkomsel, dan sebagainya). Sisanya, yang 40%, untuk 'bandar' (penyelenggara) SMS. Siapa saja bisa jadi bandar, asal punya modal untuk sewa server yang terhubung ke internet nonstop 24 jam per hari dan membuat program aplikasinya.
Jika dari satu SMS ini 'bandar' mendapat 40% (artinya sekitar Rp 800), maka jika yang mengirimkan sebanyak 5% saja dari total penduduk Indonesia, bandar ini bisa meraup uang sebanyak Rp 80 milyar. Jika hadiah yang diiming-imingkan adalah rumah senilai 1 milyar, itu artinya bandar hanya perlu menyisihkan 1,25% dari keuntungan yang diraupnya sebagai 'biaya promosi'. Padahal, satu orang biasanya tidak mengirimkan SMS hanya sekali. Masyarakat diminta mengirimkan SMS sebanyak-banyaknya agar jagoannya tidak tersisih, dan 'siapa tahu' mendapat hadiah.
Kata 'siapa tahu' adalah untung-untungan, yang mempertaruhkan pulsa handphone. Pulsa ini dibeli pakai uang. Artinya, kuis SMS adalah judi. Keadaan seperti ini bisa menyesatkan. Kondisi ini sudah sangat menyedihkan, bahkan sangat gawat. Lebih parah daripada zaman Porkas atau SDSB.
Jika dulu orang untuk bisa berjudi harus mendatangi agen, jika dulu zaman jahiliyah orang berjudi dengan anak panah, sekarang orang bisa berjudi hanya dengan beberapa pencetan jari di pesawat handphone.
Rosi Sugiarto, Pondok TK Al Firdaus Jatisari BSB Mijen Semarang
Idola Cilik RCTI

Untuk pengasuh acara Idola Cilik RCTI,
Saya sangat senang dengan acara ini. Saya selalu berusaha untuk menonton acara ini setiap harinya.
Sedikit saran dari saya, tolong dong untuk pemilihan lagu agar lebih diperhatikan. Kalau emang bisa lagunya yang memang untuk anak-anak. Acara inikan ditujukan dan dilakukan untuk anak-anak, jadi lagunyapun yang benar-benar lagu dari anak-anak.
Memang sih lagu anak-anak saat ini sangat kurang,yang terakhir saya ingat adalah album dari alika, itupun hanya sepintas lewat begitu saja, tidak booming seperti album-album group band dan penyanyi dewasa seperti yang kita lihat sekarang ini.
Pengirim: Ina Darmawati, Jl Dg Ramang KM 16 Komplek Balatrans, Makassar
http://news.okezone.com/SP/index.php/ReadStory/2008/03/17/220/92328/idola-cilik-rcti
Sinetron Tidak Mendidik
Mohon perhatian untuk pihak terkait agar lebih menyeleksi sinetron-sinetron yang akan di tayangkan di berbagai media elektronik, karena sekarang ini, hampir seluruh sinetron isi dan jalan ceritanya sangat tidak mendidik, tapi berisikan keculasan, iri, dan kesombongan.
Seperti sinetron MENTARI, sangat tidak mendidik karena yang menonjol di sinetron itu adalah sikap culas, curang, dan keserakahan. Juga di sinetron Otong, banyak ucapan-ucapan yang tidak layak diucap oleh anak-anak. Sekali lagi tolong perhatiannya agar cikal bakal bangsa kita tidak terkontaminasi dengan hal-hal negatif yang ditampilkan oleh sinetron-sinetron tadi.
Roy Budiman, Jl Sukarno-Hatta 198ab, Pangkal Pinang, BABEL
http://news.okezone.com/SP/index.php/ReadStory/2008/03/09/220/90168/sinetron-tidak-mendidik
Acara-Acara di Televisi Tidak Mendidik
Kami mohon kepada pihak terkait misalnya lembaga sensor film khususnya pemerintah yang berwenang untuk memperketat, menyeleksi dan melarang sinetron atau film yang tidak mendidik atau berbau pornografi yang akan ditayangkan kepada masyarakat, saya sangat prihatin dengan acara-acara (program) di televisi saat ini, masa setiap hari masyarakat disuguhi kompetisi bernyanyi terus menerus, coba sekali-sekali buat kompetisi seperti cerdas cermat, kompetisi ilmiah, kompetisi membaca ayat-ayat suci Al-Qur'an, Azan, dan masih banyak lagi yang tujuannya untuk mendidik masyarakat.
Untuk sinetron, saya harapkan para pihak-pihak terkait untuk membuat sinetron bermutu yang lebih mengedepankan kecerdasan anak-anak bangsa, jangan melulu disuguhi keculasan, iri dengki, memperebutkan harta, penganiayaan. Masa anak kecil dan orangtua sudah bisa merencanakan pembunuhan terhadap kakeknya, Anak ABG meninju orang tua dll, seperti disinetron MENTARI, apa gak aneh dan masuk akal hal seperti itu. Apa itu yang dinamakan Mendidik?
Untuk film, cobalah para pihak terkait untuk membuat film yang bermutu, yang mengedepankan kecerdasan anak-anak bangsa contohnya adalah Film tentang Keberhasilan anak-anak muda (Siswa/Mahasiswa) mengejar prestasi demi masa depannya, jangan hanya diisi dengan percintaan anak muda, pergaulan bebas dll. Terima Kasih atas perhatiannya
Afit afrizal, Jl. RA. Kartini No. 05 Rt.01 Tanjung Karang Pusat 35116, Bandar Lampung
sumber: http://news.okezone.com/SP/index.php/ReadStory/2008/03/10/220/90412/acara-acara-di-televisi-tidak-mendidik
Surat Pembaca: Sudahi Saja Dubbing Tayangan TV
Kamis, 13 Maret 2008 08:41 wib
Saya terus terang menyukai acara televisi, namun sekarang ini bagi saya melihat tayangan televisi khususnya yang re-run tayangan luar (bukan lokal) kenapa harus didubbing?
Menurut saya itu sangat membuat tidak nyaman dalam hal ini juga membuat kita jadi lost interest terhadap tayangan tersebut bukan karena saya tidak menyukai bahasa sendiri tetapi menurut saya justru tayangan re-run dari luar negri itu bisa membantu masarakat dalam memahami belajar bahasa inggris baik secara percakapan.
Masyarakat kita dilatih dalam memahami bahasa inggris khusunya bagi orang - orang yang belajar secara otodidak seperti saya. jika ada istilah yang saya tidak mengerti saya tinggal liat textnya, mudahkan?
Tetapi sarana belajar ini sepertinya diputus dan digantikan dengan dubbing yang menurut saya justru menghilangkan inti cerita dari acara tersebut. tapi kenapa menjadi dubbing bukan text seperti dulu entah karena pertimbangan apa?
Jadi saya harapkan kepada para stasiun televisi yang ada di Indonesia ini agar menyudahi dubbing terhadap tayangan impor dari luar negri. ini merupakan saran saya sebagai penikmat pertelevisian di indonesia.
Jerry Isbardi Yuswan, Komp. Imigrasi No. 64, Cengkareng, Jakarta Barat, Jakarta.
http://news.okezone.com/SP/index.php/ReadStory/2008/03/13/220/91246/dubbing-tayangan-televisi

Tidak ada komentar:
Posting Komentar