06 September 2008

Parade Iklan Waktu Sahur (Tayangan Ramadhan)

TRANS TV/ WENDY W / Kompas Images
Acara Saatnya Kita Sahur (SKS)


Budi Suwarna

Apa yang sebenarnya bisa kita tonton dari acara televisi saat waktu sahur? Kuis, sinetron, komedi, atau bujuk rayu iklan yang tiada putusnya?

Program sahur di televisi yang berlangsung sekitar pukul 03.00 hingga 05.00 WIB memang menawarkan berbagai tontonan. Tetapi, kalau kita perhatikan, sebagian acara itu sepenuhnya didedikasikan untuk pemasang iklan, bukan pemirsa di rumah.

Tengoklah acara Saursurprise di RCTI yang menampilkan antara lain Eko Patrio, Parto, Indra Bekti, dan Jojon. Sepanjang acara yang menggabungkan antara kuis dan sketsa komedi tersebut iklan tak pernah putus.

Latar belakang panggung juga seluruhnya ditutup dengan iklan operator seluler. Dengan begitu, pemirsa dipaksa untuk melihat iklan tersebut. Ketika kuis berlangsung, penelepon harus menyebutkan kata kunci yang isinya slogan produk pemasang iklan. Di luar itu masih ada deretan produk yang mengisi ruang iklan di sela acara.

Hal yang sama bisa kita temukan dalam acara Saatnya Kita Sahur (Trans TV) yang didukung Adul, Komeng, dan Olga; Empat Mata Sahur (Trans7) yang didukung Tukul dan Irfan Hakim; serta sinekuis Para Pencari Tuhan (PPT) Jilid 2 (SCTV) yang dibintangi Deddy Mizwar dan grup lawak Bajaj.

Pada PPT Jilid 2, iklan bahkan masuk dalam adegan. Pada episode 5 September, misalnya, ada adegan Pak RT berkali-kali bersendawa. Melihat itu seorang pengurus RT langsung menawarkan jamu tolak angin. Kamera kemudian meng-close up merek jamu tolak angin itu.

Episode sebelumnya ada adegan Azam (Agus Kuncoro) sedang memperbaiki mobil. Di dekat mesin ada sekaleng oli. Kamera kemudian meng-close up merek oli itu. Iklan build in macam ini tampak terlalu vulgar. Berbeda dengan iklan produk mobil di film-film James Bond yang memasukkan produk secara wajar sebagai bagian dari cerita.

Kuis yang didukung sponsor dan diletakkan di sela-sela sinetron semakin menegaskan dominasi iklan pada PPT Jilid 2. Akibat dominannya iklan, PPT Jilid 2 jadi kehilangan gereget. Pesan moral yang disampaikan dalam sinetron itu tenggelam oleh pesan-pesan iklan yang menganjurkan konsumsi sebanyak-banyaknya.

Mendulang iklan

Humas SCTV Budi Darmawan mengatakan, banyaknya iklan pada program sahur tidak bisa dihindari. Bagi stasiun televisi, sahur adalah saat tepat mendulang iklan. "Biasanya pukul 03.00-05.00 disebut jam tayang mati karena jarang iklan. Tetapi, pada bulan puasa jam ini justru jadi jam tayang utama," kata dia.

Untuk program PPT Jilid 2, lanjut Budi, semua ruang iklan sudah terjual. Tarifnya sekitar Rp 18 juta per 30 detik. Sinetron itu diminati pemirsa karena ceritanya menarik dan jenisnya berbeda dari sinetron lain. Untuk minggu pertama, audience share PPT Jilid 2 di atas 20 persen. Artinya, PPT Jilid 2 ditonton 20 persen dari pemirsa yang menonton televisi pada jam tayang itu.

Kepala Departemen Marketing PR Trans TV Hadiansyah mengatakan, program sahur bisa memberi tambahan pemasukan iklan hingga 16 persen dibandingkan dengan bulan-bulan lain meski sangat bergantung pada acara yang ditawarkan.

Hadiansyah bersyukur acara Saatnya Kita Sahur mendapat respons bagus dari penonton. Audience share-nya rata-rata mencapai 25,7 persen pada minggu pertama ini.

Dalam bisnis televisi, eksploitasi acara untuk mendulang iklan merupakan hal wajar. Sayangnya, pengelola televisi kadang tidak mengimbanginya dengan membuat acara lebih kreatif. Acara yang muncul tahun ini nyaris tak ada bedanya dengan tahun lalu.

Kuisnya pun masih saja menganggap pemirsa bodoh. Contohnya, Indra Bekti menyodorkan pertanyaan, "Apa yang sedang dilakukan Jojon?"

Jojon lantas memperagakan gerakan orang sedang menyuap makanan.

"Jawabannya: A. Jojon sedang makan di bulan Ramadhan. B. Jojon sedang memberi makan burung."

Kalau merasa cukup cerdas untuk menjawab pertanyaan macam itu, Anda bisa mencoba ikut kuis tersebut. Lumayan, hadiahnya Rp 1,5 juta.

http://cetak.kompas.com/read/xml/2008/09/07/01401134/parade.iklan.waktu.sahur

Televisi: Ramadhan dan Rezeki Artis

dok CITRA SINEMA / Kompas Images
Grup Bajaj, dari kiri Isa, Melky, dan Aden, melambung pamornya berkat sinetron Para Pencari Tuhan.

Susi Ivvaty

Momen apa saat ini yang bisa "dijual" ke dalam bisnis hiburan? Jawabannya gamblang, Ramadhan. Dari bisnis yang disokong iklan "bejibun" ini, para artis pun menangguk rezeki.

Politik, ekonomi, bahkan agama kini tak lepas dari unsur entertainment. Setidaknya sejak lima tahun lalu, seperti dikatakan Michael J Wolf, kita berada di wilayah yang ia sebut sebagai entertainment zone.

"Locally, globally, internationally, we are living in an entertainment economy." (The Entertainment Economy: How Mega-Media Forces are Transforming Our Lives, 2003).

Mari cermati bagaimana stasiun televisi "beradu" program Ramadhan guna meraih rating dan audience share tinggi. Program sebisa mungkin ditonton oleh sebanyak-banyaknya pemirsa. Cara paling cespleng adalah menayangkan program hiburan. Pesan Ramadhan disampaikan lewat sketsa komedi, kuis yang dibawakan pembawa acara dengan kocak, musik religi, dan sinetron religi. Apakah pesan itu tersampaikan atau tidak, itu soal lain.

Artis, yang adalah barisan terdepan sebuah tontonan, menjadi mesin penggerak industri hiburan. Hampir semua stasiun televisi mempunyai semacam "ikon" Ramadhan. Khususnya saat sahur dan berbuka puasa, layar kaca ditaburi artis, mulai Eko Patrio hingga Titi Kamal, dari Adul dan Komeng sampai Laudya Chyntia Bella.

RCTI, misalnya, menayangkan sinetron Aqsa dan Madina dengan bintang utama Marshanda. SinemArt sebagai rumah produksi sinetron itu sejak empat tahun terakhir memilih Marshanda sebagai "ikon".

Tiga tahun sebelumnya, Marshanda berakting dalam sinetron Anak Cucu Adam. Karena sambutannya luar biasa, SinemArt kembali memasang Marshanda di sinetron Adam dan Hawa (2006) dan Sholeha (2007).

"Tahun ini kami memilih Marshanda lagi karena penggemarnya masih sangat banyak. Jam tayangnya pun pas, pukul 18.00. Pemirsa bisa berbuka puasa sambil menonton Marshanda," tutur Abdul Aziz, Manajer Humas SinemArt. Ia mengimbuhkan, Aqsa dan Madina berulang-ulang memegang rating tertinggi harian untuk kategori sinetron.

Indosiar tahun ini memutar sinetron Tasbih Cinta produksi MD Entertainment dengan pemeran utama Laudya Chyntia Bella. Ada pula sinetron Muslimah produksi Soraya Intercine dengan bintang Titi Kamal.

Untuk bisa meyakinkan pengiklan, stasiun televisi harus mampu menunjukkan keunggulan sebuah program. Para pengiklan biasanya akan menanyakan nama artis pengisi acara, kalau tidak terkenal mereka biasanya menarik diri. Stasiun televisi kemudian akan menunjukkan keunggulan lain.

"Titi Kamal baru pertama kali bermain sinetron religi, tetapi justru itu menjadi daya tarik. Apalagi, skenarionya kuat," kata Corporate Secretary Indosiar Andreas Ambesa.

Yang terjadi, tayangan saat berbuka puasa menjadi seragam, parade sinetron. Tren program buka puasa, ya sinetron, yang mau tak mau harus diikuti. "Kalau kami tiba-tiba memutar acara lain, siapa yang menonton. Iklan tak akan masuk," kata Andreas.

Rezeki artis

Soal rezeki Ramadhan, mari tanyakan Eko Patrio, yang 11 tahun terakhir selalu mengisi acara Ramadhan. Tahun ini ia tampil di empat stasiun televisi, mengisi acara Kolak Ramadan (Trans7), Sahurprise (RCTI), Sambil Buka Yuk (antv), dan Dewa-Dewi Special Ramadan (TPI).

Pada jam tayang sama, pukul lima sore, wajah Eko bisa disaksikan bersamaan di Trans7 dan antv. Khusus di dua stasiun ini, Eko bersama Comando Production miliknya mengurus produksi hingga tayang.

Berapa sebenarnya pendapatan Eko dari Ramadhan? Ia menyebut angka Rp 50 juta-Rp 100 juta per episode (sekali tayang) untuk biaya produksi yang dibayarkan stasiun televisi kepada Comando Production. Dana itu, selain untuk membayar pengisi acara, juga untuk honor kru dan bintang tamu. Adapun untuk penampilannya di RCTI dan TPI, ia dibayar sebagai pemain karena produksi diurus stasiun televisi.

"Ya lumayanlah buat membeli susu anak satu kontainer," sahut Eko.

Grup lawak Bajaj, dengan awak Isa, Melky, dan Aden, mendapat limpahan rezeki Ramadhan yang istimewa, tidak hanya materi, tetapi juga popularitas yang menanjak. Ramadhan tahun lalu Bajaj memulai berkiprah di jagat sinetron lewat Para Pencari Tuhan yang diproduseri aktor kawakan Deddy Mizwar. Tahun ini, mereka kembali muncul dalam Para Pencari Tuhan 2.

Isa menyebut angka Rp 20 juta-Rp 40 juta per episode untuk honor Bajaj. Dibagi tiga? "Karena kami selalu bertiga, honor ya dibagi tiga," sahut Isa. Di luar Ramadhan, Bajaj biasanya mengisi acara off air sebagai pemandu acara.

Nama Irfan Hakim sejak lima tahun lalu akrab dengan acara Ramadhan. Tahun ini ia mengisi Empat Mata Sahur Seru (Trans7), Sambil Buka Yuk (antv), dan memandu kuis (Trans7). "Alhamdulillah, ada saja rezeki," ujarnya.

Titi Kamal untuk pertama kali ambil bagian dalam sinetron religi dan ia gembira menerima tawaran. "Aku baru pertama ini berkerudung di sinetron," ujar Titi yang enggan menyebut honor.

Mengenai honor untuk artis-artis kondang, seperti Nirina dan Marshanda, Abdul Aziz menyebut nominal Rp 40 juta-Rp 75 juta per episode. "Honor itu bukannya mahal, tetapi pantas buat artis tertentu," ujarnya.

Dunia panggung

Bagaimana dengan dunia panggung? Ramadhan ini panggung pun meriah. Berbagai konser dihelat, baik ditayangkan televisi maupun tidak. Hampir semuanya bertemakan religi, seperti konser "The Spirit of Ramadan" yang akan digelar Selasa (9/9).

Grup band seperti GIGI dan Ungu pun laris manis. Baru beberapa hari Ramadhan, Ungu sudah manggung sedikitnya tiga kali, sedangkan GIGI sedang bersiap tur di 16 kota.

Tatang Suherman, promotor gelaran konser "The Spirit of Ramadan", berujar, biaya produksi lebih dari empat miliar rupiah sudah ditutup oleh pihak sponsor karena hasil dari penjualan tiket akan disumbangkan 100 persen ke berbagai lembaga. Bagi Tatang, menyampaikan pesan agama lewat hiburan menjadi terasa cair dan tidak menggurui.

Penyair Taufiq Ismail, yang akan membaca puisi di konser ini, berpendapat, hiburan adalah media yang tepat untuk menyampaikan pesan.

"Kalau puisi saya dimuat koran atau majalah, yang membaca paling-paling ribuan atau puluhan ribu orang. Namun, kalau puisi saya dilagukan, yang mendengar bisa berjuta-juta orang," ujarnya.

http://cetak.kompas.com/read/xml/2008/09/07/01521687/ramadhan.dan.rezeki.artis

05 September 2008

Konser Ramadan - Musik Bersama Dakwah

Ahmad Dhani tampil bersama Dewi-Dewi dalam Konser Ramadan di Parkir Timur Senayan, Jakarta, Kamis (4/9) malam.

[JAKARTA] Stasiun Surya Citra Televisi (SCTV) mengawali bulan suci ini dengan membawa pesan religi lewat musik "Konser Ramadan". Sebagai grup band pembuka, Ungu yang menjadi band paling Ngetop versi pemirsa pada saat ajang SCTV Music Award 2008, langsung mengebrak penonton dengan lagu religi andalannya, Para Pencarimu.

Band yang diusung Pasha (vokal), Makki (bas), Rowman (dram), serta Endah dan Onci (gitar) langsung mendapat sambutan yang meriah dari para penggemarnya. Penonton terlihat sangat antusias dengan gaya panggung yang dibawakan oleh Pasha, dan mereka turut bernyanyi bersama-sama dengan Ungu.

Setelah lagu pertama selesai, penonton meminta lagu berikutnya, sambil berteriak "lagi, lagi...". Maka, tanpa berlama-lama, Ungu pun menyanyikan lagu keduanya Dengan Nafasmu. Lanjut, Ungu pun membawakan lagu lainnya seperti Andai Ku Tahu, Syukur, Sesungguhnya, Cahayamu, dan Hidup Hanya Sementara.

"Mari awali bulan puasa ini, dengan kedamaian melalui Musik Spesial Ramadan SCTV, yang dibawakan oleh band-band ngetop. Ada Ungu, Afgan, Dewa, Gigi, Dewi-Dewi, Mulan Jameela, dan Andra and The Backbone," ujar duet Teungku Wisnu (Aktor Ngetop) dan Andhara Early (Presenter Ngetop) SCTV, di Jakarta, Kamis (4/9) malam, yang memandu Konser Ramadhan dengan kompak dan saling mengisi.

Pengisi acara berikutnya, penyanyi muda Afgan. Ia membawakan lagu religinya Kepadamu Ku Bersujud. Namun, hal itu tidak mendapatkan respons dari para penonton yang memenuhi Parkir Timur Senayan, Jakarta. Penonton terlihat diam saja, ketika Afgan bernyanyi.

"Mungkin karena ini adalah lagu religi yang pertama kali saya bawakan dan belum banyak yang mengetahuinya," tegasnya.

Tetapi, ketika saat membawakan tembang andalannya Terima Kasih Cinta, penonton ikut hanyut dalam nada-nada yang dibawakan oleh Afgan. Lagu tersebut memang sudah akrab di telinga penonton dan sudah merambah ke belantika musik Indonesia.

Tidak kalah dengan penyanyi band lainnya, Dewa 19 turut memanaskan suasana di panggung, dengan membawakan tembang pilihannya Persembahan Dari Surga. Pentolan Dewa 19, Ahmad Dhani dan Once, membius para penonton dengan aksinya. Terlebih saat membawakan lagu Laskar Cinta, perpaduan dari Dewa 19, Dewi-Dewi, dan Mulan Jameela yang membuat aksi mereka semakin menggila dan hidup.

Penonton pun semakin semangat dan berjingkrak-jingkrak kesenangan dengan hiburan lagu yang ditawarkan. Begitu juga dengan tembang lainnya, Kuldesak dan Jika Surga dan Neraka.

Berganti-gantian

Sementara itu, agar suasana menjadi lebih hidup, pihak SCTV membuat urutan band secara acak. Setiap grup band hanya membawakan satu lagu, setelah itu berganti dengan grup band lainnya yang menyanyikan satu lagu juga. Hal itu dilakukan, agar penonton tidak cepat bosan dan membuat rasa penasaran, sehingga mengikuti Konser Ramadan itu sampai selesai.

Di lain pihak, Andra dan The Backbone berusaha menghibur penonton dengan lagu balada ciptaan mereka. Andra Ramadhan sebagai gitaris, Dedi Lisan pada vokal, dan Stevi Item yang menjadi gitaris band itu, menawarkan lagu Sempurna dan Main Hati.

Tidak mau kalah dengan band yang lainnya, kelompok musik pop alternatif Gigi, langsung menghibur para fansnya yang sudah menunggu. Grup band dimotori oleh Armand Maulana (vokal), Dewa Budjana (gitar), Thomas Ramadhan (bas), dan Gusti Hendy (dram) menyanyikan lagu religinya yang penuh pesan, seperti Rinduku Cintaku, Jalan Kebenaran dan terakhir yang menjadi penutup konser Dengan Menyebut Nama Allah. [HDS/U-5]

http://www.suarapembaruan.com/News/2008/09/05/index.html

Republik Mimpi Hadirkan Solusi - Tayang Lagi, Kurangi Humor


Acara parodi politik, Republik Mimpi, tayang lagi. Di seri ketiga kali ini, acara yang sudah pindah tayang di empat stasiun TV itu lebih serius. Terutama, dalam rangka menyambut Pemilu 2009.

Namanya pun ditambah menjadi Republik Mimpi 0914 dan sudah tayang dua episode setiap Kamis malam di antv. Angka 0914 adalah imbauan akan adanya Pemilu 2009 dan menyongsong Pemilu 2014 agar lebih baik.

"Di Pemilu 2009 dan 2014, kami ingin mencari pemimpin muda. Memunculkan figur-figur muda. Kalaupun tidak berhasil di tahun 2009, toh kami sudah berusaha promosikan dan setidaknya akan berdampak pada pemilu berikutnya," kata Effendi Gazali, penasihat komunikasi politik Republik Mimpi sekaligus penggagas acara tersebut, saat dihubungi Jawa Pos kemarin (5/9).

Maka, lanjut Effendi, acaranya kali ini tidak sekadar humor. Jika pada masa awal "mengudara" komposisi humornya masih kental, kali ini menyisakan 25 persen saja. Sisanya adalah solusi. "Parodi yang 25 persen itu hanya untuk menyampaikan sebuah permasalahan secara ringan," tuturnya.

Pengurangan porsi humor itu juga atas pertimbangan semakin banyaknya acara komedi di televisi. Terlebih pada saat Ramadan ini. "Saya pikir kalau sekadar ingin menonton acara humor bisa ke acara lain. Berbahaya juga kalau acara (Republik Mimpi) ini terlalu banyak humornya," jelasnya.

Republik Mimpi 0914 ingin memfasilitasi para calon pemimpin berkualitas yang belum populer. Mereka diberikan kesempatan untuk berbicara dan promosi, baik itu sebagai calon presiden dan wakilnya, calon legislatif, maupun menteri. "Sebab, sekarang siapa yang dikenal publik bergantung kemampuan beriklan di media massa. Kasihan yang tidak mampu beriklan," ungkap Effendi. (gen/tia)
jawa pos [ Sabtu, 06 September 2008 ]

04 September 2008

Kampanye, dari Panggung ke Televisi (Opini Jeffrie Geovanie)

''Iklan politik dapat menyusup ke dalam suasana keakraban di rumah, dengan bersembunyi secara diam-diam di tengah acara yang digemari penonton trelevisi."

Arnold Steinberg (1981:4)

Kita sulit membantah pendapat Steinberg dan karena itu pula, munculnya banyak calon anggota legislatif (caleg) dari kalangan artis meresahkan kader-kader partai tempat sang artis mendaftarkan diri sebagai caleg. Mengapa demikian? Salah satu jawabannya, sang artis kerap muncul di televisi, baik sebagai bintang iklan, pemain sinetron, maupun presenter. Sering muncul di layar kaca identik dengan menjulangnya popularitas.

Seseorang dengan popularitas yang tinggi memang belum tentu menunjukkan kualitas yang tinggi pula karena popularitas tidak ekuivalen dengan kualitas. Namun, bagi seorang caleg, popularitas merupakan modal awal untuk menarik dukungan, terutama dari kalangan pemilih yang kurang kritis.

Karena itu, sangat wajar banyak kalangan -terutama yang punya kemauan keras untuk menjadi presiden misalnya- beriklan secara intensif di televisi. Tujuannya, mendongkrak popularitas. Menurut sejumlah survei, televisi merupakan media yang paling efektif dan efisien untuk mendongkrak popularitas.

Alami Peralihan

Melihat kenyataan itu, saya yakin, pola kampanye politisi akan mengalami peralihan yang signifikan, dari kampanye model lama (dengan mengadakan panggung hiburan di lapangan, reli di jalan-jalan, dan rapat akbar) ke kampanye model baru (beriklan di televisi).

Ada sejumlah kemudahan ketika seseorang beriklan melalui televisi. Pertama, bisa dibuat secara tepat sesuai kemauan. Karena tidak ditayangkan langsung (live), iklan bisa dirancang dan dilakukan proses perekaman yang berulang-ulang hingga menemukan cara dan gaya yang paling bagus.

Dalam iklan di televisi, para politisi bisa terhindar dari kesalahan-kesalahan yang mungkin mudah terjadi saat kampanye di panggung seperti keseleo lidah, tampilan yang kurang fit, dan gesture tubuh yang terkesan norak. Selain itu, dengan beriklan di televisi, wajah yang kurang menarik bisa dipoles dengan make-up memadai.

Kedua, lebih efisien. Meski pengambilan gambarnya (shooting) cuma sekali, iklan bisa ditayangkan berkali-kali dengan beragam variasi. Televisi terus-menerus mengiklankan sang politisi -sesuai kontrak tentunya-, meski sang politisi entah berada di mana. Bahkan pada saat sang politisi tidur nyenyak pun, iklan tetap jalan.

Murah

Ketiga, lebih murah. Banyak kalangan berpendapat, iklan di televisi bisa menghabiskan dana yang sangat besar. Pendapat itu benar tapi kurang tepat. Benar bahwa tarif iklan di televisi relatif mahal. Namun, jika dibandingkan dengan kegiatan kampanye di tengah lapangan dengan menghadirkan ratusan atau bahkan ribuan orang, iklan di televisi jauh lebih murah. Mau bukti? Mari kita hitung.

Tarif iklan di televisi dengan durasi 60 detik, misalnya, dibanderol Rp 40 juta. Jika menurut survei setiap tayangan televisi akan ditonton minimal 40 juta orang, harga per penonton sama dengan satu rupiah. Dengan beriklan di televisi, sang politisi (kandidat) bisa memasuki semua ruang (baik publik maupun privat) yang di situ terdapat televisi. Jika ditambah dengan ongkos produksi iklan Rp 25 juta, biaya keseluruhan ''hanya" Rp 65 juta.

Coba bandingkan, misalnya, dengan mengadakan kampanye di lapangan. Untuk menyelenggarakannya, dibutuhkan panitia yang siap bekerja keras. Untuk kesempurnaan acara, dibutuhkan waktu cukup untuk merancangnya. Jika yang akan hadir ditargetkan empat ribu orang, berapa ongkos yang dikeluarkan untuk transportasi dan konsumsi.

Jika untuk setiap orang dianggarkan Rp 25 ribu, akan ketemu biaya Rp 100.000.000 (Rp 25.000 x Rp 4.000). Itu baru biaya untuk menghadirkan peserta kampanye. Jika ditambah biaya sound system, atribut-atribut kampanye, dan honorarium panatia, bagian keamanan, tukang parkir, dan lain-lain, keseluruhan biaya bisa membengkak hingga Rp 150 juta.

Jika harus dihadirkan pula para artis untuk memeriahkan suasana, betapa besar biaya yang harus dikeluarkan untuk sekali kampanye yang ''hanya" dihadiri empat ribu orang!

Jika setiap kandidat menyadari sepenuhnya dengan kelebihan iklan di televisi, saya yakin, medan kampanye yang selama ini banyak terkonsentrasi di panggung hiburan, podium-podium, dan arak-arakan di jalan-jalan akan beralih ke ruang kantor, ruang tamu, mobil-mobil yang tengah berjalan, kamar-kamar hotel, kamar tidur, bahkan di setiap genggam para pemilih handphone televisi.

Melihat kenyataan demikian, wajar pada hari-hari ini banyak politisi yang beriklan di televisi seperti Soetrisno Bachir, Rizal Mallarangeng, dan Prabowo Subijanto. Calon kepala daerah (calon bupati, wali kota, gubernur) pun mulai intensif beriklan di layar kaca. Kesannya memang wah dan mahal. Padahal, jika dibandingkan dengan kampanye ''live" di panggung hiburan dan di jalan-jalan, ongkosnya jauh lebih murah, lebih efektif. --  * Jeffrie Geovanie , wakil direktur eksekutif Lembaga Pemenangan Pemilu DPP Partai Golkar
jawa pos, 05 September 2008 

Menutup TV Lokal, Langkah yang Panik (Opini Oleh I Wayan Sadwika Salain)

Departemen Komunikasi dan Informasi (Depkominfo) mengeluarkan surat edaran yang isinya akan melakukan penertiban atau ''penutupan" terhadap sejumlah TV lokal yang tidak mempunyai izin. Sekilas, surat edaran tersebut adalah niat baik pemerintah untuk menegakkan hukum penyiaran.

Namun, jika kita lihat secara komprehensif, terutama menyimak apa yang terjadi pada dunia penyiaran kita lima tahun terakhir ini, langkah tersebut bisa dipahami sebagai manifestasi rasa frustrasi atas kegagalan pemerintah menegakkan hukum di bidang penyiaran.

Mengapa? Banyaknya stasiun TV lokal yang tidak berizin dan mengudara saat ini tidak bisa dilihat dari sudut pandang hukum positif semata. Ia harus dilihat sebagai produk sistemik penyiaran yang jauh dari ketegori sukses. Kegagalan sistemik tersebut dipicu kegagalan pemerintah -dan juga masyarakat tentunya- untuk meletakkan pijakan hukum di bidang penyiaran secara adil dan berwibawa. Setidaknya, ada tiga tesis kegagalan hukum penyiaran yang kita alami saat ini.

Pertama, ketidakpastian hukum. ''Perebutan kekuasaan" antara Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) dan Depkominfo atas hak perizinan lembaga siaran menyebabkan ''kevakuman kekuasaan" di bidang penyiaran. Konsekuensi atas kevakuman kekuasaan tersebut ialah ketidakpastian kewenangan perizinan stasiun TV baru.

Celakanya, kevakuman tersebut terjadi dalam kurun yang cukup lama (secara realitas, sejak disahkannya UU No 32/2002 hingga keluarnya keputusan Mahkamah Konstitusi atas judicial review pada medio 2007).

Sebagaimana tertera dalam UU No 32/2002, kewenangan bidang perizinan lembaga TV swasta semula ada di tangan KPI. Namun, pasca dikeluarkannya PP 49-52 tentang Penyiaran, konstelasi hukum penyiaran berubah. Menurut keputusan Mahkamah Konstitusi atas judicial review terhadap PP 49-52/2005 tentang Penyiaran yang diajukan KPI, tidak ada yang salah dalam PP tersebut.

Artinya, kewenangan perizinan lembaga penyiaran ada di tangan Depkominfo sebagaimana ditetapkan PP 49-52/2005 adalah sah. Dengan demikian, Depkominfo adalah institusi yang berwenang atas perizinan lembaga siaran di tanah air.

Tidak Jelas

Meski kewenangan perizinan ada di tangan Depkominfo, secara praktis, masih terjadi ketidakjelasan dan tumpang tindih kewenangan di tingkat daerah mengingat Depkominfo ialah departemen tanpa lembaga di daerah. Oleh karena itu, diperlukan waktu sosialisasi yang tidak gampang di tingkat daerah. Sayang, belum ada greget yang tampak dari Depkominfo untuk menyosialisasikan hal tersebut ke daerah.

Kedua, ketidakberdayaan hukum. Sistem Siaran Berjaringan (SSB) yang dinyatakan sebagai produk final tentang sistem penyiaran di tanah air -yang harus diberlakukan Desember 2009- makin tidak jelas. Janji dan peringatan Depkominfo kepada stasiun TV swasta (nasional) untuk segera melakukan kerja sama siaran dengan TV lokal ternyata mandul.

Faktanya, tidak ada TV swasta yang melakukan upaya ke arah SSB. Malah, TV swasta cenderung melakukan penggabungan kepemilikan untuk memperkuat basis bisnisnya.

Misalnya, ANTV membeli Lativi di bawah bendera OneTV, mengikuti langkah yang dilakukan TransTV dan Media Nusantara Citra Group. Meski langkah TV swasta itu merupakan pengingkaran atas semangat SSB, Depkominfo tidak (bisa) melakukan upaya sebagai respons atas ketidakpatuhan tersebut.

Ketiga, ketidakadilan hukum. Menurut Kepmenhub 76/2003 tentang penggunaan frekuensi radio pita UHF (Ultra High Frequency), masing-masing provinsi mendapatkan "jatah" frekuensi yang jumlahnya beragam, dari 14 frekuensi hingga 20-an frekuensi. Dari jatah yang dimiliki setiap frekuensi, 10 frekuensi sudah digunakan oleh 10 TV swasta yang sekarang mengudara secara sentral dari Jakarta dengan stasiun pemancar yang ada di daerah.

Praktis, alokasi frekuensi yang bisa diperebutkan TV lokal adalah frekuensi yang tidak digunakan stasiun swasta. Padahal, secara umum, frekuensi ''sisa" tersebut adalah frekuensi tidak ''layak jual" karena meng-cover area yang tidak diminati pasar iklan.

Tindakan Koreksi

Dengan tiga kegagalan di atas, pemerintah perlu melakukan tindakan korektif untuk menjamin kepastian hukum di bidang penyiaran dan terlaksananya SSB tahun 2009 nanti. Ada beberapa upaya yang bisa dilakukan pemerintah untuk menjamin proses terlaksananya SSB.

Pertama, menetapkan masa transisi. Kurun waktu pasca judical review hingga SSB diberlakukan adalah masa transisi, termasuk transisi perundangan. Pada masa ini, pembinaan TV lokal sangat penting mengingat mereka akan jadi pelaku utama pada saat SSB dilaksanakan.

Ketiadaan perizinan tidak seharusnya direspons dengan represif berupa penutupan, mengingat pada masa ini adalah masa kompetisi dan pembelajaran bagi TV lokal -secara teknis, manajemen, dan lainnya.

Dengan penutupan TV lokal, dapat dipastikan bahwa SSB akan gagal, akibat tidak terpenuhinya kuota TV lokal yang ''digandeng" TV swasta.

Kedua, meminta komitmen TV swasta untuk melaksanakan proses siaran berjaringan. Tindakan hukum jelas belum bisa dilakukan mengingat tenggat terakhir TV swasta melakukan siaran berjaringan adalah 28 Desember 2009. Namun, pemerintah bisa mengawasi dan mengevaluasi proses yang dilakukan TV swasta ke arah siaran berjaringan.

Tindakan itu bisa dan perlu dilakukan pemerintah untuk menjamin bahwa SSB akan terlaksama paling lambat pada 28 Desember 2009.

Ketiga, melakukan pemutihan atas izin frekuensi TV swasta di tingkat lokal. Sebelum pemerintah melakukan penutupan terhadap TV lokal yang ''ditengarai" tanpa izin, Depkominfo harus ''mengembalikan hak daerah" atas izin frekuensi sebagaimana diatur dalam Kepmenhub 76/2003. Selajutnya, diperebutkan kepemilikannya oleh stasiun TV lokal di daerah tersebut. Langkah ini mutlak dilakukan untuk memberikan tumbuhnya TV lokal yang legal secara hukum.

Namun, langkah itu bukannya tanpa risiko. Pemirsa di daerah akan kehilangan akses menyaksikan siaran televisi swasta. Itu akan menimbulkan persoalan lagi. Oleh karena itu, langkah lain yang bisa ditempuh adalah memberikan kesempatan kepada televisi lokal yang saat ini tidak berizin hingga pertengahan 2009.

Pada masa transisi tersebut, TV swasta masih bisa menggunakan frekuensi yang digunakannya, asalkan mereka melakukan upaya terkait dengan SSB seperti pendahuluan proses kerja sama siaran dengan TV lokal. Bagi TV lokal, masa transisi itu digunakan untuk meningkatkan kualitasnya baik dari sisi sumber daya manusia maupun teknis penyiaran.

Pada akhir masa transisi, jatah frekuensi daerah yang masih digunakan TV swasta harus sudah diputihkan (diserahkan kepemilikannya kepada daerah). Frekuensi tersebut selanjutnya ''diperebutkan" secara sehat oleh TV lokal dengan mempertimbangkan kemajuan yang telah mereka capai selama proses transisi tersebut.

Keempat, me-review kembali Kepmenhub 76/2003 tentang jatah frekuensi UHF. Pemberian jatah frekuensi harus didasarkan pada kebutuhan masyarakat yang dinamis. Dalam koridor ini, dimungkinkan terjadinya jumlah penambahan jatah frekuensi bagi daerah - disesuaikan dengan tingkat kebutuhan daerah setempat.

Keempat langkah tersebut penting dilakukan pemerintah untuk menjamin terlaksananya SSB paling lambat 28 Desember 2009 sebagaimana yang telah ditetapkan. Jika pemerintah telah melaksanakan tugasnya secara adil dan transparan, niscaya semua stakeholder pertelevisian dan masyarakat akan mendukung langkah penegakan hukum seperti penertiban lembaga penyiaran tak berizin.

*. I Wayan Sadwika Salain , ketua Asosiasi Rumah Produksi Bali (ARPB).Jawa Pos,
[ Kamis, 04 September 2008 ]

Kuis di Tayangan Program Ramadan

Berbagai tayangan televisi swasta berlomba membuat program tayangan Ramadan di setiap waktu, mulai waktu buka hingga sahur. Memang, itu hak mereka. Semacam mutualisme, kita menikmati, mereka juga untung.

Sayang, banyak tayangan yang cenderung penuh humor dan lawak. Tayangan tersebut sama sekali tidak mencerminkan sifat suci Ramadan. Bahkan, biasanya, di tengah-tengah acara disisipkan kuis-kuis berhadiah. Padahal, banyak yang mengatakan bahwa kuis semacam itu merupakan perjudian halus.Jika memang demikian, mengapa pemerintah hanya mengobrak-obrak praktik perjudian yang konkret? Sedangkan perjudian kasat mata seperti itu dibiarkan membiak? Jadi, kita tak ubahnya melecehkan bulan suci ini.

Untuk berhati-hati, alangkah baiknya pemerintah meluruskan acara-acara tersebut. Tujuannya meminimalkan jika memang itu sebuah perjudian. Hal tersebut dilakukan demi menjaga kesucian bulan yang penuh berkah ini. Jangan sampai berkah Ramadan yang seharusnya dinikmati semua umat muslim hanya dinikmati sebagian orang. Miqdam Musawwa, MA YPRU Guyangan, Trangkil, Pati [ Jawa Pos, Kamis, 04 September 2008 ]

03 September 2008

Kontroversi Tayangan Televisi - Tokoh Kebanci-bancian Menghilang

Dok TPI - Tayangan �Tanya Aku Aja� dibawakan oleh Ivan Gunawan.

[JAKARTA] Dampak peringatan Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) terhadap sejumlah stasiun televisi yang menayangkan tokoh kebanci-bancian mulai terasa. Sejumlah program dihentikan mendadak, artis banci menghilang dan sebagian tokoh tetap tampil dengan gaya normal..

Dari hasil pantauan SP hingga Rabu (3/9) pagi, memasuki Ramadan, peran kebanci-bancian itu menghilang. Pelawak Tessy dan Olga Saputra pada acara Saatnya Kita Sahur di Trans TV, terlihat mengenakan kostum biasa layaknya seperti laki-laki, tidak mengenakan pakaian perempuan maupun berperan sebagai banci. Begitu juga dengan Ruben Onsu saat membawakan acara Kiss di Indosiar, tidak tampil dengan gaya kebanci-banciannya.

Menurut Manajer Hubungan Masyarakat Indosiar Gufroni Sakaril, mengatakan pihak Indosiar menghargai hasil keputusan KPI, atas kepeduliannya terhadap program acara yang ditayangkan.

"Saat ini, belum ada rencana untuk mengangkat tokoh atau peran banci. Trendnya bisa berbeda-beda. Ada program baru nantinya dan format acara akan diganti serta dibuat lebih menarik lagi. Sekarang program sinetron lebih banyak dan ke depan akan melihat apa yang diingini masyarakat. Reality show punya peluang tersendiri, kmungkinan akan kembali ke format awal, yaitu lebih serius dalam acara," jelas Gufron di Jakarta, Rabu (3/9).

Senada dengan itu, Manajer Humas Trans TV, Hadiansyah Lubis menjelaskan secara bertahap akan menghilangkan unsur kebanci-bancian, karena memerlukan waktu untuk melakukan perubahan. Trans TV juga akan memperbaiki apa yang dianggap kurang maupun tidak boleh oleh KPI. Acara Extravaganza tujuan awalnya adalah murni untuk menghibur masyarakat, tidak ada niat untuk merusak tatanan nilai moral.

"Saat ini sudah ada perubahan pada acara Extravaganza. Dari sisi kostum biasa yang paling banyak disorot, sudah kami ganti dengan pakaian yang layak. Formatnya akan sama, yaitu reality show komedi. Begitu juga dengan naskah (skript) maupun adegan komedi yang pantas untuk ditonton. Hal ini menjadi tantangan bagi kami untuk menghasilkan program acara yang berkualitas tanpa ada unsur kebanci-bancian," ungkapnya.

Namun, di sisi lain, bagi pemain yang memang terlahir dengan gaya kebanci-bancian, pihak Trans TV tidak bisa mencegah hal itu, seperti komedian Aming. Hadiansyah mengungkapkan, hanya kostumnya saja yang bisa dicegah, tetapi gaya bancinya tidak bisa dihilangkan. Pihaknya tetap merespons secara positif teguran dari KPI dan menerima aturan yang berlaku, walaupun ada pro- kontra.

Terkait dengan itu, Koordinator Pemantauan Langsung KPI Pusat, Yazirwan Uyun menuturkan teguran yang diberikan kepada stasiun televisi bertujuan baik. Baru tahap pertama yang diberikan untuk mengingatkan program acara-acara yang menampilkan unsur kebanci-bancian.

"Bila sudah tiga kali tayangan tersebut ditegur dengan menggunakan judul yang sama, tetap tidak perubahan yang berarti, maka sanksinya adalah penghentian sementara," tandasnya.

Tayangan dengan model kebanci-bancian dianggap melanggar peraturan KPI Nomor 03 UU No 32/2002. Hal itu dinilai tidak sejalan dengan Pedoman Perilaku Penyiaran Standar Program Siaran (P3SPS) Tahun 2007.

Bila dilihat sisi psikologis, adegan dari tayangan kebanci-bancian di televisi, dapat ditiru dan mempengaruhi anak-anak yang tidak mengetahui maknanya. Perilaku tersebut dapat menjadi trendsetter. Sementara dari sudut pandang pendidikan, kelainan identitas seksual (gender identity disorder), yang merupakan suatu penyakit yang secara klinis harus ditolong atau diobati.

Berdasarkan pantauan KPI, stasiun televisi yang banyak menayangkan reality show dengan sosok kebanci-bancian dan dinilai terlalu mengeksploitasi sosok tersebut, adalah Indosiar, Trans TV, Trans 7, dan TPI. [HDS/U-5]

http://www.suarapembaruan.com/News/2008/09/03/index.html

01 September 2008

KPPU: Astro Tak Boleh Lari dari DV

[JAKARTA]Demi melindungi pelanggan, Komisi Pengawas Persaingan Usaha (KPPU) memerintahkan All Asia Multimedia Networks, FZ-LLC (AAMN) untuk mempertahankan pasokan konten ke PT Direct Vision, penyelenggara televisi berbayar Astro Indonesia, sebelum ada keputusan hukum terkait kasus kepemilikan saham di perusahaan tersebut.

"Keputusan KPPU ini demi melindungi hak pelanggan atas layanan PT Direct Vision," ujar Komisioner KPPU M Iqbal di Jakarta, Sabtu (30/8).

KPPU pun siap menghadapi upaya hukum keberatan yang akan ditempuh AAMN. "Itu haknya AAMN, dan kami siap kasasi jika mereka memenangi perkara di tingkat pengadilan negeri (PN). Keputusan kami berdasarkan bukti, jadi KPPU siap menghadapi setiap proses yang terjadi," jelas Iqbal.

Dia menambahkan, KPPU hanya fokus melindungi hak konsumen dan menjaga iklim persaingan usaha. "Kalau ada tindakan yang mengakibatkan persaingan tidak sehat, harus dihentikan," kata Iqbal yang merupakan anggota majelis atas kasus Astro-AMMN.

Secara tertulis, Astro Group mengancam akan memutuskan hubungan dengan PT Direct Vision, akhir Agustus 2008. KPPU mengecam tindakan semena-mena dari Astro Group itu. Hal ini terkait kepentingan 140.000 pelanggan dan industri TV berbayar di Indonesia. Selama ini, Astro Malaysia memasok semua konten dan sebagai pemilik satelit keluar dari PT Direct Vision. Bila Astro Malaysia hengkang, berarti 140.000 pelanggan di Indonesia tak bisa menikmati tayangan Astro.

Jumat (29/8), KPPU mengeluarkan beberapa keputusan terkait sepak terjang Astro Malaysia di Indonesia, terutama terkait pasokan konten dan hak siar Liga Inggris dalam industri televisi berbayar. Dalam keputusannya, KPPU menyatakan, ESPN Star Sports (ESS) dan All Asia Multime- dia Networks, FZ-LLC (AAMN) terbukti secara sah dan meyakinkan melanggar Pasal 16 UU No 5 Tahun 1999. Sebaliknya, PT Direct Vision (PTDV) dan Astro All Asia Networks, Plc (AAAN) tidak terbukti melanggar Pasal 16 dan Pasal 19 huruf (a) dan (c) UU No 5 Tahun 1999.

KPPU menyatakan, ESPN dan AAMN bersalah, karena membuat perjanjian eksklusif hak siar Liga Inggris tanpa melalui proses yang kompetitif, sehingga mengakibatkan praktik monopoli dan persaingan usaha tidak sehat.

Proses pemeriksaan perkara itu bergulir sejak 29 Januari hingga 18 Juli 2008. Tim Pemeriksa terdiri atas Anna Maria Tri Anggraini (Ketua) dengan anggota tim M Iqbal dan Tresna P Soemardi.

Usai pembacaan putusan KPPU itu, kuasa hukum AAMN Alexander Lay kecewa atas putusan itu dan akan banding. [ID/M-6]

http://www.suarapembaruan.com/News/2008/09/01/index.html

Sundari Soekotjo, Harapan pada Keroncong

Kecintaan Sundari Soekotjo (43) terhadap keroncong memang tiada duanya. Buktinya, demi menghadiri kegiatan peluncuran Festival Keroncong Internasional atau International Keroncong Festival (IKF) di Kota Solo, Jawa Tengah, akhir pekan lalu, ia rela meninggalkan sejumlah acara di Jakarta.

"Kehadiran saya jauh-jauh dari Jakarta untuk memotivasi komunitas keroncong di Solo. Saya menggelar Konser Keroncong 2008 di Mangkunegaran dalam rangka mengangkat dan melestarikan musik keroncong," ujar Sundari.

Dia berharap kegiatan IKF yang akan berlangsung awal Oktober 2008 berjalan lancar dan menjadi momentum menggugah hati generasi muda untuk menghargai keroncong.

"Mudah-mudahan IKF bisa membuka hati generasi muda untuk melestarikan keroncong. Keroncong sudah sampai ke luar negeri. Ini sungguh luar biasa. Masyarakat luar negeri menghargai musik keroncong, kenapa kita tidak?" paparnya.

Untuk menanamkan keroncong di hati generasi muda, ia mengusulkan agar sesering mungkin keroncong diperdengarkan kepada masyarakat, baik lewat radio maupun televisi.

Kata Sundari, Kota Solo pantas menjadi tuan rumah IKF karena di sini keroncong tetap eksis. (SON)


Narji Cagur,Tidak Membatasi
/
Sebagian orang percaya, ketika istri sedang hamil, suami tak boleh omong sembarangan. Bisa-bisa kualat nantinya. Bagaimana dengan Narji (30), personel grup lawak Cagur, yang istrinya, Widiyanti (22), tengah hamil lima bulan. Apa dia percaya mitos itu? Narji agak bingung menjawabnya.

"Bagaimana, ya? Sebagai pelawak, saya biasa bicara ceplas-ceplos biar orang tertawa," kata Narji ketika ditemui dalam acara konferensi pers program Ramadhan antv, pekan lalu.

Kata Narji, meski istri sedang hamil, dia tidak membatasi lelucon ketika sedang di panggung. Saat menjadi pembawa acara dalam acara itu pun, Narji tetap rajin meledek mitranya, Pepi, Budi Anduk, dan para hadirin.

"Gue, kan, pelawak. Rezeki gue dari lelucon yang gue buat. Tapi, sebelum tampil, gue selalu berkata dalam hati, 'Ya, Allah, saya membuat lelucon bukan untuk menghina orang, tapi sekadar mencari rezeki,'" tambahnya.

Seperti tahun-tahun sebelumnya, Narji mengatakan, tawaran kerja selama Ramadhan tahun ini pun meningkat dibandingkan dengan bulan-bulan sebelumnya. Dia, antara lain, tampil dalam program Ramadhan antv "Cagur Naik Bajaj".

"Mungkin ini rezeki anak (saya)," kata Narji, yang tak bersedia menyebutkan berapa lonjakan pendapatannya selama bulan Ramadhan. (BSW)

http://cetak.kompas.com/namaperistiwa 02 09 2008

31 Agustus 2008

Kebebasan Pers, Telematika, dan Nasionalisme (Opini Eddy Satriya Asdep Telematika dan Utilitas di Menko Perekonomian)

  Senin, 1 September 2008 - Menahan geram, saya terpaksa mengucapkan kata-kata yang tergolong kurang sopan sebagai jawaban getir atas pertanyaan seorang wartawan tentang penayangan rekaman percakapan yang diduga berasal dari kokpit pesawat Adam Air yang jatuh di Majene, awal tahun 2007.

Betapa tidak, rekaman teknis pilot dan kopilot yang semestinya digunakan kalangan sangat terbatas telah diberitakan sedemikian rupa di layar kaca tanpa menghiraukan dampaknya terhadap keluarga para penumpang dan awak pesawat. Ditambah dengan teknik editing dan kombinasi visual kepanikan di kokpit pesawat, tak pelak lagi tayangan itu semakin eyes catching, membuai penonton melupakan aspek kemanusiaan bagi keluarga korban. Apalagi, terhadap kepentingan umum yang lebih luas, seperti dampak ekonomi sanksi larangan terbang oleh Uni Eropa terhadap penerbangan nasional.

Seiring proses demokratisasi yang berjalan cepat, saat ini pers nasional memang sedang menikmati surga kebebasannya. Namun, selayaknya kebebasan itu juga disesuaikan dengan kepatutan dan hukum yang berlaku.

Penyebarluasan isi "black box" Adam Air tersebut menegaskan tingkat profesionalisme pers kita. Yang cukup mengherankan pula kenyataan bahwa hingga saat ini belum terdengar langkah konkret dari pihak kepolisian, Departemen Perhubungan, hingga Komisi Penyiaran Indonesia terhadap insiden ini.

Berlandaskan etika

Pemberitaan yang mengumbar kesedihan berlebihan serta berita tragis, seperti kasus Adam Air, bukan hanya sekali ini terjadi. Sudah sering. Dahulu ketika musibah tsunami melanda Aceh, jelas kita menyaksikan reporter dari sebuah stasiun teve berhasil "menggiring" seorang korban yang kehilangan anak gadis dan belasan anggota keluarga lainnya untuk menyanyikan lagu kesayangan sang anak. Belum puas, reporter tersebut masih membujuk sumber berita itu untuk menyanyikan satu bait lagu lagi yang tentu saja tak mampu dilanjutkan oleh sang ayah.

Di tengah kebebasan pers yang harus dijunjung tinggi, tidak ayal lagi rentetan kupasan kejadian musibah pesawat di Indonesia ini tentu saja patut diduga berkorelasi dengan dijatuhkannya berbagai travel ban oleh beberapa negara, bahkan hingga larangan terbang maskapai penerbangan nasional—tanpa kecuali—ke Benua Eropa.

Menjadi pertanyaan kemudian adalah bagaimana seharusnya media massa dan insan pers menyikapi suatu bahan pemberitaan? Apakah memang sudah tidak ada lagi pertimbangan yang berlandaskan etika, kepatutan, hingga hukum tentang suatu kebenaran isi berita sebelum disebarluaskan?

Alasan pembenaran

Kemajuan dunia telematika atau sekarang dikenal juga dengan teknologi komunikasi informasi) memang menjanjikan berbagai kemudahan dan ketersediaan aplikasi yang sangat canggih. Saking canggihnya, terkadang bisa menggiring orang untuk lupa diri akan waktu, tanggung jawab, hingga kepatutan.

Kemudahan berselancar di internet serta tersedianya berbagai search engine dan portal berita media massa modern dunia di layar komputer, selain mempermudah tugas para wartawan, juga meningkatkan persaingan dalam bisnis berita ini.

Namun, ketatnya tingkat persaingan dan kemampuan berinovasi yang berkaitan erat dengan rating dan jumlah iklan, tentu saja tidak pantas menjadi alasan pembenaran untuk menyebarluaskan berita yang kurang pada tempatnya.

Saya mengalami kejadian cukup menegangkan pada Februari 2001 dalam penerbangan malam Jakarta-Singapura menggunakan Singapore Airlines (SQ). Meski tidak banyak penumpang di baris belakang yang melihat langsung percikan api di mesin sebelah kiri, proses berlangsungnya kebakaran yang dimulai ledakan itu jelas sangat menakutkan.

Jerit histeris seorang ibu kepada suaminya yang panik di depan saya ketika melihat percikan dan bunga-bunga api membuat suasana semakin mencekam, hingga akhirnya terdengar suara pilot yang mengumumkan bahwa mesin yang terbakar tersebut berhasil dipadamkan. Meski pesawat terlambat sekitar 30 menit dari jadwal, saya sendiri mengalami shock berat pertama kali yang membuat saya mematung di Bandara Changi sekitar 20 menit menunggu bagasi. Padahal, sudah lebih dari setengah jam koper yang saya cari-cari itu tergeletak dihadapan saya.

Namun, sungguh menakjubkan. Nyaris tidak ada pemberitaan menghebohkan tentang insiden terbakarnya mesin pesawat SQ itu keesokan harinya, apalagi tayangan berulang-ulang ala televisi di Indonesia.

Pembodohan

Bukan perkara mudah menyikapi kemajuan telematika yang bisa disalahgunakan tanpa mempertimbangkan rasa kemanusiaan di tengah kebebasan pers saat ini. Kemajuan telematika secara psikologis menggiring penggunanya untuk malas berpikir ulang serta melakukan check dan recheck karena semuanya serba mudah dan serba cepat.

Untuk kasus "black box" Adam Air seperti diuraikan di atas, bukan pribadi atau keluarga korban yang dirugikan, melainkan juga ekonomi dan martabat bangsa. Berbagai usaha perbaikan yang dilakukan Garuda Indonesia ataupun pemerintah menjadi sia-sia.

Pasar penumpang domestik dan luar negeri menjadi sasaran empuk berbagai penerbangan asing dengan kualitas layanan tidak selalu jauh lebih baik daripada Garuda atau maskapai penerbangan nasional lainnya.

Jebolnya ruangan penumpang pesawat Qantas yang terpaksa mendarat darurat di Manila serta jatuhnya Spanair sehabis tinggal landas baru-baru ini mengingatkan kita bahwa kecelakaan bisa mengintai dan terjadi di mana pun, baik di Medan, Yogyakarta, Madrid, atau di atas udara Hongkong. Di atas itu semua, nasionalisme sebaiknya tetap menjadi pertimbangan yang tidak boleh dilupakan dalam implementasi berbagai kebijakan.

Telematika dengan berbagai perangkat regulasi yang ada sekarang, termasuk Undang-Undang Penyiaran dan keberadaan Dewan Pers, hendaknya mampu meluruskan berbagai pelanggaran yang berlindung di balik kedok kebebasan pers.

Terkadang, seperti sering dihujat masyarakat, kebebasan itu juga sangat kental dengan pembodohan hingga usaha-usaha penipuan berupa undian melalui telepon atau SMS yang entah kapan akan ditertibkan. Semoga telematika bisa digunakan untuk kemajuan ekonomi dan meningkatkan martabat bangsa, bukan sebaliknya. -Eddy Satriya Asdep Telematika dan Utilitas di Menko Perekonomian. Dapat dihubungi di eddysatriya.wordpress.com

Stasiun Televisi Berlomba Manfaatkan Ramadan

Minggu, 31 Agustus 2008 | 09:27 WIB

TEMPO Interaktif, Jakarta:Kolak mulai menjamur saat Ramadan tiba. Meski kuahnya sama-sama cokelat dan manis, isi kolak beragam. Ada biji salak, ubi, singkong, pisang, atau kolangkaling.

Seperti kolak, acara televisi pun digarap dengan begitu beragam. Tak hanya sinetron beraroma religi, tapi juga talk show Ramadan, kuis, atau lawak pengisi sahur dan berbuka puasa, serta upaya mengubah komedi situasi menjadi alim.

Itulah pernak-pernik setahun sekali di layar gelas. Ada yang bikin terobosan baru, ada juga yang masih pakai konsep lama dengan alasan mempertahankan rating tahun lalu.

Tariklah stasiun televisi ANTV sebagai contoh pertama. Lima tayangan komedi dimunculkan sekaligus. Kelimanya adalah Sambil Buka Yuk (17.00-18.30 WIB), Pasrah (18.30-19.00 WIB), Bajaj Bajuri (19.00-20.00 WIB), Cagur Naik Bajaj (20.00-21.00 WIB), dan Tawa Sutra XL (21.00-22.00 WIB).

Tak cuma komedi, tayangan bercita rasa Islami pun dihadirkan. Misalnya saja Ramadhannya Farhan (16.30-17.00 WIB), Jazirah Nabi (04.00-04.30 WIB), dan lini pemberitaan bertema Ramadan dalam Topik Pagi, Siang, Petang, dan Malam. "ANTV memang sengaja menghadirkan tayangan beragam, biar pemirsa tidak bosan," ujar Reva Deddy Utama, Kepala Produksi ANTV.

Komedi memang sering dianggap sebagai tayangan yang menjual. "Apalagi kalau rating-nya bagus, pasti dipertahankan," ujar Reva. Untuk Ramadan kali ini, Reva mengaku akan membalutnya lebih alim.

Sementara ANTV menyajikan kolak aneka rasa, Trans TV memilih stok lama biar aman. Saatnya Kita Sahur, Suami-suami Takut Istri (SSTI), dan Sketsa Ramadhan masih dijagokan. "Meski stok lama, kemasannya jelas beda," ujar Aris Ananda, Kepala Departemen Perencanaan dan Penjadwalan Trans TV.

Trans memang berjanji membuat sitcom lebih alim. SSTI, misalnya, harus menghilangkan tokoh Mang Dadang, si satpam tukang ngobyek. "Mang Dadang akan diganti dengan Ki Daus," ujar Anjasmara, produser SSTI.

Sementara dua stasiun televisi ini minim opera sabun, SCTV tampil dengan deretan sinetron unggulan. STCV punya Zahra (18.00-19.30 WIB), Annisa (16.30-18.00 WIB), Para Pencari Tuhan 2 (13.00-14.30 WIB), Rinduku CintaMu (22.30-23.30 WIB), dan Kurma (13.00-14.30 WIB). SCTV juga menghadirkan siaran langsung Konser Ramadhan di empat kota. "Inilah tayangan yang paling kondusif menemani pemirsa puasa," ujar Budi Darmawan, Senior Manager Hubungan Masyarakat SCTV.

Pengamat televisi Arswendo Atmowiloto menilai acara televisi hanya mementingkan iklan. "Televisi nggak peduli, asal laku dipasang iklan saja," ujarnya. Menurut dia, televisi tidak peduli apakah tayangan bisa membuat pemirsa jadi lebih khusyuk beribadah atau tidak. "Karena memang televisi cuma mau cari duit saja," ujarnya.

Arswendo mengklaim, tipe acara yang cocok untuk Ramadan adalah dari segi isi tayangannya tetap Islami, meski diputar di luar Ramadan. "Seperti sinetron Kiamat Sudah Dekat dan Kultum-nya Alwi Shihab, yang bisa tetap dinikmati sepanjang bulan," katanya.

AGUSLIA HIDAYAH

http://www.tempointeraktif.com/hg/panggung/2008/08/31/brk,20080831-133015,id.html